
Bab. 100
"Sekarang udah lima bulan kan, Yaang?" tanya Zacky ketika mereka tengah menyantap sarapan yang agak terlewat. Karena saat ini jarum jam sudah menunjuk ke angka delapan. Terlewat satu jam dari jam waktu biasanya.
Sila yang sedang mengunyah makanannya pun mengangkat wajah, menatap ke arah suaminya yang juga menatap ke arahnya.
"Apanya?" Sila balik bertanya. Karena pria itu tiba-tiba saja melayangkan pertanyaan kepada dirinya.
Zacky menghela napas, lalu pria itu menaruh sendok dan garpunya. Kebetulan makanan miliknya sudah habis tanpa sisa.
"Kehamilan kamu, Yaang. Sudah ada lima bulan kan?" jelas Zacky lagi mengenai pertanyaannya barusan.
Sila terdiam. Perempuan itu tampak menghitung dengan jemarinya.
"Sepertinya sih bulan ini udah lima bulan. Kenapa, Mas?" tanya Sila penasaran.
Zacky menggelengkan kepalanya. Namun pria itu menggeser duduknya agar lebih dekat lagi dengan sang istri.
"Sayang ...." dengan lembut, Zacky meraih tangan Sila lalu menggenggamnya.
Menatap begitu dalam perempuan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Padahal mereka bersatu di karenakan anak, namun entah mengapa Zacky merasa sangat takut kalau-kalau terjadi sesuatu pada Sila. Lebih lagi tidak melihat perempuan manja ini dalam setengah hari saja.
"Hmm," balas Sila.
"Kita ke dokter ya, periksa," tawar Zacky. "Terakhir kita periksa kandungan kamu ini waktu awal masuk bulan ke empat, kan?" ingat Zacky. Waktu Sila baru mengetahui statusnya yang sudah berubah menjadi istrinya.
Sila menelan makanan yang ada di dalam.mulutnya terlebih dulu. Baru kemudian perempuan itu menaruh sendok dan garpunya di atas piring.
"Kenapa nggak sekalian pas tujuh bulan nanti?" tanya Sila heran. "Masa setiap bulan musti periksa terus. Aku nggak mau kalau perutnya diliatin ama orang lain sering-sering, Mas. Malu," ucap Sila dengan wajah ditekuk.
Bukan tanpa alasan Sila berkata seperti itu. Masalahnya dokter terakhir yang memeriksa dirinya itu seorang laki-laki. Sedangkan dokter biasa yang memeriksanya waktu itu berhalangan hadir.
Sila mengangkat sebelah alisnya. "Pada umumnya?" ulang perempuan itu. "Memangnya yang umum itu gimana?"
Zacky tersenyum lalu menyentuh bagian yang dia maksud.
"Ini ini ini dan ini, sama sekali nggak ada perubahan. Nanti takutnya pas kita ke Surabaya, aku dipukulin Kakek sama Nenek, Yaang. Dikiranya aku nggak kasih makan kamu. Hamil kok nggak ada gemuk-gemuknya. Cuma di tiga bagian ini aja yang tambah gedhe," jelas Zacky mengenai maksud dari ucapannya.
Kemudian Sila menatap tubuhnya sendiri. Masih kurang puas dalam keadaan duduk, Sila pun berdiri lalu memutar tubuhnya. Melihat ke bawah, juga mengintip ke belakang. Benar apa yang dikatakan oleh Zacky. Dirinya memang tidak mengalami perubahan yang berarti.
"Iya juga ya, Mas," gumam perempuan itu. Membenarkan perkataan Zacky. Puas menelisik bentuk tubuhnya sendiri, bahkan sampai menjepit baju di bagian pinggangnya yang terlihat begitu ramping jika dari belakang. Lalu Sila duduk kembali ke tempatnya. "Tapi mungkin aku terkena tekanan, Mas," ujar Sila pada akhirnya memberi tanggapan mengenai tubuhnya.
Zacky tersentak kaget dengan ucapan Sila barusan. Siapa yang berani memberi tekanan pada istrinya. Atau tanpa sepengetahuan dirinya, Sila di bully seseorang selama ini? Tetapi karena apa? Apa karena hamil duluan?
Berbagai pertanyaan pun bersarang di kepala Zacky. Membuat pria itu semakin khawatir dengan keadaan Sila yang sesungguhnya. Mengingat dari pengalaman dirinya sejauh mengenal Sila beberapa bulan ini, perempuan ini sangat pintar sekali menyembunyikan perasaan dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Grep!
Zacky memegang kedua sisi bahu Sila dengan sedikit erat, menatapnya penuh kekhawatiran yang sangat luar biasa.
"Kamu mendapat tekanan dari siapa, Yaang? Bilang sama aku. Biar aku yang beri mereka pelajaran!" tanya Zacky sembari menahan rasa geramnya.
Sementara itu Sila menatapnya dengan dahi mengkerut.
"Kamu bicarain apa sih, Mas? Kok nggak nyambung banget," balas Sila. Perempuan itu melepas tangan Zacky dari bahunya. "Aku tuh kena tekanan batin dari suamiku sendiri. Semenjak kamu yang ngaku udah nikahin aku, apa pernah kamu ajak aku jalan-jalan? Hmm? Atau sekedar nongkrong di cafe? Asal kamu tau aja Mas, aku tuh dulu orangnya suka melakukan kegiatan di luar. Lah, semenjak sama kamu, kamu kurung di rumah terus. Apa ya nggak stres, hmm?" protes Sila meluapkan segala rasa yang ia rasakan selama ini.
Zacky langsung kicep. Tidak bisa mengelak atau membela diri. Karena benar adanya dengan apa yang dikatakan oleh istrinya barusan.
"Maaf, Yaang." hanya dua kata itu yang bisa Zacky utarakan.
"Kalau sama mantan aja, sering banget liburan ke LN. paling deket ke Bali. Emang beda ya. Dicinta sama Terpaksa," sindir Sila lagi yang sepertinya tidak akan melepas Zacky dengan begitu mudahnya.