Our Secrets

Our Secrets
Ch. 43. Perhatian Yang Ternistakan



Bab. 43


Mendengar rencana Sila yang ingin mencari ayah baru untuk calon anaknya, membuat Zacky mengambil langkah cepat. Tidak rela kalau anaknya nanti memanggil orang lain dengan sebutan yang seharusnya hanya tertuju untuk dirinya.


"Mas, nanti Papi sama Mami, kamu yang nganter, ya? Aku ada urusan soalnya. Bilangin juga kalau aku pulang ke apartemen," ujar Zacky pada kakaknya dari sambungan telepon.


Setelah mengatakan hal tersebut, Zacky mematikan sambungan telepon di antara mereka. Lalu kembali fokus pada kemudinya.


Sementara gadis yang ada di sampingnya sedari tadi terus melayangkan cubitan di lengannya.


"Ini namanya tindak kriminal loh, Om. Cepat turunin aku di sini! Aku mau pulang!" rengek Sila yang sedari tadi melayangkan protes tetapi tidak fi gubris sama sekali oleh Zacky.


"Ini mau pulang," sahut Zacky tanpa menoleh ke arah Sila. Membuat Sila lelah sendiri.


Lelah mengikuti acara wisuda sedari pagi, lalu berdebat dengan pria ini tanpa ada ujungnya, di tambah lagi perut nya yang terasa kenyang membuat Sila terlelap juga dalam duduknya.


Zacky merasa aneh karena tidak mendengar suara berisik dari gadis di sampingnya, lantas pria itu menoleh dan mendapati Sila yang tertidur dengan posisi kurang nyaman kelihatannya. Sedangkan perjalan menuju apartemen baru yang dia maksud tadi masih butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di sana.


Ketika di lampu merah, Zacky menatap wajah Sila yang terlelap. Gadis ini masih polos, masih muda, tetapi bebannya sudah berat. Lagi dan lagi perasaan bersalahnya mencuat. Mendorong dirinya untuk melakukan lebih dari ini.


"Gue harus ketemu sama Mas Rio dulu," gumamnya. Siapa tahu kakaknya itu bisa memberi solusi yang bijak.


Kalaupun ia bercerita kepada mami nya, jelas maminya akan marah besar dan membuat pertemanannya dengan tante Amira akan retak karena ulah dirinya.


"Lo apain dia sampai kayak begitu?"


Itulah kalimat pertanyaan pertama yang muncul dari Arsya. Pria itu menatap penuh selidik ke arah Zacky dan Sila yang masih terlelap.


"Jangan bilang kalau lo habis ahemin dia lagi?" tuduh Arsya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Zacky.


Zacky menaruh Sila di atas tempat tidur dengan sangat pelan, agar pergerakannya tidak mengganggu tidur gadis itu. Tidak lupa Zacky membantu melepas heels yang dipakai Sila dan menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.


"Udah tau berbadan dua, masih makai heels," omelnya lirih yang kemudian dengan seenak jidat nya membuang heels tersebut di tempat sampah yang ada di dalam kamar itu.


Arsya yang melihat tingkah Zacky, menatapnya penuh tanya. Perasaan sepatu heels milik Sila masih bagus dan tidak dalam keadaan rusak.


"Bisa kena marah lo buang barang dia sembarangan," ingat Arsya yang tidak digubris sama Zacky.


Zacky justru mendorong tubuh Arsya hingga keluar kamar yang ditempati Sila, lalu menatap asistennya itu dengan sangat serius.


"Lo jaga dia di luar. Jangan coba-coba masuk ke dalam selama gue nggak ada di sini." titah Zacky membuat Arsya semakin heran.


"Wait wait wait, ada apa ini sebenarnya?" tanya Arsya ingin meminta kepastian lebih. Karena jujur saja, ia tidak paham dengan tindakan Zacky saat ini.


"Lakuin apa yang gue suruh. Gue mau ketemu sama Mas Rio dulu. Kalau dia bangun, segera telpon gue," ujar Zacky sambil menyeret Arsya hingga keluar dari apartemen tersebut. "Jaga di sini aja." tekannya.