Our Secrets

Our Secrets
Ch. 93. Mantan Bos



Bab. 93


"Selamat siang, Nona Yuan," sapa salah satu resepsionis yang berjaga. Memberi salam kepada menantu pertama dari keluarga Rayyansyah.


Yuan mengangguk serta tersenyum ramah ke arah mereka. Tangannya memegang erat tangan Sila, di kala sahabatnya itu ingin menjauh dari nya.


"Selamat siang," balas Yuan.


"Ada yang bisa saya bantu, Nona? Kebetulan Tuan Muda pertama hari ini tidak ada di kantor sini. Beliau sedang berada di kantor induk," ujar resepsionis tadi.


Yuan mengangguk. "Saya tau, Kak. Saya cuma mau ketemu sama Kak Zacky. Apa ada di dalam?" tanya Yuan.


Sedangkan Sila merasa asing dengan semua ini. Yuan terlihat berbeda ketika berada di luar. Perempuan di sampingnya ini tampak mempunyai aura yang kuat. Bahkan banyak orang yang menyapanya dengan sedikit membungkukkan badan mereka.


Ketika perasaannya merasa iri dengan apa yang diterima oleh Yuan, Sila tersenyum getir dalam hati. Menasehati dirinya sendiri dan mewajarkan sikap mereka.


Tentu mereka tidak mengenali dirinya. Karena memang pernikahannya dengan Zacky tidak diketahui banyak orang. Saksi yang ada pun cuma keluarga besar nya yang berada di Surabaya serta dua orang dari pihak Zacky. Dan juga sampai saat ini dirinya belum dipublikasikan oleh pria itu. Karena Sila belum siap dan masih takut. Takut jika omongan jelek mengarah kepadanya. Mengingat masa lalu Zacky yang sudah mempunyai tunangan dan banyak orang tahu.


"Oh, Tuan Muda kedua ada di ruangannya, Nona. Mari, saya antar," tawar wanita cantik dengan senyum ramahnya.


Yuan menggeleng. "Tidak perlu, Kak. Saya tau ruangannya. Terimakasih.


Kemudian Yuan menarik tangan Sila dan mengajaknya pergi dari sana. Ada beberapa tatapan aneh yang mengarah ke arah Sila. Namun, genggaman erat dari Yuan mampu membuat Sila mengabaikan tatapan penasaran dari orang yang melihat ke arah mereka.


"Jangan di ambil hati. Mereka iri, karena kita hamil lebih dulu," ujar Yuan. Membuat Sila menatapnya tidak mengerti.


"Maksud lo?" tanya Sila.


"Mereka gila kerja. Sudah pasti pada belum menikah. Jadi perawan tua. Kasian banget hidupnya. Ngejar uang mulu tanpa tahu rasanya sosis coklat," jawab Yuan begitu sembrono menurut Sila.


"Ck! Heran deh gue. Kok bisa-bisanya Pak Rio betah sama lo yang mulutnya nggak bisa di ruqyah," cibir Sila. Membuat Yuan terkekeh lirih.


"Justru karena mulut gue yang begini, dia makin nempel sama gue," ujar Yuan begitu bangga. "Dia nggak akan tahan kalau udah gue gigit ujungnya," bisik Yuan kepada Sila. Entah perempuan itu tengah memberikan Sila sebuah trik, atau hanya sekedar membalas ucapan Sila saja.


"Sialan lo!" umpat Sila. Ia sudah serius dengerin, malah sahabat somplaknya ini melenceng ke arah anu.


Dan perempuan itu semakin menjadi dalam menghasut Sila. Memberitahukan trik demi trik untuk membuat pasangan mereka betah di rumah. Terutama di atas ranjang.


Mereka pun kemudian melanjutkan langkahnya hingga sampai di lantai, di mana ruangan Zacky berada.


"Kayak kenal deh," gumam Sila ketika melihat seseorang yang sangat familiar.


"Siapa?" tanya Yuan. Yang dia tahu cuma Arsya.


"Mantan bos cafe gue dulu," jawab Sila lalu mempercepat langkahnya dan menghampiri mereka.


"Kak Jinan?" panggil Sila takut salah.


"Sila?" sahut Jinan yang juga kaget melihat Sila.


"Ngapain Kak Jinan di sini?" tanya Sila lagi.


"Ada urusan kerjaan. Lo ngapain?" tanya Jinan balik. Lalu mata pria itu menatap ke arah perut Sila yang terlihat membuncit. Tampak begitu jelas keterkejutan di wajah pria itu. "Ini alasan lo tiba-tiba hilang? Hah? Siapa yang hamilin lo? Sini, bilang sama gue. Biar gue hajar itu orang. Enak aja main hamilin penyanyi cafe gue. Mana mereka pada nanyain lo mulu." sungut Jinan.


Meskipun jarang datang ke cafe, Jinan tetap memantau perkembangan cafe nya itu dari manager yang dia tempatkan di sana. Jinan juga tahu seperti apa Sila. Bahkan ia sudah menganggapnya seperti adik sendiri.


"Siapa? Bilang sama gue, Sil!" desak oria itu.


Sementara Sila menatap ke arah Arsya. Pria itu justru malah mengangkat bahunya. Pertanda tidak mau ikut-ikutan. Dan sialnya, Arsya malah tetap membiarkan Jinan dengan segala ketidaktahuannya mengenai hubungan Sila dan atasannya tersebut. Laknat memang.


"Di dalem orangnya, Kak," jawab Sila pada akhirnya dengan menyengir. Entah apa yang akan di lakukan oleh Jinan.


Jinan menoleh ke belakang, di mana pintu itu masih tertutup rapat.


"Maksud lo, yang hamilin lo ada di dalam?" tanya Jinan memastikan ulang.


Sila mengangguk. Membuat Jinan semakin bingung. Kemudian pria itu menoleh ke arah Arsya. Sama. Arsya juga menganggukkan kepalanya dengan raut pasrah.