
Bab. 64
"Lo yakin mau kesana?" tanya Melani memastikan lagi keinginan Sila.
Bukan karena dirinya tidak bisa membayar apa yang akan diminta oleh sahabatnya ini. Namun, Melani hanya tidak yakin saja dengan model baju yang ada di butik tersebut. Karena kebanyakan yang terpampang di depan ialah baju modelan gaun pesta maupun pernikahan. Sama sekali tidak ada baju modelan santai yang dipajang.
Sementara Sila menganggukkan kepalanya dengan cepat. Perempuan itu tetap penasaran dan ingin melihat baju-baju yang ada di dalam sana. Karena ia tidak mempunyai sebuah gaun. Di mana akan ia pakai nanti di acara tujuh bulanan kehamilan Yuan. Sedangkan untuk dirinya sendiri? Sila tidak memikirkan bahkan tidak pernah terbesit dalam angannya untuk merayakan tujuh bulanan kehamilannya.
"Gue nggak punya baju bagus, Bebeb Melmel. Empat bulan lagi kan Yuan punya acara. Jadi, sebagai teman yang baik dan selalu setia kawan, gue nggak boleh membuatnya malu karena pakaian gue, kan?" ujar Sila dengan tatapan penuh mohon ke arah Melani.
Membuat Melani memutar bola matanya. Jengah melihat sikap Sila yang sok manja seperti ini jika tengah meminta sesuatu kepadanya.
"Tapi masalahnya empat bulan ke depan, perut lo udah segedhe bak mandi, Silsil," gemas Melani. Heran dengan sahabatnya ini. Apa-apa memang tidak dipikir secara matang.
Sila yang menyadari fakta itu, hanya bisa meringis.
"Ya udah, kalau begitu gaun yang agak seksian aja deh buat ntar malam. Gue kangen pingin ngafe lagi," ujar Sila yang mendapat kita kan di keningnya dari Melani.
"Lo mau ngapain ke cafe minta gaun segala macam!" cecar Melani. "Lo itu hamil. Perut lo udah keliatan buncit. Jadi jangan aneh-aneh deh." ingat Melani lagi.
"Cuma kangen pingin nyanyi doang, Mel. Baju gue yang dulu-dulu udah pada nggak bagus kalau gue pake sekarang. Mana si Robby terus hubungin gue," balas Sila sedikit manyun.
"Terserah lo deh. Awas aja kalau baju itu nanti cuma jadi pajangan di lemari doang. Bakal gue minta lagi lalu gue jual," ancam Melani dengan tatapan malas nya.
Hal itu membuat Sila langsung bersemangat. Kemudian perempuan hamil itu menarik tangan Melani dan menuju ke arah butik. Namun, karena langkah kakinya yang sembarang arah dan tidak melihat depan dengan benar, Sila pun menabrak seseorang hingga mereka sama-sama terkejut. Beruntung Melani dengan sigap memegangi tubuh Sila agar perempuan itu tidak terjatuh.
"Maaf," ucap Sila langsung sembari membungkukkan badannya. Karena memang dirinya lah yang salah.
Sedangkan wanita cantik dengan baju melekat pas di tubuhnya tersebut tersenyum manis ke arah mereka.
"Nggak apa-apa," balas wanita cantik itu.
Sila mengangkat wajahnya. Betapa terkejutnya ia melihat sosok wanita yang cantik di depan matanya saat ini. Serta postur tubuhnya seperti seorang model.
"Cantik banget," cicit Sila begitu polos. Membuat wanita itu tersenyum.
"Mau belanja?" tanya wanita itu.
Sila dan Melani mengangguk secara bersamaan.
"Dia pingin gaun pesta yang nggak terlalu kelihatan glamour, Kak. Terus ntar dipakai ke acara biasa juga bisa. Cuma masalahnya dia sedang hamil," ungkap Melani pada wanita itu. Siapa tahu saja wanita itu bisa membantu. Sebab, jika dilihat dari pakaiannya, wanita itu sangat modis sekali. Mengerti cara memadukan pakaian agar terlihat menarik. Meskipun bentuk bajunya terlihat begitu simpel.