
Bab. 91
Ketika Sila akan masuk ke dalam rumahnya setelah mengantar Zacky kembali ke kantor, perempuan itu berbalik badan di kala melihat ada sebuah mobil masuk ke halaman rumah barunya.
Sila menyipitkan matanya, guna melihat dengan jelas siapa yang ada di dalam mobil tersebut. Hingga akhirnya ia mengetahui di kala orang itu keluar dari mobil. Melangkah mendekat ke arahnya seraya membawa sesuatu yang entah Sila sendiri tidak tahu.
"Ngapain lo kesini?" todong Sila langsung di saat sahabatnya itu datang mendekat.
Sesampainya di depan Sila, perempuan itu mendapat sebuah pukulan di lengan.
"Memangnya gue nggak boleh kesini?" tanya orang itu yang tidak lain ialah Yuan. "Dasar, adik ipar laknat emang," semprotnya lagi.
Sila terkekeh lalu mengajak sahabat sekaligus kakak iparnya itu masuk ke dalam rumahnya.
"Tumbenan kesini sendiri nggak make pengawal? Ada apa?" tanya Sila lagi.
Ia sangat tahu betul kebebasan sahabatnya itu benar-benar direnggut oleh suaminya sendiri. Betapa tidak, Rio selalu menempatkan orang-orangnya untuk mengawal Yuan jikalau perempuan itu keluar satu langkah pun dari rumahnya.
Yuan tampak mendesaah, seolah mengeluarkan beban yang dia rasa saat ini.
"Lo liat temen-temen yang udah pada masuk kuliah belum?" tanya Yuan sebelum menjawab pertanyaan Sila.
Sila menggeleng. Karena setelah menikah ia belum sempat membuka media sosialnya. Alasannya cukup simpel. Tidak mau ada rasa iri ketika melihat para teman-temannya melanjutkan sekolah mereka ke universitas. Bersenda gurau dan bahkan nongkrong bareng tiap akhir pekan. Di mana hal itu tidak bisa ia lakukan. Lebih lagi perutnya yang membuncit. Seolah Sila memilih untuk menyembunyikan diri dari publik. Karena juga tidak ada yang tahu statusnya sekarang yang sudah menikah. Sudah jelas mereka akan beranggapan yang negatif mengenai dirinya.
Sangat berbeda dengan Yuan. Sahabatnya itu lebih beruntung darinya. Setidaknya status mereka sudah diketahui banyak orang. Kalaupun pas keluar dan berpapasan dengan teman SMA, Yuan tidak malu. Sebab dia hamil karena ada suami.
"Gue nyesel udah hamil kek begini. Nggak bisa mbolang lagi kayak mereka," adu Yuan yang langsung mendapat geplakan di pahanya dari Sila.
"Mulut lo masih aja nyablak," cibir Sila. "Inget, ada nyawa tuh di perut. Ntar dia denger, di benci dah lo sama anak lo sendiri. Tau rasa deh." lanjutnya lagi.
Yuan meringis. Bersama Sila, ia lebih bisa mengutarakan isi hatinya, meskipun tangan sahabatnya itu masih saja suka melayang seenaknya sendiri.
"Ya lagian tuh kita masih muda buanget, Sil. Lo nggak ngerasa nyesel/ gitu?" tanya Yuan yang justru mendapat lirikan sinis dari Sila.
"Lo lupa asal muasal dia ada di perut gue? Hmm?" gemasnya sendiri pada Yuan.
Lagi dan lagi Yuan meringis. Meminta maaf karena sudah salah bicara.
"Sorry sorry, gue lupa," ujar Yuan. Lalu perempuan itu semakin mendekat ke arah Sila hingga mereka benar-benar dekat.
"Apa?" tanya Sila menatap curiga serta memasang sikap waspada dengan apa yang akan sahabatnya ini tanyakan.
Sementara itu Yuan mendekatkan wajahnya ke arah Sila, semakin membuat Sila curiga.
"Lo udah ini belum sama dia?" tanya Yuan sembari menyatukan ujung jari telunjuknya di depan wajah. Di mana hal itu berhasil membuat wajah Sila memerah.
Melihat reaksi Sila, Yuan tertawa terbahak. Bisa menebak apa yang sudah terjadi.
"Sudahlah, gue udah bisa baca jawaban lo," ujar Yuan. "Daripada diem di rumah kayak gini, mending kita keluar aja. Jalan-jalan ke mall. Atau, kita coba tengokin mereka di kantor. Gimana?" ajak Yuan.