
Bab. 86
Setelah seharian sibuk menata barang dan Zacky juga tidak berangkat ke kantor demi menemani sang istri, dari pada nanti mendapat omelan yang tiada ujung jika perempuan itu merasa capek atau pegal-pegal di bagian pinggang serta kaki.
"Yang ini ditaruh mana?" tanya Zacky seraya memperlihatkan barang yang dia pegang saat ini.
Sila yang tengah sibuk menatap peralatan make up nya lalu menoleh ke arah Zacky. Berapa terkejutnya ia saat melihat apa yang dibawa Zacky saat ini.
Perempuan itu berlari ke arah Zacky dan langsung merebut barang tersebut lalu menyembunyikannya di belakang tubuhnya.
"Mas kenapa malah buka koperku, sih? Kan aku udah bilang kalau urusan baju biar aku aja," protes Sila. Mukanya tampak memerah. Mungkin karena malu. Sebab barang yang dipegang Zacky tadi merupakan pakaian dinas malam seorang istri. Hadiah dari sahabat laknatnya, Yuan dan Melani.
Sedangkan Zacky justru tersenyum yang sengaja diperlihatkan. Serta tatapan pria itu menggoda dengan sangat jelas ke arah Sila.
Perlahan, Zacky mendekat ke arah Sila. Membuat Sila resah dan melangkah mundur. Memilih menjauh dari suaminya, di kala tatapannya berubah jahil seperti ini.
"Nggak kusangka, ternyata kamu udah siapin ...." sengaja Zacky tidak memperjelas kalimatnya.
Akan tetapi dari tatapan matanya saja Sila bisa mengartikan. Sebab arah tatapan Zacky mengarah ke benda yang Sila coba sembunyikan darinya. Padahal sebelum bertanya tadi Zacky sudah menelisik benda apa itu, dan ternyata ia tahu. Lalu sengaja bertanya pada Sila, sedangkan baju yang lain sudah Zacky tata di dalam lemari.
Semakin merona lah pipi Sila. Di mana hal itu membuat Sila terlihat semakin menggemaskan di mata Zacky. Sayang kalau berhenti menggoda istrinya.
"E-enggak!" elak Sila.
"Lalu, itu?" cecar Zacky yang kemudian menangkap tubuh Sila dan menariknya hingga perempuan itu duduk di pangkuan Zacky. Menatap begitu intens, membuat Sila bergerak gelisah di pangkuan Zacky. Terlebih lagi ketika Zacky mengeratkan tangannya di pinggang Sila.
"Ini punya Yuan. Bukan punyaku," jawab Sila memberi alasan.
Namun Zacky tampaknya tidak percaya begitu saja.
Ketahuan memiliki baju dinas seperti itu saja sudah membuat Sila malu yang teramat, kini malah justru dirinya berada di pangkuan pria mesum. Di mana pria itu menatapnya dengan tatapan yang membuat Sila takut. Takut kalau sampai Zacky tiba-tiba saja memaksa dan memakan dirinya.
Akhirnya tidak ada jalan lain bagi Sila, selain mengaku.
"Memang baru. Yuan kasih pas dia datang minggu lalu ke rumah," aku Sila dengan tatapan menunduk. Tidak berani menatap Zacky yang terus menatapnya dengan jarak sangat dekat.
"Kenapa nggak dipakai?" tanya Zacky. Dengan gerakan yang begitu lembut, Zacky mengangkat dagu Sila agar perempuan itu menatap tepat ke arahnya.
Sila menurut namun tatapan matanya mengarah ke samping. Jantung nya berdebar begitu kencang di kala Zacky menangkup wajahnya dan mengarahkan ke arah pria itu. Hingga mau tak mau, tatapan mata mereka bertemu.
Untuk beberapa detik keadaan terasa hening. Namun debaran di dada mereka saling beradu. Seolah ini pertama kalinya bagi mereka berada dalam posisi seperti ini.
Perlahan dan penuh kelembutan, Zacky menyibakkan rambut yang mengarah ke wajah Sila. Hingga tangannya menyentuh telinga Sila. Membuat Sila tersentak kaget dan sedikit terjingkat. Tanpa sadar juga suara merdu itu keluar dari mulut Sila. Menambah suasana lebih mendukung. Tentu, membuat tubuh Zacky semakin panas. Terlihat dari napas pria itu yang kini tak beraturan dan tatapan mata Zacky berubah semakin sayu. Sila panik di posisinya. Namun Zacky tidak mengijinkan istrinya memalingkan padangan darinya.
"Boleh?" tanya Zacky.
Menatap Sila penuh damba serta begitu lembut. Juga gerakan tangannya yang mengarah ke bibir membuat tubuh Sila merinding. Pria itu kemudian mengusap lembut bibir Sila. Menunjukkan kalau dirinya tidak sabar ingin menikmati benda yang sekarang dia mainkan.
Secara refleks Sila menggigit bibirnya karena gugup.
"Jangan digigit. Nanti berdarah," cegah Zacky sembari mengusap lembut bibir bawah Sila. Lalu menatap Sila dengan penuh mohon. "Boleh?" ulangnya lagi yabg meminta ijin kepada istrinya. "Aku pria normal, Sila."
Sila tidak menjawab. Perempuan itu tidak tahu harus bagaimana. Tiba-tiba saja ia teringat wejangan dari mertua serta kakek neneknya, kalau menolak permintaan suami, yang ada mereka bakalan jajan di luar. Di tambah lagi tatapan Zacky yang menunjukkan kalau pria itu tampak benar-benar menginginkan dirinya.
"Janji pelan, Sayang," ujar Zacky mencoba merayu Sila dengan suara lebih lembut dan semakin serak.