
Bab. 51
'Ya udah, ntar sore keluar sama gue aja. Dari pada lo stres di apartemen mulu,' ajak Yuan. Perempuan itu merasa kasihan pada sahabatnya. Karena berdiam diri tanpa melakukan apapun itu sangatlah tidak menyenangkan sama sekali.
"Emangnya lo boleh keluar sama Pak Rio?" tanya Sila. Ia tidak enak kalau sampai sahabatnya itu bertengkar dengan suaminya. Karena dia sudah berumah tangga. Berbeda dengan dirinya yang masih bebas. Pikir Sila.
'Tenang aja. Ntar gue bilang mau ajak lo keluar. Pasti diijinin kok sama Mas Rio,' sahut Yuan.
Lagi pula perempuan yang tengah hamil seperti mereka juga membutuhkan hiburan. Tidak bisa ditekan dengan sikap maupun pikiran. Karena nanti akan berpengaruh pada janin yang ada di dalam kandungan mereka. Entah itu dari segi tumbuh kembangnya, atau bisa juga membahayakan sang ibunya sendiri.
"Ya udah kalau lo bilang kayak gitu. Gue juga mau keluar. Bilangin gih sama adik ipar lo. Jangan keseringan ngurung gue, kalau nggak mau terjadi apa-apa pada anaknya," ujar Sila seraya menitip pesan kepada Yuan.
'Muluuuuuttt ... udah ada anak di dalam perut, kalau ngomong masih aja ditahan!' gemas Yuan dari balik telepon sana.
Sila terkekeh mendengar suara Yuan yang berteriak dengan sangat lantang. Sampai-sampai ia menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Iya, iya. Ya udah, gue lanjut masak dulu. Laper. Salamin buat calon jodoh anak gue. Suruh baik-baik di dalam sana."
Lagi, tingkah Sila memang sangat membuat suasana semakin gaduh. Pun begitu dengan Yuan yang entah mengapa sering kali kehabisan stok sabarnya jika sudah berbicara dengan Sila. Bahkan perempuan yang dulu terkenal sangat pelit bicara namun pedas ucapannya, kini sering kali mengomel dan tak luput dari amarah yang meluap luap.
'Sepupuan. Nggak boleh jodoh-jodohan!' ingat Yuan dengan nada penuh penekanan.
Demi menjaga kewarasannya agar tetap stabil, Yuan memilih untuk menyudahi sambungan telepon di antara mereka, dari pada ia benar-benar akan hilang akal.
***
Terlebih lagi Melani yang juga semakin sibuk setelah lulus sekolah. Cewek yang masih gadis di antara mereka itu kini tengah mendapatkan pendidikan yang sangat keras dari papanya. Dia dipersiapkan untuk menjadi CEO muda, pengganti papanya yang memang sudah tua.
"Mau ke mana?" tanya seseorang yang baru masuk dan melihat Sila baru keluar dari kamarnya dan tengah menutup pintu dengan sangat pelan. Seolah takut mengganggu seseorang.
Dan benar saja. Orang yang ingin ia hindari malah kini mempergoki dirinya.
Sila berbalik badan, lalu menampilkan senyuman lebarnya.
"Mau keluar sama Yuan," jawabnya.
"Kemana?" cecar Zacky yang baru masuk ke apartemen yang sudah ia atasnamakan nama Sila.
Pria itu tampak lelah. Mungkin baru pulang kerja dan langsung masuk ke apartemen Sila. Padahal apartemen pria itu berhadapan dengan milik Sila. Apa susahnya masuk ke tempatnya sendiri.
"Cuci mata, Om. Bosen di apartemen terus. Apa lagi yang aku liat selama seminggu ini cuma wajah Om doang. Makin mu—"
Sila menghentikan ucapannya di kala melihat tatapan tajam dari Zacky.
"Ingat apa yang dikatakan oleh dokter?" ingat Zacky. "Nggak boleh berbicara buruk, apa lagi itu mengenai papinya sendiri," ucap Zacky mengingatkan pesan dari dokter kandungan, sewaktu mereka pergi memeriksakan kandungan Sila.
"Papinya siapa? Orang gue nggak punya papi," sahut Sila dengan suara yang sangat lirih. Berniat mencibir perkataan pria yang kini tengah menggulung lengan kemejanya ke atas sembari tatapannya yang tidak lepas darinya.
"Mau kuperjelas? Hmm?" tanya Zacky menatap penuh arti. Membuat Sila tidak berani berkata macam-macam lagi. Takut jika sesuatu yang ahem-ahem terjadi kepada mereka.