
Bab. 110
Masih seperti kemarin. Zacky bekerja dari rumah, karena tidak mau meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Meskipun beberapa kali Sila mengatakan Lalau dirinya tidak apa-apa di rumah. Namun tetap saja, rasa khawatir dan juga takut menyelimuti Zacky di setiap detiknya. Apa lagi kaki Sila kerap kali membengkak jika saja wanita itu terlalu lama berdiri. Entah kenapa akhir-akhir ini Sila juga sering kali melakukan hal-hal aneh. Padahal ia sudah melarangnya. Namun memang dasarnya Sila yang sangat susah dibilangin.
Menanam bunga, menyiraminya sendiri, lalu membuat kolam ikan yang jelas-jelas hasilnya tidak jelas sama sekali. Namun wanita itu tetap ingin melakukannya sendiri. Bahkan sampai Zacky terkadang harus menunda rapat demi mengawasi sang istri. Kalau tidak, bisa-bisa dia memanjat pohon jambu air yang ada di belakang rumahnya. Seperti yang pernah terjadi tiga hari yang lalu. Benar-benar sangat pintar sekali membuat Zacky hampir terkena serangan jantung.
"Mas, pingin anggur hijau," ujar Sila yang berjalan menuju ke arah Zacky. Sementara pria itu tengah melakukan meeting secara virtual.
Melihat istrinya masuk ke ruang kerja, Zacky segera menekan tombol mute di laptopnya. Tidak ingin imagenya turun hanya karena perbuatan istrinya sendiri. Apa lagi kalau bukan Sila yang merengek manja meminta sesuatu. Dan ketika ia menolak, wanita itu akan bertingkah. Ingin duduk di depan layar, di mana saat ini Zacky tengah berhadapan dengan beberapa kolega bisnisnya.
"Ada apa, Yaang?" tanya Zacky dengan nada lembut. Menghampiri Sila yang juga melangkah ke arahnya. Mengecup kening lalu pipi dan terakhir di bibir wanita itu. Baru kemudian mengusap perut Sila yang semakin membesar saja setiap harinya.
"Pingin anggur," ulang Sila dengan menatap manja ke arah Zacky.
Zacky mengerutkan keningnya. "Bukannya di kulkas masih banyak stok buah ya, Yaang? Ada anggur juga kan kalau nggak salah ingat," ujar Zacky.
Perasaan baru dua hari yang lalu asisten rumah membeli aneka buah dan di simpan di lemari pendingin. Padahal buah yang beli minggu lalu masih ada. Namun entah kenapa istrinya ini bilang sudah tidak berselera lagi melihat yang lama.
Bukan hanya makanan saja. Tetapi baju yang bahkan belum pernah dipakai pun juga sudah di eliminasi dari lemari pakaian Sila.
Sangat sangat sangat memanjakan dan belum pernah melarang wanita itu sedikit pun. Kecuali jika ingin kembali bernyanyi di cafe milik Jinan. Terlebih lagi pria sialan itu malah mengompori Sila agar mau menyumbangkan suara dan berjanji kalau Sila mau nyanyi lagi di sana, maka cafe itu akan menjadi milik Sila. Dan Sila hampir saja tergiur, kalau saja Zacky tidak bertindak cepat.
"Bukan anggur yang ada di kulkas, Mas," protes Sila. Wajahnya mulai ditekuk. Membuat Zacky semakin was-was.
"Terus yang di mana? Beli lagi yang baru? Hmm?" tawar Zacky yang tampak sangat sabar. Walaupun di dalam hati kerap menggerutu. "Kalau mau beli lagi, nanti dulu ya, Yaang. Mas masih ada rapat. Mungkin sepuluh menit lagi selesai kok," lanjut Zacky berusaha untuk membujuk istrinya.
Sila menggeleng. Lalu melingkarkan tangannya di leher Zacky meskipun wanita itu harus sedikit menjinjit.
"Lalu?" entah kenapa perasaan Zacky benar-benar merasa tidak tenang saat ini. Menunggu jawaban Sila, seperti menunggu pengumuman kelulusan waktu sekolah dulu.
"Tadi pas aku nanem bunga di taman samping, aku liat ada pohon anggur di rumah sebelah. Buahnya banyak buanget Mas. Mereka melambai lambai ke aku, minta dipetik sama aku katanya," ucap Sila dengan nada begitu pelan dan lembut.
"Ya salaaaammm ....!" desah Zacky secara spontan sembari mengusap wajahnya.
Eh eh eh... ini pada nggak ada yang mau mampir ke ceritanya Ryu dan Ara a? anaknya Yuan dan Rio