
Bab. 56
"Kenapa murung begitu mukanya? Tumbenan amat," tanya Sila kepada seorang pria yang saat ini berjalan di sampingnya dengan tatapan mengarah ke depan.
Sementara pria itu tidak menggubris sama sekali pertanyaan dari Sila. Hatinya masih jengkel. Lebih lagi ketika melihat sikap Sila yang justru tampak biasa saja. Tanpa adanya rasa bersalah walau sedikit.
Saat ini mereka sedang berada di taman dekat apartemen. Niat awalnya sih joging. Namun karena yang bersamanya saat ini seorang perempuan hamil muda, jadi Zacky mau tidak mau merubahnya menjadi jalan santai. Yang penting gerak. Tidak berdiam diri di kamar dan rebahan sambil memakan camilan.
"Om," panggil Sila. Ia tidak bisa jika disuruh diam dan tanpa suara.
Masih sama. Zacky tidak menyahut atau menoleh ke arah Sila. Membuat perempuan itu gemas sendiri. Hingga pada akhirnya Sila mencolek lengan om sugarnya. Menusuk nusuk dengan jari telunjuknya.
"Om, denger nggak sih aku panggil," protes Sila dengan bibir yang mulai mengerucut. Kesal karena sedari tadi tidak di anggap sama sekali oleh Zacky.
Tetap tidak di hiraukan, Sila memilih jalan lebih dulu sembari menghentakkan kaki kesal. Tidak lupa mulutnya yang komat kamit. Kalau tahu bakalan di cuekin seperti ini, mending dirinya joging sendiri tanpa setuju kalau pria menyebalkan itu menemaninya.
Zacky menghela napas kasar melihat tingkah Sila. Hatinya masih dongkol ketika mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. Di mana ia sangat khawatir mendengar teriakan Sila dari dalam kamar mandi sehingga dengan langkah panik Zacky main masuk begitu saja tanpa mengetuk pintunya terlebih dulu.
Rupanya apa yang ia khawatirkan tidaklah sesuai dengan kenyataan di depan matanya saat itu. Di mana Sila yang naik ke atas bathub dengan tangan yang berpegangan pada ganggang tirai. Padahal Zacky pikir tadi Sila jatuh, sampai berteriak seperti itu. Namun ternyata hanya karena kecoa yang juga ingin mengintip perempuan itu mandi.
Betapa tidak menyiksanya anu Zacky pada kala itu. Sebagai naluri seorang pria, ia ingin sekali menyentuh dan ah ... menikmatinya. Akan tetapi Zacky tetap tidak boleh gegabah, walau sangat berat menghadapi cobaan di depan matanya.
Oleh sebab itu beginilah sikap Zacky pada Sila yang semula sudah mulai lembut, kini dingin lagi. Karena pria itu disiksa oleh miliknya yang memberontak di bawah sana.
Dia sendiri juga heran. Kenapa melihat Sila yang hanya kakinya saja terekspos, tetapi napsunya tergugah dengan begitu mudah.
Berbeda jika dengan Tusha. Meski tunangannya itu memakai pakaian minim bahan saat mereka pergi ke pantai, sama sekali Zacky tidak mempunyai pikiran yang pingin menjelajah ke suatu tempat dan mencoba hal baru dengannya.
'Kenapa masih ngambek, sih!' rutuk Zacky menatap sekilas ke bawah dan memang terlihat sedikit menonjol. Padahal celana yang ia pakai sudah sangat longgar.
Baru juga pandangannya teralihkan sebentar, Sila sudah berada di depannya jauh, dan perempuan itu sedang mengobrol dengan seseorang.
"Ck! Ngobrol dengan sembarang orang," decak Zacky ketika melihat Sila berbicara dengan seorang pria yang juga tengah joging di sana.
Melihat Sila tersenyum kepada orang itu, membuat perasaan Zacky tidak senang. Sampai-sampai dua rahangnya saling bertemu dan mengerat dengan bibir menipis.
Padahal saat tersenyum, Sila tampak lebih manis. Aneh saja jika pria itu malah marah.