Our Secrets

Our Secrets
Ch. 38. Tidak Bisa Mengelak



Bab. 38


"Kenapa nggak bilang sama aku?" tanya Zacky dengan rahang mengeras. "Kamu tau, dengan sikapmu seperti ini, sama saja membuatku seperti pria brengs3k. Yang mengabaikan tanggung jawabnya."


Sila meremas ujung kebaya. Tidak tahu lagi harus memakai alasan apa. Yang jelas, ia harus segera menjauh dari pria yang menurutnya sangat berbahaya untuk dirinya.


Namun, ia juga tidak bisa menghindar terus menerus. Di tambah lagi memang di antara meraka ada sebuah janin yang tetap akan mengikat mereka sebagai orang tua si jabang bayi tersebut.


Sila menarik napas panjang. Karena sudah terlanjur ketahuan, ia juga sempat melihat pria ini bersama dengan seorang wanita entah siapa. Sila tidak peduli. Karena memang bukan urusan dirinya.


"Terus maunya Om apa?" tanya Sila yang tampak lebih tenang.


Dan sikap Sila yang begitu tenang ini membuat Zacky kagum. Di usia gadis itu yang masih terbilang sangat muda, lebih lagi kondisinya saat ini tengah hamil dengan pria asing seperti dirinya, namun Sila tetap bisa menjaga kewarasan diri. Sungguh hal yang patut di banggakan. Bisa membawa diri dan mengolah emosi. Tentu saja tidak semua orang bisa melakukannya. Termasuk dirinya.


Karena sempat Zacky menghabiskan malam dengan meminum minuman beralkohol tingkat tinggi. Demi bisa melupakan masalahnya dan berharap jika di keesokan hari ia sadar, semua ini hanya mimpi belaka. Walaupun ternyata itu bukan sama sekali.


"Yakin mau bicara di sini?" tanya Zacky seraya menatap ke arah sekitar.


Sila merasa horor sendiri jika terlihat berdua seperti ini dengan om setengah mateng di dekatnya. Yang ada mereka akan menyebar gosip yang iya-iya. Meskipun kenyataannya memang benar.


"Pindah," ujar Sila mendorong tubuh Zacky lalu berjalan lebih dulu menuju sebuah cafe yang ada di sebelah bangunan gedung sekolah.


Sesampainya di cafe, Sila memilih tempat paling pojok. Karena di sana tidak terlalu terlihat dari pintu masuk cafe dan sedikit tempat. Sehingga tidak akan ada temannya nanti yang melihat dirinya sedang berduaan dengan om om.


"Mau pesan apa?" tanya Zacky. "Belum selesai kan tadi makannya?" ingat pria itu ketika melihat piring Sila yang masih penuh akan makanan.


"Nggak perlu, Om. Kita di sini hanya ngobrol, tidak untuk makan."


Seperti biasa, Sila menolak tawaran Zacky dengan nada cuek.


Zacky sendiri sudah terbiasa mendapat penolakan dari gadis ini. Lantas dia memanggil pegawai cafe dan memesan apa saja yang menurutnya diterima oleh gadis itu.


"Om, jangan membuang waktu saya. Saya harus segera pulang," ujar Sila menahan geram di saat pria itu malah memesan banyak makanan.


Dan dengan sikap datarnya, Zacky menggulung lengan kemejanya ke atas hingga batas siku. Lalu melipatnya di depan dada.


"Sekalian temani saya makan," ucap Zacky yang mulai bisa bersikap bagaimana dalam menghadapi Sila. Karena sepertinya gadis itu tidak bisa jika didesak terus menerus.


"Ck!" decak Sila malas menanggapi pria yang selalu mengejar dirinya. "Padahal tinggal cuek dan sok nggak kenal aja. Kenapa ribet banget sih jadi orang." gumamnya yang tentu saja didengar jelas oleh Zacky.