Our Secrets

Our Secrets
Ch. 73. Anak Kecil



Bab. 73


Flashback On.


Setelah keluar dari kamar mandi, Zacky melihat Sila yang masih nyenyak dalam tidurnya. Namun yang lebih membuat Zacky tidak bisa mengabaikan perempuan itu ialah posisi tidurnya yang kurang nyaman.


Tidak mau terjadi sesuatu kepada calon anaknya hanya karena kecerobohan Sila, akhirnya Zacky memutuskan untuk mengangkat Sila dan memindahkan perempuan itu ke atas ranjang. Lebih luas dan bisa membuat pergerakan Sila lebih bebas lagi. Tidak khawatir jikalau nanti perempuan itu bergerak, dia akan jatuh dari sofa.


Namun, ketika Zacky akan bangkit setelah merebahkan dan menyelimuti Sila, tangannya ditahan. Di peluk penuh erat bahkan sampai menyentuh sesuatu benda yang terasa lembut nan kenyal. Ingin menarik, tetapi semakin di peluk erat oleh Sila.


"Om ... dedeknya mulai ngereok lagi," gumam Sila dengan mata tertutup dan suara yang tak jelas. Meski begitu, tangannya terus membawa tangan Zacky hingga ke perutnya sendiri. Membuat Zacky paham maksud dari gumaman Sila yang tidak jelas.


Pria setengah mateng itu pun menuruti. Duduk di pinggiran ranjang, lalu mengusap lembut perut Sila yang membuncit.


Diam-diam Zacky tersenyum. Entah sadar atau tidak, ia ingin segera cepat-cepat bertemu dengan calon anaknya yang masih berada di dalam kandungan Sila. Rasa penasaran akan seperti apa dia nanti, apa jenis kelaminnya, membuat Zacky menanti hari itu tiba.


Terus mengusap hingga Sila tampak kembali terlelap. Zacky memutuskan untuk menarik tangan nya. Akan tetapi rupanya perempuan itu seolah tidak mengizinkan dirinya untuk istirahat malam ini.


Betapa tidak, Sila menarik tangannya kembali dan menaruhnya di atas perut. Di tambah lagi perempuan itu membuka baju di bagian perut lalu menempelkan telapak tangan Zacky di sana dan menuntunnya untuk bergerak memutar. Tetap, Sila dalam keadaan mata terpejam.


"Jangan berhenti. Ngambek dia," gumam Sila yang malah mencari posisi ternyamannya.


Sementara Zacky yang tubuhnya sedikit mencondong ke arah Sila pun harus menahan beban. Otot pinggangnya terasa tertarik jika dalam posisi seperti ini. Lebih lagi permukaan kulit perut Sila terpampang nyata di depan matanya. Putih mulus bersih. Itulah deskripsi untuk menggambarkan pemandangan di hadapannya saat ini. Membuat Zacky menelan salivanya sedikit susah.


"Aku ngantuk, Sila," ujar Zacky yang memang saat ini jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas.


Zacky mencoba untuk bertahan dalam posisi itu. Namun sepertinya tubuhnya tidak bisa bertahan lebih lama dari ini. Hingga kemudian pria itu memutuskan untuk berbaring di sebelah Sila. Agar lebih nyamannya lagi, Zacky menaruh satu tangannya di bawah kepala Sila, sedangkan satu lagi di perut.


"Jangan marah besok. Karena kamu yang minta aku untuk tidur di sini," ujar Zacky yang kemudian menutup matanya. Perlahan menyusul Sila menjelajahi alam mimpi.


Flashback off.


"Aakkhhh!" pekik Sila seraya menggelengkan kepalanya juga menutup wajahnya, ketika samar-samar ia mengingat kejadian semalam.


"Bisa-bisanya gue yang nyuruh Om sugar buat nyentuh perut gue secara langsung. Lo tolol apa bego' sih, Sil!" rutuk Sila kemudian dengan mada lirih.


Malu sekali jika mengingat kejadian semalam.


"Nggak. Lo tetep nggak ingat. Iya, lo pura-pura nggak ingat aja," gumam Sila selanjutnya. Mendoktrin dirinya sendiri untuk tidak mengingat kejadian semalam.


Mumpung Zacky masih berada di kamar mandi, Sila cepat-cepat turun dari atas tempat tidur dan segera keluar dari kamar pria itu. Sebelum ia ketahuan kalau sudah ingat.


Sementara itu di dalam kamar mandi, Zacky menggelengkan kepala di kala melihat tingkah Sila yang panik, lalu mencoba menenangkan dirinya lagi.


Tentu saja Zacky bisa melihat dengan jelas keadaan di kamarnya. Karena dinding kamar mandinya terbuat dari kaca hitam tebal. Di mana kaca itu tembus pandang jika dilihat dari dalam. Namun tidak akan tembus pandang jika dilihat dari arah luar.


"Dasar, anak kecil," gumam Zacky namun dengan sudut bibir yang terangkat ke atas.