Our Secrets

Our Secrets
Ch. 79. Tidak Tahan Lagi



Bab. 79


Sila merasa kurang nyaman jika posisinya seperti ini. Bukan, bukan karena posisinya. Tetapi kondisi Zacky yang tidak memakai baju lah masalah utama bagi Sila. Karena matanya tidak henti-henti mencuri pandang ke arah pria itu. Lebih tepatnya ke arah dada yang terlihat begitu jelas. Sungguh, membuatnya jengkel, kesal, takut khilaf, dan juga ingin sekali membalas perbuatan suaminya. Namun apalah daya Sila tidak berani melakukannya. Lebih tepatnya belum siap menerima konsekuensi atas apa yang ia lakukan nanti.


Sama seperti Sila. Niat hati hanya ingin menarik perhatian Sila dengan cara yang diajarkan oleh Jinan, tetapi kini justru Zacky sendiri yang terjebak dengan permainannya.


Betapa tidak. Ia pria normal. Sedangkan di hadapannya ada leher mulus nan putih. Sayang banget jika tidak di ... argh! Zacky menggeleng kepala, mengusir pemikiran kotornya. Padahal ujung dari tips itu ialah memang mengarah ke sana.


Helaan napas berat terdengar dari Zacky. 'Sabar, Zack. Jangan gegabah, kalau nggak heboh nantinya.' batin Zacky menyadarkan diri.


Mereka masih berada di rumah orang tuanya. Melihat sifat Sila yang seperti itu, kalau Zacky tetap memaksanya untuk sekarang ini, sudah terbayang di kepala Zacky kehebohan apa yang akan terjadi nanti. Di tambah dengan perangai maminya yang suka sekali ikut campur dalam urusan orang.


"Udah berapa lama nggak dipotong?" tanya Zacky penasaran. Karena rambut Sila termasuk sangat panjang menurutnya.


Sila yang sedari tadi mencoba untuk mengatur napasnya, agar tidak terlihat sedang gugup pun tersentak kaget dengan pertanyaan Zacky barusan.


"Mungkin dari lulus SMP. Terus cuma potong dikit, ngilangin ujungnya doang. Kenapa? Mau nyuruh aku potong pendek? Atau dilurusin kayak tunangan Om itu?" tanya Sila seraya menoleh ke belakang. Membuat Zacky menghentikan pergerakan tangannya.


Zacky menangkup wajah Sila, lalu menghadapkan perempuan itu ke arah depan lagi. Dilihat dengan jarak yang sangat dekat, jujur saja, Zacky juga merasa gugup sendiri. Merasa bodoh karena menuruti ucapan Jinan untuk bertelanjaang dada.


"Jangan suka menuduh orang sembarangan," ingat Zacky.


Sila menatap pria itu dari balik cermin dengan bibir yang sedikit maju. Kedua tangannya menumpu di kursi.


Sementara Zacky terdiam dan melanjutkan menyisir rambut Sila. Lalu ia ikat dengan tali yang ada si atas meja rias dan mengarahkan rambut Sila ke atas. Hingga terpampang lah kulit mulus leher Sila. Padahal niatnya hanya agar Sila tidak merasa gerah.


Glek!


Zacky salah tingkah, sampai-sampai membuat pria itu mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Sila dari balik cermin.


"Nggak ada alasan," jawab Zacky dengan nada seperti tengah menahan sesuatu.


Sila dapat melihat tangan pria itu mencengkeram erat sandaran kursi yang ia duduki.


"Kenapa?" Sila memicingkan matanya menatap Zacky. "Pasti karena udah nggak ada yang dibelai belai, ya? Makanya sekarang cari pelampiasan ke aku. Atau Om masih berat ninggalin dia?" tebak Sila lagi.


Benar-benar membuat Zacky geram mendengar jawaban dari perempuan ini. Susah payah ia menahan hasr4tnya agar tidak terlalu meluap, namun justru kini tambah meledak setelah mendengar ucapan Sila.


Zacky mencengkeram bahu Sila sedikit kuat, membuat Sila bergerak panik. Ingin berdiri dari tempatnya, namun di tahan oleh Zacky.


"Aku sudah menahannya agar nggak lebih parah. Tapi kamu yang malah membuatnya lebih parah, Sila. Jangan salahkan ...."


Zacky tidak sanggup lagi menahan gejolak yang ada dalam tubuhnya. Pria itu langsung menenggelamkan kepalanya di leher Sila. Menyerang permukaan kulit yang putih bersih tersebut dan langsung menyesap serta menggigitnya kecil. Membuat Sila bergerak memberontak, namun tangan Zacky menahan perempuan itu hingga urusannya selesai.