Our Secrets

Our Secrets
bagian 3



You are my living world that never comes true. _(Arini.N)


~¤¤¤º♡♡♡º¤¤¤~


Riri berulang kali mengetukkan jari jarinya di sebuah meja bermaterialkan kaca. Kopi pertamanya telah tersaji di atas meja. Kemudian adipati datang sengan setumpuk tanda tanya di kepalanya. 


" kau sakit? "


tanya adi memastikan bahwa prempuan di hadapannya baik baik saja.


" rena jatuh pingsan, aku membawanya kesini "


Riri mulai meneguk cangkir kopinya yg masih mengepuskan udara panasnya.


"Aku tidak tau"


 balas adi dengan nada datar


" kamu tau kalau rena hamil?"


" hamil??"


Jawab adi dengan sangat terkejut. 


" kau tak tau di? Sebegitu pentingnya pekerjaan mu sampe rena hamil dan jatuh pingsan kamu tidak tau "


Riri mulai meninggikan nada bicaranya berharap adi mengerti kecemasan nya.


" sudahlah ri. Kamu tidak bisa memaksa ku untuk mencintai dia "


" aku selama ini tidak pernah meminta apapun dari kamu kan di?. Ini untuk pertama kalinya aku meminta. Lupakan aku dan masa lalu kita. Fokuslah pada rena dan calon anakmu "


Riri memohon dengan sangat pada adi. Baginya tak ada yg lebih penting dari hubungan persahabatan mereka.


" kalau aku harus melupakan sesuatu yg sudah lama ku bangun. Maaf aku tidak bisa. Meninggalkan mu adalah hal terbodoh yg pernah ku lakukan. Kau tau betapa menyesalnya aku melakukan semua ini. Bersama seseorang yg tidak ku cintai. Padahal jelas jelas orang yg aku mau sudah ada di hadapanku. Takdir yg memaksaku untuk itu ri. Andai aku tidak mengambil keputusan konyol itu. Pasti saat ini aku bersamamu "


" kamu benar di. Andai aku tidak pernah melepaskan mu juga. Mungkin saat ini kau masih bersama ku. "


Suara hati riri seketika menggema di dalam lubuk hatinya yg terdalam. 


" aku tidak bisa kalau untuk kehilangan mu lagi. Aku akan berusaha untuk mencintai rena demi kamu "


Ahirnya adi memilih untuk mengatakan itu pada riri. Kini riri sudah bisa bernafas lega. Ia merasa satu beban berat di kepalanya telah dia lepaskan. Hanya saja dia tak pernah bisa menghilangkan rasanya pada adi. Rasa itu masih ada dan bahkan sangat kuat di saat dia menemukannya.


Adipati membuka pintu kamar rumah sakit, dan melihat rena sedang terbujur lemah di sebuah tempat tidur. Perlahan adi mendekat 


" aku laki laki yg payah ren. Memperhatikan mu saja tidak bisa "


Ucap adi dengan penuh penyesalan 


" sudahlah di. Kamu tetap yg terbaik bagiku dan calon anak kita "


Kebahagiaan yg berlimpah tertanam jelas dari raut adi akan kedatangan anak pertama nya nanti. Hanya saja mereka terlalu sibuk dengan urusan nya masing masing dan lupa caranya saling mengasihi.


Adi yg selalu sibuk dengan kantornya, rena yg sibuk dengan penerbitan nya. Tak ada kesempatan untuk mereka bicara dari hati ke hati 


~¤¤¤º♡♡♡º¤¤¤~


From: me


To     : rena


15 menit lagi aku sampai di rumahmu


Riri mengirim pesan pada rena


Ia tak menyangka 3 tahun sudah tak berjumpa sahabatnya itu, akan seperti apa sosok rena sekarang ini.


"(Tok tok tok)


Riri mulai mengetok pintu rena, dengan cepat rena membukakan pintu. Betapa gembiranya saat rena mengetahui bahwa kini yg ada di hadapannya adalah sahabatnya.


" ya ampun demi apa kamu sudah pulang, aku senang banget ri bisa ketemu kamu lagi"


Ucap rena memeluknya dengan sangat erat.


" ren ren udah. Engap kali ren "


"eh maaf ri aku over bahagia soalnya"


Rena mulai menuntun masuk rumahnya dengan menenteng koper yg di bawa riri. Menceritakan semua masa yg telah riri lewatkan tiga tahun lalu sampai saatnya dia akan segera menikah.


" besok aku bantuin kamu buat menyimpan baju pengantin untuk akad nanti gimana "


Ucap riri berantusias


" eumm.. boleh, udah lama juga gak kluyuran bareng kamu "


Riri dapat bisa melihat dari wajah rena yang begitu bahagianya dia. Riri berharap adipati bisa membuktikan janjinya untuk tidak menceritakan apapun pada rena tentang apa yg tidak rena ketahui.


