Our Secrets

Our Secrets
Ch. 62. Perempuan Menyeramkan



Bab. 62


Zacky tidak bisa mengelak dan jujur sekarang ini kepada Tusha. Karena menurutnya ia belum menemukan waktu yang tepat. Di tambah lagi mami Dilla juga mendesak dirinya untuk segera pergi ke butik langganan perempuan paruh baya itu, di mana butiknya itu merupakan milik tante Amira. Mamanya Tusha sendiri.


Dan parahnya, mami Dilla meminta ikut dengan Zacky untuk melihat gaun apa yang akan mereka pilih buat pernikahan mereka nanti.


Perempuan paruh baya itu terlihat sangat antusias sekali. Sangat berbeda dengan perempuan muda yang duduk di sebelahnya. Wajah perempuan itu ditekuk sepanjang perjalanan mereka menuju ke butik sahabatnya mami Silla dan yang akan menjadi besan tersebut. Di mana butik itu berada di sebuah malla ternama di Jakarta.


"Kamu kenapa sih, Sayang? Kok cemberut gitu mukanya?" tanya mami Dilla kepada putri satu-satunya itu. "Kenapa? Belum rela ditinggal nikah sama kakakmu, ya?" goda mami Dilla lagi.


Mami Dilla beranggapan kalau wajah Zuma murung dikarenakan tidak rela ditinggal saudara kembarnya tersebut menikah lebih dulu.


"Nggak!" jawab Zuma ketus, namun tatapannya mengarah ke arah pria yang duduk di balik kemudi.


Zuma baru saja pulang satu minggu yang lalu dari Bandung dan mendapati kabar dari orang terpercayanya mengenai saudara kembarnya tersebut. Dan baru hari ini mereka bisa bertemu bahkan berada di dalam satu mobil.


Karena kesibukan mereka masing-masing, membuat mereka jarang bisa bertemu. Apa lagi Zuma tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Perempuan itu tidak diperbolehkan tinggal di apartemen atau rumah sendiri. Selain untuk perjalanan dinas.


Tentu saja mami Dilla tidak kaget dengan sikap Zuma yang seperti ini, jika sepasang anak kembarnya itu berada di tempat dan waktu yang sama.


Zuma menoleh ke arah mami nya. Mengubah cara tatapannya yang lebih lembut lagi.


"Zuma mau melepas rindu sama Kak Zack, Mi. Jadi, setelah fitting nanti, Mami pulang sama Pak Bambang aja, ya?" pinta Zuma dengan nada lebih lembut dari sebelumya. Sontak perkataan Zuma barusan membuat Zacky menoleh cepat ke arah adik kembarnya tersebut.


'Siall! Pasti mau nyuci gue,' batin Zacky.


Di dunia ini tidak ada yang Zacky takuti sama sekali. Meskipun itu mami nya sendiri. Karena setega teganya mami Dilla, mami Dilla masih bisa bersikap lembut dengan dirinya. Kalaupun kakaknya juga masih bisa Zacky ajak bicara. Pun dengan papinya yang lebih membebaskan mereka bertiga dalam bertindak, asal harus mempertanggungjawabkan apa yang sudah menjadi pilihan mereka. Karena mereka semua sudah dewasa.


Namun, berbeda dengan perempuan yang sedari orok selalu berada di sampingnya. Berbagi tempat bahkan makanan bersamanya. Zuma. Perempuan inilah yang Zacky takuti kalau sudah perempuan itu ikut campur dengan urusan dirinya.


Lebih lagi dia juga tahu kalau dirinya menghamili wanita lain dari aduan kakak iparnya sendiri beberapa minggu yang lalu. Zuma tidak hanya bisa menyerang dari segi psikologis, tetapi juga dari fisik yang Zacky sendiri tidak bisa membalas balik. Sebab Zuma memiliki dukungan dari papi dan kakak mereka secara langsung.


"Loh, bukannya nanti Kak Zacky ada rapat? Benar kan, Kak?" tanya mami Dilla mengingat ucapan Zacky yang tidak bisa lama-lama meninggalkan kantor.


Mendengar hal itu, Zuma menatap ke arah Zacky dari arah spion dalam.


"Lo ada waktu buat gue kan, Kakakku Sayang?" tanya Zuma dengan nada yang terdengar menyeramkan di telinga Zacky, serta tatapan perempuan itu yang penuh makna. "Udah lama gue nggak bobok sama lo." imbuh Zuma sejuta arti. Membuat Zacky mengerjap gugup.