
Bab. 42
"Udah, Om merasa bersalah, kan?" tanya Sila dan diangguki oleh Zacky. "Mending Om kasih uang bulanan aja ke aku. Dengan begitu Om nggak merasa bersalah lagi. Karena dengan uang Om, anak yang ada di salam kandunganku juga tenang. Nutrisinya terpenuhi. Soalnya ekonomi ku juga paspasan, Om," aku Sila dengan sangat jujur.
Ia tidak merasa sungkan atau jaim salam hal meminta nafkah untuk anak orang itu yang masih berada di dalam kandungannya. Karena ia berpegang teguh sama perumpamaan, kalau malu nggak akan bikin kenyang.
Zacky menggelengkan kepala. Benar-benar memang sikap gadis ini. Tanpa berbasa basi langsung meminta uang bulanan. Namun ia suka dengan orang yang jujur seperti ini. Di banding sikap Sila sebelumnya yang berusaha menyembunyikan kehamilan darinya.
"Anak itu?" tanya Zacky sembari melirik ke arah perut Sila yang masih datar.
"Gampang, nanti kalau aku nemu pria yang berhasil bikin aku jatuh cinta dan bukan milik wanita lain, aku minta nikahin dia aja. Terus dia jadi anak suamiku nanti," ucapnya begitu enteng.
Membuat Zacky mengepalkan tangannya. Mana bisa ia membiarkan anaknya memanggil pria lain dengan sebutan ayah. Sedangkan kepada dirinya sendiri tidak kenal.
"Sudahlah. Cepat habisin camilan nya terus kuantar pulang," suruh Zacky dengan nada sedikit tegas.
Helaan napas berat terdengar dari pria itu. Zacky benar-benar lelah menghadapi sikap Sila yang tiada duanya. Membuatnya pusing dan bingung mengambil keputusan yang mana.
"Siapa juga yang mau pulang bareng, Om. Aku naik taxi aja," tolak Sila. "Males banget kalau ada gosip lagi." gumamnya kemudian.
"Jalan sendiri atau aku gendong?" sepertinya kesabaran Zacky mulai habis.
"Coba aja kalau Om berani. Biar ketahuan sama tunangan Om," tantang Sila yang masih bisa membalas ucapan Zacky.
Zacky mengeluarkan dompet lalu mengambil card berwarna hitam dan menyodorkannya ke arah Sila bersamaan dengan ponsel gadis itu.
"Bisa diurus nanti," sahut Zacky yang kemudian memasukkan dua barang itu ke dalam clutch bag milik Sila lalu tanpa Sila duga, Zacky malah mengangkat tubuh Sila ala bridal style.
"Om!" pekik Sila kaget dan langsung melingkarkan tangannya ke leher Zacky. Takut kalau pria itu kesal kepada dirinya dan dia langsung menjatuhkan tubuhnya begitu saja.
"Manggil om sekali lagi, aku jatuhin!" tekan Zacky menatap intens ke arah Sila.
Sontak membuat Sila semakin mengeratkan tangannya di leher pria itu. Dari pada pantatnya nanti sakit kalau sampai Zacky benar-benar dengan ucapannya.
"Ck! Tega banget. Padahal di dalam perutku juga ada anaknya."
Zacky tidak menanggapi gerutuan gadis yang saat ini ada dalam gendongannya. Karena tidak akan ada habisnya jika ia ladeni. Seperti halnya mereka mengobrol sedari tadi tanpa menemukan solusi yang tepat bagi keduanya.
"Ambilkan ponselku." titah Zacky sangat berbeda sekali cara bicaranya.
"Ambil sendiri."
"Aku jatuhin!"
"Ck! Iya, iya! Di mana?" kesal Sila.
Zacky menatap ke arah saku kemejanya. Sila pun mengerti dan mengambilkannya.
"Hubungi kontak bernama Arsya," suruhnya lagi. Dan tumbenan Sila menurut.
Setelah nada sambungnya terdengar dan mendapat jawaban dari nomor tersebut, Sila berinisiatif menempelkan ponsel pria itu ke telinga.
'Ada apa, Bos?' tanya seseorang dari seberang sana.
"Kemasi barang-barang Sila dan pindahkan ke apartemen baru." titahnya pada Arsya dan langsung mendapat sahutan 'ok' dari Arsya tanpa banyak tanya.
Percakapan singkat barusan membuat Sila tersentak kaget.
"Om sudah gila, ya! Ini namanya penculikan, Om!" sentak Sila tak terima.
"Sembunyikan wajahmu jika nggak pingin jadi bahan gosip di grup sekolah besok," ingat Zacky ketika mereka akan keluar dari cafe tersebut.
Mau tidak mau, Sila hanya bisa menurut. Ia sebenarnya juga tidak ingin kalau benar-benar menjadi bahan perbincangan oleh teman-temannya. Tadi sikapnya yang seperti itu hanya untuk menggertak om setengah mateng ini. Namun, ternyata Zacky punya cara untuk menghadapi dirinya yang jelas akan kabur dengan membawa kartu dari Zacky tadi.
'Kenapa tau banget rencanaku, sih!'
Di mana rencana Sila yang akan mengambil banyak uang dari kartu Zacky, lalu segera pindah ke luar kota dengan membawa uang tersebut. Hidup berdua dengan calon anaknya tanpa ada orang yang mengenali mereka.