Our Secrets

Our Secrets
Ch. 77. Pingin Gigit



Bab. 77


"Ituloh, Kak. Orang yang sukanya melindungi anak-anak artis yang doang tuanya terkena kasus. Terus sama melindungi anak-anak dari terpidana tajir melintir," jelas Sila mengenai orang yang dia maksud.


Hal itu semakin membuat Zuma mengerutkan kening, meskipun keningnya tidak berkerut. Karena permukaan kulitnya begitu halus dan licin. Sehingga tidak nampak kerutan di sana.


"Lah, terus hubungannya sama lo apa? Lo bukan anak artis dan orang tajir. Jadi jangan harap minta lindungin dia," sahut Zuma berkata dengan raut yang sangat serius.


Sila terdiam, mencerna ucapan Zuma barusan.


"Iya juga ya, Kak. Aku kan nggak punya bekingan. Mana mau dia lindungin aku," ujar Sila membenarkan ucapan Zuma. Membuat Zuma menahan tawanya.


"Iya. Mending lo minta lindungin kakak gue aja. Dia sebenarnya tanggung jawab banget orangnya. Cuma kemarin itu mungkin sedang bimbang aja. Tapi lo siap-siap aja dengan sikap menyebalkan dia kalau udah mengklaim barang sebagai miliknya," ingat Zuma mengenai sikap dan sifat kakak kembarnya.


"Dia kalau punya barang itu pelit banget ya?" tanya Sila memastikan agar tidak salah paham.


"Bener. Pokoknya yang menjadikan milik dia, nggak ada yang boleh nyentuh. Kalau nggak dia ngereog lebih parah dari gue kemarin itu," balas Zuma yang begitu ambigu kalimatnya.


Sila tampak mengingat lagi dengan sikap ayah dari anaknya tersebut.


"Tapi dia kasih kartu warna hitam ke aku loh, Kak. Masa dia pelit, sih?" ujar Sila membuat Zuma tidak lagi menyahut. Yang penting ia sudah memberitahu kakak iparnya itu agar tidak kaget nantinya.


"Ck! Bukan barang yang itu," geram Zuma ingin sekali mencubit pipi kakak iparnya ini.


Sementara Sila sendiri tidak mau pusing dengan apa yang dibahas oleh Zuma. Pokoknya tentang pria itu, untuk saat ini ia tidak mau memikirkan. Batinnya.


Zuma memperhatikan Sila yang sibuk dengan kucing di pangkuannya. Semenjak tiga hari yang lalu perempuan hamil ini memutuskan ingin tinggal di sini untuk sementara, ia tidak melihat adanya keanehan sikap Sila. Entah itu muntah-muntah atau terdengar perempuan ini menginginkan sesuatu. Sangat berbeda dengan apa yang di alami oleh kakak iparnya yang satu lagi, Yuan.


Sila yang tengah mengusap lembut bulu kucing gendhut di pangkuannya, lantas perempuan itu menoleh.


"Pingin apa memangnya, Kak?" Sila malah bertanya balik. Benar-benar membuat Zuma ingin mencubitnya.


"Makanan atau apa gitu kek. Kayak Yuan yang selalu aneh ngidamnya," ujar Zuma dan mendapat gelengan kepala dari Sila.


"Enggak sih sejauh ini. Palingan ya pingin bubur nggak pas waktu abang jualan aja," jawab Sila kemudian ketika mengingat pernah pingin bubur ayam waktu sore menjelang petang.


Zuma mengangguk paham. Ternyata orang hamil itu memang beda-beda ngidamnya.


"Kalau muntah?" tanya Zuma penasaran lagi.


"Enggak sih. Terkadang aja mual kalau kecium bau bawang goreng. Cuma nggak setiap hari gitu," jawab Sila lagi.


Awalnya sih pertanyaan Zuma tampak biasa dan wajar. Namun makin ke sini kok Sila merasa ada sesuatu yang sedang diselidiki wanita itu.


"Memangnya kenapa, Kak? Kamu juga hamil ya?" tebak Sila membuat Zuma yang tengah menikmati camilan keripik singkong pun tersedak dibuat kakaknya.


Lalu Sila dengan sigap memberikan minumannya kepada Zuma.


"Emang kalau kembar itu musti harus sama banget, ya?" tanya Sila yang semakin membuat Zuma tidak mengerti. "Hobi banget tersedak pas aku ajak ngobrol," lanjutnya lagi dengan ekspresi heran sekaligus penasaran.


'Itu karena ucapan lo!' batin Zuma menjerit. Kini ia tahu kenapa Zacky memutuskan menikah tanpa memberitahu siapapun. Termasuk Sila sendiri. 'Pasti hidupnya selama ini juga ngenes banget.' lanjut Zuma terkekeh di dalam hati membayangkan saudara kembarnya itu tersiksa oleh perempuan di sampingnya saat ini.