One Night Special

One Night Special
Satu Sifat



"Jadi, kau adalah orang yang yang membuat kami tidak bersama?!" Tanya Lorita dengan tatapan matanya yang terlihat begitu kesal seolah-olah dia ingin menerkam Amy tapa ampun.


Hah....


Mengingat bagaimana Jhon menyalahkan dirinya, bagaimana mungkin dia tidak kesal? Walaupun memang murahan, tapi dia juga tidak sejujur itu memberitahu Jhon seberapa murahannya dia!


Amy berdecih kesal, dia meniup kukunya yang sejak tadi dia rapihkan setelah memotong kukunya. Amy menatap Lorita yang masih saja terlihat kesal lalu berkata,"Kenapa? Kau marah?"


Lorita membuang nafas kasarnya, menatap Amy dengan tatapan matanya yang tajam lalu menjawab, "Aku tentu saja marah! Kenapa juga kau tidak memberitahuku dulu?!"


Amy menghela nafasnya, dia benar-benar bingung harus bagaimana menyatukan kakaknya dan juga Lorita. Yah, waktu itu hanya ide seperti itu yang dia pikirkan jadi, ya jangan salahkan dia, salahkan saja idenya yang tiba-tiba saja muncul.


"Kalau aku beritahu, yang ada kau pasti akan menyerang kakakku habis-habisan, dan aku juga cukup kasihan kalau nanti saat bangun kakakku seperti jompo yang berjalan dengan kaki mengangkang," Ujar Amy melirik menatap Lorita yah berdecih kesal.


Yah, Lorita bukan marah karena Amy sembarangan bertindak dan membuat harga dirinya sebagai wanita hancur karena bisa dengan mudah berada di atas tepat tidur tanpa busana. Yang membuat Lorita kesal adalah, seharusnya dia tidak perlu di buat mabuk sampai tidak sadarkan diri karena dia kan terbilang rugi hanya berbaring tanpa busana tapi tidak melakukan apapun.


"Cih! Pelit sekali, memang kau pikir aku ini predator mematikan apa?" Protes Lorita tak terima sebegitu buruk namanya di mata Amy sang calon adik ipar.


Heinry juga berada di sana, dia benar-benar berusaha keras untuk tidak mendengar apapun dan juga tidak ingin ikut campur dalam hal itu. Sungguh, dia tidak bisa membayangkan akan sebesar apa kekesalan yang di rasakan oleh Jhon kalau dia tahu bahwa, dalang yang telah mengerjainya adalah adiknya sendiri.


"Sayang, aku pergi ke toilet dulu ya?" Tabah Heinry yang benar-benar butuh waktu untuk menenangkan diri. Sejak Lorita datang keruang kerjanya, Heinry benar-benar tidak bisa konsentrasi karena obrolan istrinya dan juga Lorita tak bisa kalau tidak dia dengar dan pada akhirnya mengganggu pekerjaan Heinry.


"Aku ikut!" Ucap Amy seraya mengambil posisi untuk bangkit dari duduknya.


Heinry menghela nafasnya, ikut lagi? Sebenarnya, dia tahu kalau dia tidak boleh banyak mengeluh akan hal itu. Tapi, bolehkah dia minta kepada Tuhan agar Tuhan berhenti menyiksanya dengan sikap istrinya yang terus saja ingin menempel padanya.


Heinry menatap istrinya, rasanya dia ingin sekali mengatakan apa yang dia rasakan dan kekesalan karena sikap istrinya akan tetapi, begitu melihat wajah istrinya dan yang menatapnya dengan tatapan seolah mengatakan, lihat saja kalau sampai kau berani menolak! Heinry memaksakan senyumnya, mengangguk dengan cepat meski sebenarnya yang ingin dia lakukan adalah menggeleng dengan cepat.


beberapa saat kemudian.


"Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata kita bisa menjadi seromantis ini ya?" Ujar Amy sembari menatap Heinry yang kini tengah duduk di atas kloset dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu tertekan.


Sungguh, hanya Tuhan yang tahu seberapa kacanya perasaan Heinry saat itu. Rasanya, buang air besar dan buang air kecil ditonton oleh istrinya sudah menjadi sebuah kebiasaan yang sulit untuk akan dia lupakan nanti.


