
Bab. 92
Sementara itu di ruangan kerja Zacky, tampak tiga orang pria tengah terkejut dengan kedatangan seseorang yang tidak mereka duga. Terutama Zacky. Ia tidak menduga jika perempuan itu akan datang kesini.
Secepat kilat, Zacky merubah ekspresinya menjadi datar. Kembali fokus dengan dokumen yang ada di hadapannya saat ini.
"Loh, Sha? Lo ngapain kesini?"
Bukan Zacky yang bertanya, melainkan Jinan. Pria itu tahu hubungan di antara keduanya sudah tidak ada yang spesial. Jinan juga tahu jika Tusha tidak bekerja di kantor. Oleh karena itu dia cukup terkejut dengan kedatangan Tusha saat ini.
Sementara wanita yang baru masuk ke ruangan Zacky, tampak terkejut juga. Tidak menyangka kalau di dalam ruangan mantan tunangannya itu ada Jinan juga.
"Ah, kamu di sini juga, Kak?" tanya Tusha seraya tersenyum lembut seperti biasa.
Jinan hanya mengangguk samar. Masih menunggu jawaban Tusha kenapa wanita itu kesini.
"Gue ada kerjaan sama dia. Lo ngapain?" desak Jinan.
Membuat Tusha menatap ke arah Zacky dengan tatapan penuh rindu. Sangat terlihat jelas sekali di mata wanita itu. Bahkan Arsya dan Jinan saling melirik. Namun lirikan mereka bukan karena kasihan, melainkan seolah jengah dengan sesuatu.
Akan tetapi sayangnya orang yang tengah ditatap oleh Tusha sama sekali tidak membalas tatapan wanita itu. Bahkan Zacky tidak mengalihkan tatapannya dari dokumen di tangannya. Meskipun pikirannya tidak jelas. Entah mengarah kemana.
"Mas ... ada yang ingin aku bahas sama kamu. Kamu ada wak—"
"Rapat kurang berapa menit lagi, Ar?" tanya Zacky menoleh ke arah asistennya tersebut.
Pun Arsya langsung mengangkat tangan, melihat jam yang melingkar di sana.
"Lima belas menit lagi dimulai, Bos. Dipercepat juga tidak masalah. Karena orangnya sudah ada di sini," jawab Arsya sembari menoleh ke arah Jinan. Sedangkan Jinan mengangguk samar. Tidak keberatan kalau-kalau dapatnya dimajukan. Toh asistennya juga sudah ada di luar bersama sekretaris Zacky.
"Majukan lima menit lagi," perintah Zacky. Membuat raut wajah Tusha berubah.
Zacky sengaja memotong ucapan Tusha. Karena ia tidak ingin bimbang lagi dengan pilihannya dan malah merasa bersalah kepada wanita itu. Karena Zacky memang sudah sepatutnya bersikap seperti itu, di kala ada wanita lain yang lebih berhak atas dirinya.
"Baik, Bos," sahut Arsya.
Kemudian Arsya mengajak Jinan untuk keluar dari ruangan itu dengan isyarat melalui kedipan matanya. Akan tetapi sepertinya pria itu sama sekali tidak memiliki tingkat kepekaan tinggi. Sehingga Arsya tidak digubris sedikit pun oleh Jinan.
Karena tidak mau beranjak dari tempatnya, akhirnya Arsya terpaksa menarik tangan Jinan dan membawanya keluar dari ruangan Zacky. Meninggalkan mereka berdua dan menyelesaikan apa yang terjadi.
"Lo kenapa narik-narik gue, bego'!" semprot Jinan ketika mereka berada di depan ruangan Zacky. "Lo mau kalau itu cewek anuin Zacky di dalam? Hah! Kurang jelas gimana lagi coba, kita udah liat kalau dia itu anu kan pas ketemu di Singapura itu, Arsya!" kesal Jinan karena ditarik keluar oleh Arsya.
Bukan karena apa dia berkata seperti itu, Jinan dan Arsya pernah memergoki Tusha dalam keadaan yang tak seharusnya mereka lihat. Itulah sebabnya Jinan takut kalau-kalau Zacky tergoda dan imannya itu setipis yang Jinan miliki jika sampai Tusha menggodanya.
Plak!
Arsya memukul lengan Jinan karena sudah berteriak di depan mukanya.
"Begini Tuan Muda pertama. Anda itu belum tau saja seberapa bucinnya bos gue sama istrinya. Jelas tidak akan tergoda walaupun itu ulet lepasin bulunya," ujar Arsya begitu yakin mengenai tabiat Zacky.
Ptak!
Jinan menyentil kening Arsya dengan sangat keras. Lalu menjewer telinga sahabatnya itu dengan menarik dari kedua sisi.
"Lo dengerin ya si Jaka. Lo itu belum tai rasanya anu anu itu sangat nikmat banget. Dan kalau udah rasain itu anu, jelas lo bakalan ketagihan. Sekarang lo pikir, kucing yang udah dikasih makan sama majikannya, udah kenyang banget, tapi pas ada temen majikannya datang kasih ikan segar, dimakan nggak? Hmm?" tanya Jinan.
"Ya di makan lah. Kan sayang kalau ditolak. Protein itu. Apa lagi dia bosan makan sentrat mulu, kan? Pas ada yang seger-seger, ya langsung sikat aja!" jawab Arsya polos.
"Naaahhh ... sama kayak bos lo itu. Meskipun di rumah sudah ada mulut yang siap menggigit dia kapan saja, tapi kalau ada mulut lain yang nawarin pijatan dan belum pernah dia coba, bakalan kagak dilewatin," jelas Jinan. "Itu namanya cari sensasi dan rasa yang lain. Biar nggak rasa vanila mulu," lanjutnya lagi.
Arsya mencoba mencerna perumpamaan yang sangat sulit dia cerna. Dia lebih suka dihadapkan dengan masalah penanganan proyek yang gagal daripada mengurusi hal yang sangat memusingkan.
"Itu namanya nggak boleh menolak rejeki!" sahut seorang perempuan yang melangkah ke arah mereka. Membuat Jinan dan Arsya menoleh lalu terjingkat kaget.
"Haarghhhh!" pekik mereka bersamaan. Seolah tengah melihat orang yang baru bangkit dari matinya.
"Kak Jinan ngapain di sini?" tanya perempuan itu dengan tatapan penasaran.
Sedangkan perempuan lain yang berdiri di sampingnya tersenyum manis lalu menganggukkan kepalanya samar ke arah Jinan. Sebagai tanda sapaan para kalangan atas.
"Lo sendiri ngapain di sini, Sil?" Jinan balik bertanya kepada perempuan yang tak lain ialah Sila.
"No-nona ada perlu ah apa?" tanya Arsya gugup. Membuat Sila dan Jinan menatap heran.