
Bab. 58
Sampai di apartemen, Sila menatap tajam ke arah pria yang baru masuk ke apartemen yang di tinggali. Pria itu tampak melepas sepatunya dan mengganti dengan sandal rumahan. Berjalan dengan santai menuju dapur lalu mengambil air minum. Walaupun Sila sedari tadi terus mengomel ketika mereka memutuskan menyudahi joging mereka.
"Om itu apa-apaan sih! Make nyium aku segala macam! Malu, Om! Lagian kayak yang sama pacarnya aja. Kalau emang pingin nyium, sana, cari Kak Tusha. Jangan ke aku!" tekan Sila penuh amarah.
Perempuan itu tidak bisa membendung emosinya lagi. Lagi pula, siapa yang tidak marah jika diperlakukan seperti pasangan, namun pada faktanya tidak diberi kejelasan status yang jelas. Meskipun ia sama sekali tidak mengharapkan status itu.
"Terus kenapa pula Om bersikap seolah pasangan ku? Hah! Aku nggak suka ya kalau Om menutup jalannya jodohku. Jangan mentang-mentang udah punya tunangan, terus Om bersikap seenaknya padaku. Atau karena Om pikir aku orang biasa, masih kecil, jadi bisa Om permainkan sesuka hati Om seperti apa yang Om lakukan. Begitu?"
Pecah sudah amarah yang terpendam selama ini. Padahal Sila terus berusaha mendoktrin pikirannya kalau ini yang terbaik untuk mereka, karena pada kenyataannya mereka butuh biaya untuk bertahan hidup. Membuang hati dan segala macam perasaannya pada apapun itu. Menjalani apa yang terlihat di depannya saat ini, tanpa memikirkan masalah yang akan datang.
Akan tetapi rasa sabar itu meledak sekarang. Ia sudah tidak tahan diperlakukan seperti seorang simpanan. Bukan bukan, masih mending sebagai simpanan karena masih diberi gelar. Sedangkan dirinya?
"Ck!" decak Sila seraya tertawa miris mengingat hidupnya yang seperti ini.
Perempuan itu kemudian melepas outher yang dia pakai, lalu melemparnya secara asal. Percuma saja marah-marah. Toh, dia tidak pernah di anggap dan hanya janin di dalam kandungannya lah yang pria itu perhatikan.
Tidak mau menjadi boneka dan juga orang bodoh terus menerus, Sila memilih masuk ke dalam kamar dan langsung mengambil koper yang tersimpan rapi di dalam lemari.
Membuka pintu lemarinya yang lain, mengambil bajunya dengan asal dan kasar. Ia sudah tidak tahan dengan semua ini. Main rumah-rumahan, namun tidak dimainin beneran. Sedangkan ia masih punya hati yang berfungsi dengan sangat normal.
Betapa terkejutnya Zacky ketika melihat Sila tengah mengemasi barang-barangnya dan dimasukkan ke dalam koper.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Zacky dengan nada tinggi serta menahan tangan Sila. Menatapnya dengan dada yang bergemuruh. Ada perasaan takut dia rasa.
Sila menatap tajam ke arah pria yang menghentikan pergerakannya.
"Aku capek, Om! Capek!" sentaknya dengan penuh amarah. Ini pertama kalinya Zacky melihat Sila seperti ini. Bahkan mata perempuan itu sampai berkaca-kaca.
"Iya ... aku minta maaf dengan apa yang kulakukan tadi. Udah ... jangan gegabah seperti ini, ya? Kita bicara baik-baik. Oke?" bujuk Zacky dengan nada lembut, meskipun pria itu menahan rasa geramnya.
Namun, Sila tidak luluh dengan begitu mudah. Perempuan itu menepis tangan Zacky dengan sangat kasar.
"Aku lelah seperti ini terus! Mending aku gugurin saja anak ini!" pekik Sila lagi.
Kesabarannya sudah berada di tingkat paling tinggi. Rasa cueknya seolah menguar begitu saja. Ia ingin diperhatikan. Di anggap keberadaannya. Ingin bebas seperti dulu.
"Sila ...."
"Aku beneran lelah, Om. Lelah. Salahku apa sama Om? Kenapa Om tega memperlakukanku seperti ini? Kenapa?" cecar Sila dengan nada lirih dan tatapan begitu sendu.