
Bab. 61
Tender yang diperjuangkan selama ini akhirnya bisa Zacky dapatkan. Membuat pria itu sering lembur dan pulang agak larut. Bahkan di saat pulang, ia tidak mendapati Sila menyambutnya. Perempuan itu juga selalu mengunci pintu kamarnya di kala Zacky pulang ataupun di saat pria itu belum berangkat kerja.
Semenjak pengakuannya beberapa hari yang lalu, Sila benar-benar tidak mau menemuinya lagi. Perempuan itu marah besar karena seolah dirinya yang menentukan hidup Sila. Tidak berunding atau meminta persetujuan terlebih dulu.
Zacky akui memang caranya salah. Namun inilah yang terbaik untuk mereka. Sebab Sila sendiri juga selalu menolak ketika dirinya mengajak menikah. Ia hanya tidak ingin anaknya nanti mendapat perlakuan berbeda jika lahir tanpa seorang ayah.
"Apa kita harus merayakan ini nanti malam?" tanya Arsya yang baru saja masuk ke ruangan Zacky.
Sementara Zacky seperti biasa. Pria itu bersikap datar, bahkan dia tidak melihat ke arah Arsya. Zacky masih sibuk menatap ke arah layar laptopnya.
"Bos?" panggil Arsya lagi yang kini duduk di kursi depan meja kerja pria itu.
"Atur saja sama tim. Beri mereka bonus karena sudah bekerja keras selama ini," sahut Zacky menanggapi pertanyaan Arsya.
"Nanti malam atau langsung pas pulang kerja?" tanya Arsya memastikan lagi.
"Terserah," jawab Zacky yang tidak mau diribetkan dengan permasalahan seperti ini.
Arsya mengangguk paham. "Oh, ya. Setelah ini akan ada pertemuan dengan Tuan Stev. Dia baru saja sampai. Tapi meminta waktu dua puluh menit untuk dia ketemu sama seseorang," ujar Arsya menyampaikan pesan klien yang berasal dari Singapura tersebut.
Zacky mengangkat wajahnya, menatap ke arah Arsya yang sudah berdiri dan bersiap akan keluar.
"Stev?" ulang Zacky. Ia sepertinya sangat familiar dengan nama itu. Namun lupa pernah bertemu di mana.
Kini Zacky ingat dengan sosok Stev. Ia kemudian mengangguk, menyetujui permintaan kliennya tersebut.
"Terserah saja. Asal nggak benturan sama perayaan tim nanti," ujar Zacky.
Arsya mengiyakan lalu melangkah keluar dari ruangan Zacky. Namun, belum sempat Arsya menutup pintu dengan benar, pria itu terkejut ketika tubuhnya menabrak seseorang dan hampir saja perempuan itu terjatuh kalau saja tangan Arsya tidak cepat menangkap lengannya dan menarik. Hingga perempuan itu tidak sampai terjatuh.
"Maaf," ucap Arsya pada perempuan itu lalu segera membuang muka. Entah mengapa ia menjadi tidak suka melihat wajah perempuan yang ada di hadapannya sekarang ini.
Perempuan itu mengangguk sembari tersenyum.
"Nggak apa-apa," ucapnya. "Mas Zacky ada di dalam?" tanya perempuan dengan pakaian yang cukup memperlihatkan bentuk tubuh rampingnya.
Arsya hanya memberi anggukan kemudian pergi meninggalkan perempuan itu tanpa mengucap satu patah kata pun.
Tusha merasa aneh dengan respon Arsya yang entah mengapa ia rasa berbeda dari sebelumnya. Perempuan itu menggeleng samar, mungkin saja Arsya sedang sibuk. Pikirnya.
"Mas ...." panggil Tusha seraya membuka pintu ruangan Zacky dan melihat tunangannya itu tengah sibuk dengan ponselnya.
Tusha mendekat, lalu memeluk Zacky sebentar. Karena Zacky sedikit menghindari dirinya.
"Kenapa ke sini?" tanya Zacky sedikit kaget dengan kedatangan Tusha. Karena perempuan itu tidak memberi kabar terlebih dulu.
"Kangen," rengek Tusha seraya memegang tangan Zacky. "Beberapa hari ini kamu susah banget dihubungin, Mas. Kamu sibuk banget emang? Mama udah nanyain kapan kita fitting bajunya. Kurang sebulan, loh!" ingat Tusha lagi mengenai hari pernikahan mereka.