
Bab. 105
Semenjak usia kandungan Sila memasuki bulan ke enam, Zacky memang lebih sering menghabiskan waktu bekerjanya dari rumah. Karena takut jika istrinya itu mengalami hal-hal seperti tadi. Sebab, hanya tangannya yang bisa menenangkan calon baby twins-nya.
"Mas, kalau kamu kerja dari rumah terus, kasihan para klienmu loh. Mereka musti kirim ulang terus. Apa lagi kulihat Kak Arsya juga semakin sibuk. Kamu masuk ke kantor aja udah. Aku nggak apa-apa, kok," ucap Sila menghampiri suaminya dengan membawakan secangkir kopi.
Melihat Sila masuk ke ruang kerjanya dengan secangkir kopi di tangan, cepat-cepat Zacky beranjak dari tempatnya dan menghampiri Sila. Mengambil alih cangkir yang berisikan kopi tersebut, lalu mengajaknya duduk di kursi yang ia tempati tadi.
"Sudah Mas bilang, jangan capek-capek Yaang. Mas bisa bikin sendiri nanti," ujar Zacky memperingati Sila.
Sila hanya mengangguk samar. Ini masih jam enam pagi. Namun Zacky terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Mana mungkin Sila hanya tinggal diam dan bersantai.
"Ini apa, Mas?" tanya Sila tidak mengerti tampilan yang ada di layar laptop suaminya.
Zacky berdiri di belakang kursi yang di duduki oleh Sila. sedikit membungkukkan tubuhnya dan mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sila. Tangannya menunjuk ke arah layar dan pria itu mulai menjelaskan satu per satu apa yang Sila lihat saat ini.
Tidak butuh mengulang untuk kedua kalinya, karena ternyata Sila langsung paham maksud dari penjelasan Zacky barusan.
"Apa nanti kalau aku kuliah, ambil jurusan management bisnis saja ya, Mas? Biar bisa kerja di kantor kamu," ucap Sila seraya mendongak ke atas. Menatap suaminya yang juga tengah menatap dirinya.
Mata Zacky menyipit dengan kedua alisnya hampir bertemu. Ekspresi wajah pria itu seolah sangsi dengan apa yang dikatakan oleh Sila barusan.
"Memangnya bisa?" sangsi Zacky dengan mengangkat satu alisnya. Membuat Sila menekuk wajahnya seketika.
"Kamu raguin aku, Mas?" tebak Sila yang kini memutar kursinya hingga menatap ke arah Zacky.
Zacky tersenyum, mengusap lembut pipi Sila karena gemas.
"Kamu larang aku untuk berkarir?" tanya Sila lagi dengan wajah sangat serius.
Cepat-cepat Zacky menggelengkan kepala. Dari pada perempuan di hadapannya saat ini salah paham dan malah menjadi masalah nantinya.
"Bukan begitu, Yaang," Zacky memutar kursi Sila dan dirinya memilih untuk duduk di pinggiran meja. Memegang lembut tangan Sila sembari mengusap punggung tangan yang berukuran lebih kecil darinya. Tangannya terasa sangat lembut dan halus. Itulah mengapa Zacky merasa gemas pada Sila walau sebatas memegang tangannya saja.
Sementara Sila menatap suaminya dengan tatapan menuntut sebuah penjelasan.
"Lalu?"
"Sekarang begini saja. Kamu punya keinginan lain?"tanya Zacky. "Semisal ingin punya usaha sendiri atau ingin melakukan apa, gitu?"
Sila terdiam. Memang, ia sangat ingin mempunyai usaha sendiri agar nantinya ia masih bisa mengurus suami dan anak-anaknya. Itu keinginan Sila dari semasa sekolah. Tetap memprioritaskan keluarga, serta pekerjaan yang mapan.
"Pinginnya sih jadi sugar baby-nya kamu aja, Mas," jawab Sila seraya terkekeh kecil. Hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya geli.
"Dikabulin!" sahut Zacky cepat dan penuh semangat.
"Enggak, enggak ... Mas! Aku cuma bercanda!" kaget Sila dengan mata melebar. Tidak menyangka suaminya ini menganggap serius ucapannya. "Aku nggak mau di rumah terus. Aku mau produktif juga. Pingin nyalurin hobiku yang udah lama terhenti gara-gara kamu," ujar Sila. Mana mungkin ia hanya jadi beban suaminya. Meskipun harta Zacky tidak akan habis meskipun ia keruk.
"Hobi? Apa?" Zacky penasaran dengan hobi yang Sila miliki.
Perempuan itu bukanya segera menjawab, tetapi malah menyatukan kedua ujung jarinya. Serta tersenyum begitu manis ke arah Zacky. Sungguh, membuat Zacky merinding melihatnya. Bukan karena apa, yang jelas pasti ada sesuatu yang tidak akan pernah Zacky duga nantinya dari jawaban Sila.