Ahirnya hari yg di tunggu telah tiba. Menjadi saksi sakral pernikahan sahabat seharusnya ia bersorak gembira, karna ahirnya sahabatnya itu baru saja memulai kehidupan barunya, kehidupan yg di inginkan dan di dambakan oleh seorang wanita. Yaitu menikah dan memiliki keluarga yg sempurna atas dasar cinta. Bersama dia yg telah rena pilih sebagai pendamping pasangan hidupnya. 


Masih teringat dengan jelas saat dirinya dengan adipati adalah sepasang kekasih yg tak bisa di pisahkan. Banyak kenangan bersamanya. Candanya, tawanya, bahkan mereka bermimpi untuk singgah di sebuah ikatan sakral pernikahan.


Pernikahan hari ini memang jelas terlaksanakan. Namun di pasangkan dengan seseorang yg bukan dirinya.


Jika beberapa saat yang lalu riri masih bisa memeluknya dan menggandeng tangannya dengan sangat lihai. Kini hanya bisa menatapnya kejauhan


" seleramu cukup berbobot juga ren "


Canda riri yg mencoba menggoda sahabatnya yg tengah duduk di depan sebuah cermin rias dengan sibuk memandangi kiri kanan sanggulnya dan sedikit menata seabrek riasan pernak pernik bunga yg memenuhi kepalanya.


" cinta telah membuatku buta ri "


Gelagat bicara rena sedikit mendramatiskan setiap gerak tangan dan katanya.


" lebay banget sih ren "


Ketus riri lalu mereka berdua tenggelam dalam gelagak tawa.


Ruangan yg di gunakan untuk merias pengantin di penuhi oleh gemuruh tawa mereka ber dua.


" mbak rena sudah siap?"


Ucap seorang wanita yg menghampiri nya dari balik tirai kamar pengantinnya.


Riri bisa melihat betapa gemetar nya rena yg meremas ke dua tangan riri dengan kuat. Menuntunnya untuk berjalan beriringan dengannya.


Riri tak pernah menyangka. Rena yg spontanitas itu terlihat begitu anggun dengan balutan busana ala ratu kraton dengan tatanan rias wajah yg natural khas dari adat jawa dengan rangkaian melati yg menjuntai sampai bahunya.


Semua orang sudah menanti kedatangan rena sebagai mempelai wanita yg akan di akadkan.


Langkah demi langkah mereka ber dua mulai menuruni anak tangga yg di bawahnya sudah di penuhi ratusan orang yg akan menyaksikan acara akad pernikahan sahabatnya itu.


" rileks ren "


Ucap riri yg tengah menggandeng rena menuruni anak tangga.


"Iya aku rileks" desisnya


Beberapa anak tangga sudah di lalui. Mereka dengan segera menuju ke sebuah meja yg di gunakan untuk ijab kobul.


Selendang putih telah di pasangkan dan ijab kobul di lontarkan. Pemandangan yg seharusnya haru sesaat menjadi sesak di dada. Berulang kali riri mencoba untuk tidak melihat pemandangan itu. Tapi mereka ada di hadapannya. Riri pun tak bisa memungkiri nya lagi.


Hari itu suasana benar benar penuh kegembiraan. Tamu yg berdatangan memberi ucapan selamat kepadanya. Di iringi musik dai musisi band ternama semua orang nampak bahagia di dalamnya kecuali dirinya yg masih bimbang antara ia harus bahagia atau menangis. Bukan berarti ia tak menginginkan secercah kebahagiaan yg tersirat di raut wajah sahabatnya, hanya saja dia tidak tau apa yg terjadi pada dirinya. Sampai ahirnya rena menyeretnya untuk berfoto ria di sebuah pelaminan yg di dekorasi dengan indah.


Adipati dan rena menghampitnya sehingga riri berada di tengah tengah mereka. Riri menyaksikan dengan jelas raut wajah bahagia itu, senyum yg semerkah itu terlukis indah di ke 2 temannya.


" ciss... "


Suara rena siap mengulurkan kamera ponselnya. Jarak mereka sangat dekat sehingga riri tak sadar bahwa tangan adi melingkar erat di belakang tubuhnya hingga ia bisa merasakan hembusan nafas adi. Sementara rena sibuk dengan kamera ponselnya untuk mengatun enggel yg terbaik untuk berfoto.


" tunjukan bahagiamu hari ini, bukannya ini yg kau mau "


Adi sedikit menyenggolkan bahunya dengan berbisik.


Senyum merkah seketika mulai mengembang di bibirnya. Perasaan yg tak pernah ia rasakan sebelumnya, rasa bahagia bercampur takut akan keputusannya yg telah merelakan adi untuk menikahi sahabatnya.


Puing puing ingatan itu datang meracuni pikirannya.


Baginya saat ini adalah yg terpenting bisa bahagia dan tertawa lepas di hari pernikahan sahabatnya.