Amy menghela nafasnya, iya menatap Heinry dengan tatapan yang dalam lalu berkata,"Dulu, yang aku lihat adalah Ibu dan Ayahku selalu bertengkar di manapun mereka berada. Saat Ibuku mengandung anak dari suami barunya, aku juga melihat pertengkaran semacam itu bahkan saat di dalam kamar mandi pun. Menggelikan sekaligus menyebalkan, tapi untunglah kita bahkan tidak pernah bertemu karena sehebat mereka di mana pun kita berdua berada."


Heinry menelan salivanya sendiri, dia benar-benar bernafas dengan lega karena meski dia bergerundel terus menerus di dalam hati, dia sama sekali tak melakukan tindakan yang akan mengingatkan Amy dengan rasa trauma yang dia dapatkan dari pernikahan kedua orang tuanya. Untunglah, Heinry benar-benar merasa sangat beruntung karena sejauh ini dia masih bisa mengatur ekspresinya dengan sangat baik dan tidak langsung menunjukkan Bagaimana perasaan sebenarnya saat Amy terus menempel seperti perangko.


Memang benar menyebalkan sekali karena dia tidak bisa melakukan aktivitasnya dengan normal seperti sebelumnya, tapi sekarang Heinry mulai mengerti dan memahami ketakutan yang dirasakan oleh istrinya sehingga dia bersikap kekanakan seperti sekarang ini.


"Baiklah, karena kita tidak pernah bertengkar sehebat mereka, maka kita hanya perlu selalu membicarakan semuanya dengan kepala dingin dan mencari solusi agar kita tidak perlu bertengkar terlebih Jangan sampai kita bertengkar di hadapan Jeje dan begitupun saat anak kedua kita lahir," Ujar Heinry lalu tersenyum menatap Amy.


Amy juga tersenyum, Entah mengapa dia bisa melihat wajah Henry yang begitu tulus saat mengatakan semua itu membuat Amy jadi ingin membalas ketulusan itu dengan yang dia bisa.


"Ngomong-ngomong, biarkan aku yang membersihkan bokongmu ya?" Ucap Amy lalu tersenyum lebar seolah apa yang dia ucapkan sama sekali bukanlah hal yang memalukan untuk didengar oleh Heinry.


Heinry langsung kehilangan senyum yang dia perlihatkan dengan tulus beberapa detik yang lalu. Sungguh, dia benar-benar ingin membakar ucapannya tadi sampai hangus dan tidak tersisa! apa-apaan lagi ini? membersihkan bokong? Tidak, dia masih sehat bugar dan mudah, itu dia tidak membutuhkan bantuan seperti seolah-olah dia adalah contoh yang tidak bisa melakukan apa-apa!


Henry kembali memaksakan senyumnya, menatap istrinya seolah dia tidak bermaksud menolak lalu berkata,"terima kasih banyak karena sudah berniat seperti itu, tapi untuk yang itu biar aku melakukan sendiri, oke? Mana mungkin aku mengotori tangan Istriku yang cantik itu?"


Amy berdecih kesal lalu berkata,"aku tidak merasa seperti itu kok, lagi pula aku akan menyeka dengan tisu kan? Apa kau menolak karena kau merasa malu?"


Heinry menelan salivanya sendiri, lagi-lagi dia terpaksa harus tersenyum dan berkata,"Tidak kok, Mana mungkin aku merasa malu. Aku hanya, benar-benar tidak ingin istriku kotor atau terkena kuman dan bakteri yang akan membuat kehamilanmu dalam masalah. Aku juga pasti sependapat dengan apa yang aku katakan barusan bukan?"


Amy bangkit dari posisinya berjalan mendekati Heinry lalu berkata,"Kenapa kau selalu malu seperti itu? memang bagian tubuhmu yang mana yang belum pernah aku lihat dengan seksama?"


Heinry benar-benar terlihat sangat gugup dan tertekan.


"Tunggu dulu, sayang! Sebenarnya ucapan seperti itu biasanya dikatakan oleh seorang pria kepada wanitanya!"


"Sudah kubilang jangan malu-malu babi!"


"Amy,!!!!"