Our Secrets

Our Secrets
Ch. 82. Bantu Aku



Bab. 82


"Jengkel aja Mi. Masa dia boleh deket sama cewek lain, sedangkan Sila sendiri nggak boleh. Kan ya nyebelin itu namanya Mi," jawab Sila jujur. Karena memang itu yang dia rasa ketika melihat Zacky di papah sama Tusha beberapa hari yang lalu.


Mami Dilla dan Zuma berusaha untuk menahan tawa.


"Itu namanya cemburu, Sila," sahut mami Dilla.


Kemudian wanita paruh baya itu memberi wejangan kepada Sila. Sebelumnya juga bertanya kepada menantunya tersebut apakah memang ingin menjalankan hubungan serius dengan Zacky selain karena ada anak di antara mereka.


Segala macam pertimbangan pun dipikirkan oleh Sila dengan sangat matang. Serta mami Dilla yang terus mengarahkan dan memberitahu apa konsekuensi dari pilihan Sila tersebut.


Mamo Dilla tidak menahan pun melepas. Wanita itu memberi Sila kebebasan untuk memilih, juga menjabarkan segala macam apa yang haris dia hadapi nantinya. Karena ini bukan hanya cuma perkara permasalahan perasaan saja. Lebih lagi hubungan mereka yang memang sudah sah menjadi suami istri secara hukum dan agama.


Selama mendapat wejangan dari mami mertuanya, Sila sama sekali tidak membantah atau menolak perkataan beliau. Perempuan itu terlihat mendengarkan dengan penuh penghayatan. Pun dengan pria yang terus berdiam berdiri di belakang mereka. Hingga mengurungkan niatan pria itu untuk menyapa mereka sebelum obrolan itu selesai.


***


"Kapan kamu mau pindah ke rumah?" tanya Zacky ketika melihat Sila tengah memakai cream malamnya.


Seperti biasa, perempuan itu tetap merawat apa yang sudah dianugerahkan kepada dirinya. Menjaganya agar tetap terlihat menarik serta sehat.


"Rumah? Ini kan udah tinggal di rumah, Om. Mau pindah ke rumah siapa lagi?" tanya Sila yang kembali memanggil Zacky dengan debutan om lagi.


Zacky menghela napas. Pria yang tengah duduk di sofa panjang tersebut menatap Sila penuh intens.


"Bisa rubah panggilannya?" tanya Zacky tidak suka jika dipanggil seperti itu. "Aku belum terlalu tua untuk sebutan seperti itu. Lagi pula kita sudah suami istri. Akan sangat aneh kalau panggilannya begitu," protes Zacky.


Sila yang sudah selesai memakai cream malamnya, lantas perempuan itu beranjak dari sana. Lalu melangkah menuju ranjang, di mana beberapa hari ini menjadi tempat tidurnya. Sedangkan Zacky tidur di sofa panjang itu.


Kali ini perempuan itu tampak serius ketika membahas permasalahan hubungan mereka.


"Nerima gimana? Kalau udah nikah?" tanya Zacky lebih jelas lagi.


Sila mengangguk. "Bukan hanya cuma udah nikah. Masalahnya tuh Om—Mas kan punya pacar, nah, tapi menikahnya sama aku. Hati Mas udah siap emangnya? Ngelepas dia gitu aja? Apa lagi jelas kalian sudah banyak merencanakan masa depan bersama, bukan?" terang Sila.


Bohong jika dirinya tidak kepikiran masalah ini. Ia juga harus mengantisipasi kalau kalau nanti Zacky goyah, sedangkan perasaannya kepada Zacky ia biarkan berkembang. Yang ada malah dirinya dirugikan di sini.


Zacky menarik napas, sebelum menjawab pertanyaan Sila. Namun, ada satu pertanyaan yang membuat Zacky juga kepikiran.


"Kamu sendiri gimana?" Zacky bertanya balik kepada Sila dan mendapat cebikan dari perempuan itu. Serta lemparan bantal yang mengarah kepadanya.


"Ck! Badanku udah kamu buat seperti ini, memangnya aku punya pilihan lain lagi? Apalagi kamu menikahiku diam-diam. Boleh kabur emangnya?" balas Sila dengan nada jengkel. Sudah ada sertifikatnya, tetapi masih dipertanyakan. "Kamu itu loh, udah selesai dengan masalah hatimu belum, Mas! Aku nggak mau ya, kalau aku udah belajar menyukaimu dan memutuskan hidup di sampingmu, kamu malah balik lagi sama mantanmu itu," ujar Sila kemudian.


Membuat Zacky tersenyum tipis. Ia sendiri sudah meyakinkan diri untuk tetap bersama Sila. Meskipun tidak memungkiri kalau belum sepenuhnya bisa menghilangkan nama Tusha. Sebab, semua itu butuh proses.


Zacky mengangkat sebelah alisnya. Lalu pria itu beranjak untuk kemudian melangkah menuju ranjang sambil melepas kaosnya dan melempar secara asal. Membuat Sila mundur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut serta memegang nya dengan sangat erat.


"Ka-kamu mau apa, Mas?" tanya Sila gemetar takut.


Walaupun sudah memutuskan untuk mempertahankan pernikahan ini, dan menjalaninya seperti pasangan pada umumnya. Tetapi jujur saja, kalau suaminya itu meminta ahem ahem malam ini, ia belum siap.


Sedangkan Zacky justru menarik satu sudut bibirnya dan terus merangkak naik ke atas ranjang. Tatapan matanya tidak melepaskan perempuan yang ada di hadapannya saat ini. Di mana perempuan itu tampak begitu takut kepadanya.


"Kalau begitu, bantu aku hapus nama dan jejaknya. Penuhi diriku dengan dirimu," ucap Zacky dengan nada suara berat.


Bahkan tatapan pria itu tampak begitu sayu. Membuat tubuh Sila semakin gemetar takut. Di mana tatapan Zacky sekarang ini sama persis dengan kejadian mereka waktu di mobil beberapa bulan yang lalu.