
Bab. 57
"Sendirian aja?" tanya seseorang yang tiba-tiba saja mendekat ke arah Sila.
Sila melirik lalu menganggukkan kepalanya. Tanpa berniat menjawab pertanyaan pria itu.
Pria itu tersenyum namun tetap tidak segera pergi dari dekat Sila. Malah mensejajari langkah Sila yang tidak bisa dibilang joging. Lebih tepatnya perempuan itu tengah jalan santai. Bahkan beberapa kali dilewati oleh orang yang juga berolahraga di sana.
"Kamu tinggal di sekitar sini?" tanya pria itu lagi. Seolah tidak menyerah mengajak bicara perempuan manis yang tengah berolahraga namun terlihat seperti tidak berniat untuk melakukannya.
"Iya," jawab Sila pada akhirnya. Susah memang jika mengunci mulutnya terlalu lama.
"Tinggal di mana? Aku di apartemen yang itu," tunjuk pria itu begitu antusias ke arah apartemen yang dia tinggali.
Sila mengikuti arah yang ditunjuk dan betapa kaget nya dia kalau mereka sebenarnya tinggal di atap yang sama. Mungkin hanya berbeda lantai saja.
"Gue juga di situ. Lantai berapa?" tanya Sila balik. Lumayan punya tetangga. Pikirnya.
Bisa lah nanti kalau bosan di apartemennya sendiri, ngajak ngobrol tetangganya ini. Jika dilihat dari penampilan serta wajahnya, tampaknya pria ini asik untuk diajak bicara dan membunuh rasa kesepiannya selama ini.
"Di lantai empat belas. Kamu?"
Pria itu juga terkejut di saat Sila mengatakan kalau dia tinggal di sana.
"Di lantai li ...."
Sila mengurungkan ucapannya di kala mengingat ucapan Zacky beberapa waktu yang lalu. Di mana om sugarnya itu melarang dirinya untuk mengatakan tempat tinggalnya sekarang. Terutama teman-teman Sila yang berada di cafe. Mereka masih membutuhkan suara Sila untuk mengisi cafe tempat Sila bekerja dulu.
"Yah, pokoknya di bangunan yang sama kayak lo lah," jawab Sila memilih untuk tidak mengatakannya lebih jelas.
Pria itu tersenyum mengerti. Memaklumi sikap Sila yang tidak bisa terlalu terbuka seperti dirinya. Lalu pria itu mengulurkan tangannya ke arah Sila dan berhenti sejenak. Membuat Sila menatapnya bingung.
Sila menatapnya tangan pria yang bernama Lucas. Awalnya agak ragu, namun melihat senyum pria itu yang sepertinya orang baik membuat Sila memutuskan untuk menyambut uluran tangan tersebut.
"Sila," ucap Sila yang kemudian memperkenalkan diri.
Mereka pun melanjutkan langkah sambil Lucas bercerita apa saja yang membuat Sila tidak berhenti tertawa.
Sangking asiknya, Sila lupa kalau dirinya ke sini dengan seseorang. Di mana orang itu kini menatap ke arahnya dengan tatapan sangat mematikan.
Hingga kemudian ia merasakan sebuah sentuhan di bahunya dari samping. Sila sempat tersentak kaget, karena ia pikir Lucas yang melakukannya. Namun pria itu berada di posisi yang berbeda.
"Om?" Sila lebih terkejut lagi kalau yang melakukan hal itu ialah om sugarnya. "Jangan meluk-meluk.kayak gini!" lirih Sila dengan nada penuh tekanan.
Sedangkan Zacky malah memindahkan tangannya ke pinggang Sila, lalu tangannya yang sebelah mengusap perut Sila. Di mana perempuan itu memakai baju yang sangat longgar, hingga kini terlihatlah perut Sila yang sedikit buncit.
"Apa dia rewel hari ini?" tanya Zacky dengan sangat disengaja.
Ekor matanya melirik ke arah pria yang sedari tadi mengobrol dengan Sila. Lalu bibir nya terangkat ke atas di kala melihat raut keterkejutan pada wajah pria tersebut.
Sementara Sila berusaha melepas tangan Zacky dari pinggangnya, namun selalu gagal. Sebab om sugarnya itu semakin mengeratkan dan merapatkan posisi mereka.
"Lepas, Om," tekan Sila lagi dengan mata melotot, namun bibir yang menampilkan sebuah senyuman manis di sana.
Dan yang dilakukan Zacky justru sebaliknya.
Cup!
Om setengah mateng itu malah mengecup pelipis Sila sembari bertanya dengan nada serta tatapan yang sangat lembut.
"Udah capek? Kita pulang aja? Hmm?"