
Bab. 111
"Astagah, Sayaaaangg ... kita beli saja, ya?" tawar Zacky mencoba untuk membujuk istrinya agar membeli yang baru saja.
Sila menggeleng. "Nggak mau. Aku maunya yang itu, Mas," tunjuk Sila ke arah segerombol anggur yang terlihat begitu menggoda dirinya saat ini.
Zacky menghembuskan napas berat. Bisa-bisanya ia disuruh mencuri buah anggur milik tetangga mereka dan kebetulan pohon anggur itu melewati batas pager rumah mereka.
"Ini namanya mencuri, Yaang ... kalau kita asal ambil gitu aja," ingat Zacky. Tetap dengan nada yang lembut.
"Ya nggak masuk dalam kategori mencuri dong, Mas. Salah sendiri pohonnya main ke sini. Ngelewatin batas pager kita. Ya berarti ini milik kita dong. Kan ada di atas tanah kita buahnya, Mas," sahut Sila tidak terima jika dikata mencuri.
Karena memang benar-benar buah itu ada di atas tanahnya. Meskipun akarnya berada di rumah tetangganya.
Lagi dan lagi Zacky dibuat menggelengkan kepala. Ia sampai rela menghentikan rapat dan akan disambung lagi nanti sore demi menuruti kemauan istrinya. Eh, dari sini malah disuruh mencuri. Belum lagi mendengar cara pemikiran dari istrinya yang memang sangat unik. Bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu. Sama saja menghalalkan berbagai cara demi halal. Eh.
"Ya nggak bisa gitu dong, Yaang. Kita tetap harus ijin dulu sama yang punya pohon," jelas Zacky.
Mendengar hal tersebut, wajah Sila langsung merengut kesal. Hanya beberapa anggur saja masa tidak dikasih. Batinnya.
"Ck! Katanya aja sayang. Mau kasih aku apa aja. Rela berkorban demi apapun itu, asal aku senang. Padahal ini aku cuma minta anggur, loh. Belum saham," gumam Sila yang kemudian beranjak dari sana dan melangkah masuk ke dalam rumah. "Padahal yang mau bukan aku. Tapi mereka," gumam Sila lagi sembari mengusap perutnya. "Anak-anaknya, Mimi. Sabar dulu, ya. Kalian tidur lagi aja. Jangan bangun dulu. Soalnya Daddy pelit. Nggak mau kasih kalian anggurnya," provokasi Sila kepada calon anak-anak mereka yang masih berada di dalam kandungan.
Zacky ingin berteriak sebenarnya. Namun lagi dan lagi pria itu selalu mendoktrin dirinya kalau apa yang ia hadapi saat ini merupakan karma nya yang sudah membuat anak orang menjadi seorang ibu dan istri di usia yang sangat muda. Begitulah Zacky dalam menenangkan emosi yang mulai naik.
Tidak ada pilihan lain dan memang benar apa yang dikatakan oleh kakaknya, jika wanita itu merupakan mahkluk yang sangat pintar sekali membaca keburukan seseorang. Tanpa mau membaca keburukannya sendiri.
"Sayang ...." panggil Zacky sembari mengikuti Sila masuk ke dalam rumahnya. "Ini, sudah Mas ambilin. Mau dimakan sekarang? Mas cuci dulu, ya?" ujar Zacky. Memperlihatkan anggur di tangannya, hingga membuat Sila tersenyum senang.
Matanya tampak berbinar melihat segerombol anggur tangan Zacky.
"Mas yang metik sendiri?" tanya Sila memastikan ulang.
"Kalau bukan Mas, memangnya siapa lagi, Yaang? Nggak mungkin kan Bi Inah?" jengah Zacky.
Sila mengangguk. "Aku percaya kok, Mas. Makasih Ayaaaanggg!" seru Sila kemudian. Lalu wanita itu memeluk Zacky. Hanya sebentar, karena berada tidak nyaman. "Nggak enak banget deh dibuat meluk, Mas," ujarnya seraya menatap ke bawah. Di mana mereka terhalangi oleh perut Sila yang besar.
Zacky terkekeh melihat sikap Sila. Mengusap sebentar pipi mulus wanita itu, lalu mengecupnya singkat. Perasaannya terasa tenang dan tenteram di saat melihat Sila yang senang seperti ini. Terasa begitu damai, walaupun hanya sesaat.
"Ya udah, Mas cuci dulu," pamit Zacky.
"Buat apa, Mas?" tanya Sila bingung. Menghentikan langkah Zacky yang ingin ke dapur.
"Buat kamu makan, Yaang," balas Zacky.
"Mereka udah tidur, Mas. Udah nggak mau makan anggur itu lagi," ungkap Sila begitu menjengkelkan hari Zacky.
'#%#-$%@%#&' begitulah umpatan Zacky yang tak jelas di dalam hati. Bahkan sangking tidak jelasnya, dia sendiri juga tidak tahu mengumpat apa.