Our Secrets

Our Secrets
Ch. 96. Pembalasan Untuk Pelakor



Bab. 96


"Sayang ... aku bisa jelasin," ucap Zacky tanpa merespon ucapan Tusha sama sekali. Bahkan pria itu menghindari sentuhan dari Tusha dan lebih memilih menghampiri istrinya.


Sedangkan Sila mengintip ke arah Tusha, wanita cantik yang ia tahu sebagai mantan tunangan suaminya. Bibirnya tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang sangat tipis di saat melihat kekesalan yang ada pada wajah wanita cantik dengan pakaian yang kurang pantas menurutnya jika dipakai di area kantor seperti sekarang.


"Sayang ...." panggil Zacky lagi karena Sila belum merespon dirinya sama sekali. "Aku bisa jela—"


"Daddy ...." panggil Sila dengan nada yang begitu manja serta mengedipkan matanya beberapa kali dengan bibir ditekuk ke bawah. "Dedeknya ngerjain Mimi," adunya yang sangat jelas sekali jika Sila tengah berbohong.


"Hah?"


Bukan cuma Zacky saja yang tercengang dengan alasan Sola barusan. Tetapi Arsya dan juga Jinan. Meskipun Arsya sudah terbiasa melihat nona mudanya seperti ini. Sedangkan Yuan hanya bisa menahan senyumannya sembari berbisik kepada Rio untuk tidak bersuara.


"Maksudnya, Yaang?" tanya Zacky sembari menahan tubuh Sila yang terasa lemas. Hingga Zacky terlihat sedang memeluk Sila dengan penuh kasih sayang.


Sila mengusap perutnya. Perempuan itu tengah memamerkan hasil dari hubungannya dengan Zacky.


"Masa siang-siang minta Wedang Ronde yang ada di Malang itu loh, Mas. Apa ada yang jual di sini?. Tapi ini dedek nya pingin banget. Makanya, aku minta anter Yuan kesini. Pingin di beliin sama Daddy-nya. Gimana dong, Mas?," ungkap Sila dengan nada semenggelikan mungkin. Serta ekspresi yang sedih.


Meski bersikap manja kepada Zacky, namun matanya tidak lepas sedikit pun dari Tusha. Ia puas melihat ekspresi Tusha yang semakin kesal. Walaupun dirinya masuk dengan cara yang salah, tetapi Sila ingin menunjukkan kepemilikannya. Bahwa pria ini sekarang miliknya dan juga milik anak mereka.


Zacky tampak panik. Jarang-jarang Sila menginginkan sesuatu seperti ini. Di tambah lagi sikap perempuan itu yang tampak begitu menggemaskan jika sedang memohon. Kemudian pria itu menatap ke arah Arsya. Di mana yang tengah dia tatap justru memutar tubuhnya dan berlari menjauh dari sana. Dari pada nanti dirinya yang akan kena getahnya.


'Lagian kenapa malah nyebutnya itu sih. Mana bisa beli di Malang langsung terus bawa pulang ke sini. Yang ada jadi es Ronde.' rutuk Arsya pada nona mudanya. Tentu saja Arsya hanya berani berkata di dalam hatinya saja.


"Daddy nggak mau ya?" tanya Sila dengan wajah memelas.


Dengan sigap Zacky menggeleng lalu mengusap perut Sila yang buncit. "Enggak, Yaang. Bukannya nggak mau. Masa Mas harus terbang ke Malang? Keburu nggak enak dong sampai sini," jawab Zacky mencoba memberi pengertian.


Tidak hanya mengusap perut Sila saja. Zacky juga terlihat beberapa kali menenangkan perempuan yang tengah merajuk.


"Dia emang begini?" tanya Jinan. Seolah tidak mengenali Sila.


Yuan mengangguk. "Dia kek gitu kalau pas dipaksa sama situasi aja. Aslinya ya seperti yang Kakak kenal selama ini." ungkap Yuan.


Jinan mengangguk paham dengan ucapan Yuan. "Ya udah, mending kita keluar aja. Biar mereka selesaikan masalah mereka sendiri." ajak Jinan.


Yuan setuju dan pergi meninggalkan ruangan adik iparnya tersebut. Lalu menuju ke lobby dan menunggu suaminya menjemput dirinya di sana.


Sementara itu, tampak seorang wanita yang tengah menatap ke arah Sila dan Zacky, penuh dengan kekesalan serta rasa benci kepada Sila. Tangannya mengepal erat di bawah sana.


"Mas ... acara kita nanti ma—"


"Loh, ada Kak Tusha?" tanya Sila sedikit terkejut. Seolah baru melihat ada Tusha di sana. Lalu menoleh ke arah Zacky. "Aku ganggu kalian meeting, ya?" tanya Sila lagi. Kali ini ekspresinya dibuat merasa bersalah.


"Iya, kita se—"


"Enggak kok, Yaang!" potong Zacky cepat. "Aku meeting nya sama Jinan bentar lagi." imbuhnya dengan kalimat penuh tekanan. "Kamu tau jadwalku satu bulan mendatang, kan?" ingat Zacky lagi.


Tusha mendelik. Tidak percaya kalau Zacky bakalan secepat ini berpaling darinya. Bahkan pria itu sama sekali tidak menatap ke arahnya. Serta juga tidak memberinya waktu untuk menjawab.


"Yakin, aku nggak gangguin kalian kerja?" ulang Sila memastikan lagi dengan wajah bersalahnya. "Tapi kalaupun sedang kerja, aku tetep gangguin kamu, Mas. Ini dedeknya udah pingin banget minum Wedang Ronde," ujar Sila sembari menempelkan kepalanya di dada Zacky.


Tidak hanya itu, ibu hamil itu juga menyentuh dada Zacky dengan ujung jari telunjuknya, lalu digerakkan memutar. Membuat Zacky mendesis, menahan sesuatu dengan kepala yang menengadah ke atas. Juga menggigit bibir bawahnya ketika entah sengaja atau tidak, jari Sila menyentuh chocochip nya.


"I-iya, Yaang," lirih Zacky.


Sila menegakkan kepalanya lagi, menatap ke Tusha dengan wajah bersalahnya. "Maaf ya, Kak Tusha. Mas Zacky-nya aku ambil dulu. Dedek di dalam perut udah cubitin aku terus kalau nggak segera dituruti sama Daddy. Biasa Kak, dia keknya muanja buanget sama Daddy-nya," ujar Sila pada Tusha lalu menatap suaminya penuh maksud.