
Bab. 55
Entah mengapa pagi ini Sila sangat merindukan suara ayam berkokok ataupun burung yang saling bersiul saling bersahutan. Tinggal di apartemen membuatnya tidak mendengar itu semua. Hanya alarm yang berbunyi dari jam welker yang ada di atas nakas.
"Kenapa rindu kehidupan gue yang dulu, ya? Perasaan juga baru sebulan tinggal di sini. Tapi rasanya udah satu tahun aja. Boseeeennnn!!" teriak Sila sambil berguling ke kanan ke kiri di atas tempat tidurnya.
Kini usia kandungan Sila memasuki bulan ke empat. Perutnya juga sudah mulai terlihat sedikit membuncit dan kencang.
"Udahlah! Gue bilang aja ke Om sugar kalau gue mau tinggal di kontrakan aja. Meskipun tetep sendiri, paling nggak punya tetangga. Dari pada tinggal di sini. Udah macem ngontrak di kuburan," gumamnya merasa frustasi.
Ia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Terkadang betah, tetapi terkadang juga uring-uringan seperti ini. Ah ... entahlah. Rasa-rasanya ia ingin marah, tapi bingung alasan marah itu karena apa.
Tidak mau moodnya hancur di waktu yang masih sangat pagi seperti ini, Sila memutuskan untuk jalan-jalan pagi di taman dekat apartemen. Mumpung si om sugarnya itu belum berulah dan berubah pikiran.
Entah ada angin apa, semenjak dua minggu yang lalu sikap pria itu juga sedikit berubah. Tidak terlalu mengurung dirinya dan memberinya kebebasan jika ingin pergi keluar. Dan yang lebih penting, Sila diperbolehkan membelanjakan semua uang yang ada di card berwarna hitam yang pernah Zacky kasih ke dirinya.
"Mumpung negara apa belum menyerang, mending gue ajak Melani Yuan ke mall aja lah. Sekalian traktir mereka. Kapan juga bisa traktir mereka, kan? Toh bukan uang gue yang berkurang," gumam Sila terkekeh sendiri. Karena ia tahu selera teman-temannya itu barang branded semua. Sudah jelas akan terkuras habis itu uang si om sugar. Batinnya.
Perempuan itu segera masuk ke kamar mandi, memilih untuk membersihkan diri, sebelum ia marahan lagi sama air. Seperti yang terjadi sebelumnya dua tiga hari yang lalu. Di mana ia marahan sama air dan tidak mandi selama dua hari. Hanya cuci muka, semprot-semprot, poles, cantik harum mewangi.
Sementara itu, di apartemen depan tampak pintunya terbuka dan munculah sesosok pria dengan tampilan yang sudah segar dan tengah memakai kaos yang dipadukan dengan celana training. Sepertinya akan bersiap untuk jogging.
"Belum bangun?" gumamnya ketika melihat pintu apartemen yang Sila tempati masih tertutup rapat.
Pria itu memutuskan mengubah rencananya. Ia akan mengajak Sila jogging bersama dirinya.
"Udah mau empat bulan, masih aja males," ujarnya menggerutu.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Zacky membuka pintu apartemen Sila dan masuk begitu saja. Suasana tampak masih sepi. Sepertinya benar dugaannya kalau perempuan itu masih tidur.
"Sila," panggilnya seraya mencari ke ruang dapur. Namun tidak menemukan perempuan itu di sana. Hingga kemudian Zacky memutuskan untuk masuk ke kamar Sila.
Sama. Keadaan kamar sepi dan tidak ada sang empu di atas tempat tidurnya. Lagi dan lagi Zacky masuk ke dalam tanpa ijin. Semakin dalam, ia mendengar suara gemercik dari arah kamar mandi.
Ketika memutuskan menunggunya di luar, suara teriakan dari dalam kamar mandi terdengar begitu nyaring. Membuat Zacky tersentak dan langsung berbalik arah menuju kamar mandi.