
Bab. 59
Flashback on.
Satu bulan yang lalu.
"Gimana? Apa semua udah siap?" tanya Zacky ketika baru turun dari pesawat pribadi milik keluarganya.
Di sana ada Arsya yang datang menyambut kedatangannya. Pria itu mengenakan kemeja yang terlihat lebih santai tanpa memakai jas.
"Aman. Semua sudah siap. Mana Rafa?" tanya Arsya yang sempat meminta Zacky untuk membawa saksi lain.
Zacky menoleh ke belakang. "Mabuk dia. Nggak pantes jadi orang kaya memang," sahutnya mencibir keadaan temannya yang tidak kuat cocok jika diajak naik pesawat.
Arsya menghela napas kasar. Memang kalau sudah bawaan tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Apa lagi dia tidak suntik mabuk dulu sebelum berangkat. Karena memang semua ini dadakan.
"Lo beneran nggak kasih tau keluarga lo?" tanya Arsya lagi untuk memastikan ulang. Sebab keputusan ini sangatlah besar resikonya. Di tambah lagi status Zacky yang masih menjalin hubungan dengan wanita lain.
Zacky menggeleng.
"Belum waktunya mereka tahu. Yang jelas lo tutup mulut rapat-rapat, biar gue yang urus keluarga gue," sahut Zacky dengan wajah dinginnya. Tidak suka jika masalah pribadinya terlalu di usik.
Arsya mengangguk paham. Setidaknya keputusan Zacky yang satu ini sangatlah tepat jika dalam segi pandang sebagai seorang ayah yang bertanggung jawab. Karena mau sesetia apapun, kalau sudah ada perempuan yang mengandung anaknya. Tetap saja kekasihnya itu akan kalah posisinya.
"Terserah lo aja. Asal urusan lo sama Tusha, gue nggak ikutan. Mending gue cari cewek sendiri," ujar Arsya mengingatkan Zacky, walaupun itu sangatlah mustahil. Mengingat posisinya yang sebagai asisten pribadi pria itu.
Zacky menatap ke arah sekitar. Mengamati tempat tinggal yang selama ini ditinggali oleh ibu dari calon anaknya.
"Ternyata dia nggak bohong," gumam Zacky, teringat akan perkataan Sila yang mengatakan kalau dia berasal dari keluarga biasa.
"Apanya?" sahut Rafa yang baru saja merasa enakan dari mabuknya.
"Ck! Kayak infrared aja lo main nyahut. Mending benahi pakaian lo. Kita udah sampai," ingat Arsya pada Rafa yang duduk di sebelahnya.
Rafa tidak bertanya lagi. Pria itu menurut dan merapikan rambutnya. Pun begitu dengan apa yang dilakukan Zacky. Membuat Arsya menggeleng kepala dengan tingkah calon bapak tersebut.
"Lo udah siap?" tanya Arsya sebelum Zacky membuka pintu. Sedang mobil yang ia kemudikan berhenti tepat di depan sebuah rumah yang terbuka pintunya.
Zacky terdiam. Meyakinkan dirinya kalau ini memang yang terbaik untuk semuanya. Ia akan menghadapi konsekuensi yang akan datang. Karena itulah resiko dari apa yang ia pilih saat ini.
Dengan satu tarikan napas, Zacky mengangguk mantap.
"Kita turun," ucap Zacky yang diikuti oleh kedua temannya, Arsya dan Rafa.
Setelah masuk ke dalam rumah kakek dan neneknya Sila, Zacky lebih dulu menyampaikan permohonan minta maaf dan menceritakan kronologi yang ada dengan sangar jujur. Meskipun Arsya sudah menceritakannya.
Beruntung kedua orang tua itu menerima Zacky dengan perasaan pilu. Karana cucunya yang satu itu tinggal sendiri di ibu kota dan malah mengalami hal yang tentu saja tidak semua orang inginkan berada di posisi tersebut.
Tetapi kembali lagi pada sang pembolak balikkan hati. Mereka bisa apa jika semua sudah di atur seperti itu. Tinggal bersikap lebih baik dan membenahi semuanya agar tidak mengulang kesalahan yang sama.