
Bab. 94
"Mau apa kamu.kesini?" tanya Zacky yang tidak ingin berlama-lama berada dalam ruangan yang sama dengan mantannya.
Tusha tidak menyangka kalau sikap Zacky bisa berubah sedingin ini kepadanya. Padahal dulu pria itu sangat menyayangi dirinya dan menuruti apa yang ia minta.
Jangankan untuk berkata lembut, menatapnya saja saat ini tidak Zacky lakukan. Sungguh, membuat perasaan Tusha semakin merasa pedih. Pria yang dia tunggu kesiapannya tersebut justru malah bersikap seperti ini. Terlebih pagu hubungan mereka tidak bisa diperbaiki.
"Apa salahku, Mas?" tanya Tusha masih dengan raut polosnya. Seolah wanita itu yang paling tersakiti. Orang yang paling ditindas di sini.
Zacky menghela napas panjang sambil menutup dokumen yang ada di tangannya. Lalu pria itu menatap ke arah depan. Di mana Tusha masih berdiri di depan mejanya.
"Kamu yakin bertanya seperti itu?" tanya Zacky pada akhirnya.
Tusha mengangguk dengan buliran bening mulai mengalir. Wanita itu berharap Zacky masih bisa menjadi miliknya.
"Aku selama ini selalu menunggu kesiapanmu dalam setiaku, Mas. Tapi kenapa kamu malah berbuat seperti ini? Kurang apa aku sama kamu?" cecar Tusha mulai terisak lirih. "Kalaupun kamu ingin melakukan itu, aku mau, aku rela menyerahkan semuanya ke kamu. Asal jangan tinggalin aku seperti ini. Sakit, Mas .... sakit!"
Emosi Tusha mulai meningkat di saat mengingat apa yang ia lakukan untuk Zacky selama ini. Bahkan wanita itu membuang jauh-jauh cita-cita yang dia inginkan selama ini. Cita-cita sedari kecil ia buang begitu saja demi bisa bersanding dengan Zacky. Bahkan membuang hal paling berharganya hanya demi pria yang ternyata justru membuangnya dengan sangat mudah. Seperti sampah yang tidak punya arti apa-apa.
Zacky memejamkan mata seraya mengepalkan tangannya begitu erat. Melihat wanita yang pernah mengisi hatinya dalam keadaan seperti ini, kelas membuatnya kurang nyaman.
Namun, di saat mengingat pengkhianatan yang pernah Tusha lakukan sebelum dirinya memperk0sa Sila terjadi. Sungguh, ingin rasanya Zacky mencabik cabik mereka yang sudah bermain api di belakangnya.
"Lalu apa kamu tidak pernah merasa bersalah sedikit pun padaku, Sha?" tanya Zacky. "Apa kamu pernah sedikit pun memikirkan perasaanku di saat kamu berselingkuh di belakangku? Hah!" sentak Zacky yang mulai terpancing emosinya.
Seandainya jika kejadian bersama Sila belum terjadi, Zacky pernah berniat untuk memaafkan nya dan menerimanya kembali. Karena ia yakin jika Tusha hanya tersesat sesaat. Akan tetapi di kala kejadian yang menimpa nya dengan Sila terjadi, di tambah lagi sikap kedua sahabatnya yang seolah berubah tidak menyukai Tusha, Zacky semakin yakin untuk mengirim orang untuk mengawasi di setiap gerak gerik Tusha. Hanya mengawasi, tanpa mendekat atau menyentuhnya.
Deg!
Tusha terkejut dengan ucapan Zacky barusan. Meski begitu ia segera merubah ekspresinya.
"Apa maksudnya, Mas? Aku nggak ngerti," elak Tusha. "Aku menunggumu sambil menyelesaikan kuliahku. Tapi kenapa kamu malah menuduhku?" protes Tusha.
Tidak terima dituduh, meskipun itu benar, Tusha melangkah mendekat ke arah Zacky. Mencoba untuk meyakinkan pria itu kalau dirinya tidak seperti apa yang dia pikirkan.
"Mas ... kamu percaya kan sama aku?" yakin Tusha dengan mata yang sudah basah. Tangannya gemetar mencoba meraih tangan Zacky. Ingin memeluk pria yang ia inginkan.
Jika ia tidak mengetahui apapun mengenai Tusha, mungkin Zacky akan dengan senang hati melebarkan tangannya dan memeluk wanita ini. Namun itu semua sudah terlambat dan tidak mungkin ia lakukan.
"Jangan menyentuh ku," ujar Zacky menghindar dan segera bangkit dari tempatnya.
"Mas ... aku cinta sama kamu, Mas. Aku maunya nikah sama kamu. Harusnya aku yang menjadi istrimu, bukan anak ingusan itu!" protes Tusha masih tidak terima dengan kekalahannya.
Wanita itu nekad mendekat ke arah Zacky dan berhasil memeluk pria yang sudah lama ia dambakan menjadi suaminya.
"Akan aku buktikan, kalau aku lebih baik dari anak ingusan itu, Mas. Kamu akan tau rasanya," ujar Tusha penuh maksud sembari memeluk Zacky dengan tangan begitu erat. Lalu Tusha mengangkat wajahnya ke atas, berusaha untuk meraih apa yang dia mau.