
Heinry menghela nafasnya, dia tersenyum dan pasrah saja apapun yang dikatakan Amy.
Sesampainya di dalam, Heinry dan Amy menu sarapan yang akan mereka makan, dan setelah menunggu sekitar dua puluh menit, nasi goreng mereka sudah tersedia.
Disela kegiatan sarapan mereka berdua,"Heinry?" Sapa seorang gadis yang super cantik. Namanya adalah Greta, dia anak dari sahabat Ibunya Heinry yang belum lama ini pernah datang kerumah dan berkenalan langsung dengan Heinry.
Heinry menghentikan kegiatannya sebentar, "Iya."
Eh?
Amy benar-benar heran dengan Heinry, dia sama sekali tidak terlihat tertarik dengan wanita secantik itu? Padahal Amy saja yang perempuan ser-seran melihatnya.
"Boleh aku bergabung?" Tanya Greta.
"Tidak!" Heinry.
"Silahkan," Amy.
Heinry menatap Amy dengan tatapan kesal, bagaimanapun dia benar-benar tidak terbiasa makan dengan orang asing.
Cih! Jangan-jangan Amy sengaja melakukan itu supaya Heinry tidak bisa menelan makanan dengan baik kan?
Greta tersenyum bahagia, lalu segera mengambil posisi duduk tepat disebelah Heinry.
"Apa kabar, Heinry?" Sapa Greta, sungguh matanya tak teralihkan dari wajah Heinry membuat Amy benar-benar tersenyum bahagia.
Yah, setidaknya Amy bisa makan dengan tenang kalau Heinry dan Greta terus mengobrol kan?
"Baik sekali," Ujar Heinry tapi di dalam hati dia berkata, baik sebelum kau datang!
Amy benar-benar menikmati sarapannya tak memperdulikan apa yang dibicarakan Heinry dan Greta.
Pokoknya kalau dia cepat selesai makannya, dia akan secepat mungkin meninggalkan restauran itu untuk menghindari dua hal penting yaitu, mengindari bayar uang bill, lalu menghindar Heinry yang semakin hari semakin aneh.
Melihat Amy makan dengan cepat Heinry mulai tahu apa yang sedang di pikirkan Amy, "Jangan harap kau bisa kabar, aku sudah bilang tadi kalau kau yang akan membayar bill nya!"
Uhuk uhuk uhuk......
Amy segera mengambil air minum dan menenggaknya hingga habis.
Sialan!
Bagaimana ini, dia kan tidak membawa uang sama sekali! Kalaupun membawa uang, rasanya dia juga rugi kalau harus membayarkan makan bagi orang kaya? Cih! Bahkan membayarkan makan untuk orang miskin saja dia jarang, kenapa repot sekali membayar makannya Heinry?
"Jagan gila kau, Heinry! Aku kan tidak punya uang!" Protes Amy membuat Greta menatap Heinry dan Amy secara bergantian dengan tatapan bingung.
"Kalau begitu, jangan berpikir untuk kabur!"
Amy menggigit bibir bawahnya, duh! Memang sejelas itu ya sampai Heinry bisa cepat sekali tahu?
Cih! Padahal disampingnya kan ada perempuan yang cantiknya seperti aktris pemain drama di televisi, apa Heinry tidak doyan?
"Kalian, ada hubungan apa?" Tanya Greta yang tidak tahan untuk lebih ingin tahu dengan jelas tentang hubungan Amy dan Heinry yang sepertinya tidak biasa.
Heinry menatap Amy, dia ingin lebih cepat menjawab pertanyaan Greta tapi kalah cepat dengan Amy.
"Tentu saja tidak ada hubungan! Orang setampan dia, kaya raya, mana mungkin memiliki hubungan dengan orang sepertiku? Yah, kalaupun memungkinkan ya cocoknya kami berdua hanyalah partner biasa saja," Ujar Amy yang sebenarnya terlalu malas untuk menjawab pertanyaan itu, tapi dia juga tidak mau kalau nanti Heinry menjawab dengan jawaban yang tidak dia sukai jadi lebih baik dia saja yang menjawab.
Greta memaksakan senyumnya, tidak ada hubungan apapun? Tapi kenapa pada akhirnya harus ada kalimat partner biasa saja? Partner biasa saja memangnya seperti apa?
Amy menghela nafasnya,"Wajahku tidak setua Heinry, kenapa aku harus menjadi teman kuliah?"
Greta kembali tersenyum, sungguh dia semakin bingung dengan jawaban Amy yang sulit untuk di artikan.
Menurut Ibunya Greta, Heinry selama ini menolak menikah dan memilih melajang jadi tidak mungkin kan wanita yang wajahnya biasa saja dan tubuhnya yang kerempeng itu adalah wanita spesial untuk Heinry?
"Oh, begitu ya? Aku adalah satu penggemar Heinry meksipun Heinry bukanlah aktor! Aku jadi agak banyak berpikir saat bertemu dengan Heinry dan melihat Heinry bersama wanita," Ujarnya lalu terkekeh seolah begitu meremehkan Amy.
Sebenarnya Amy mulai kesal dengan cara Greta bicara dan menatapnya seolah sedang menilai dan menjelaskan bahwa orang semacam Amy tentu saja tidak akan pantas kalau disandingkan dengan Heinry.
Tapi mau bagaimana lagi? Cara berpikir orang di negaranya adalah cantik ketika memiliki kulit putih bersih, mata cukup besar, gigi yang rata, langsung, montok, tinggi, ah! Ugh! Kesal sekali membayangkan hal itu, batin Amy.
"Ngomong-ngomong, apa kalian tidak sengaja di tempat ini?" Tanya lagi Greta.
Heinry masih tidak ingin bicara, dia sengaja membiarkan Greta dan Amy berbicara dan dia hanya akan menjadi penonton saja sembari berharap kalau nanti pada akhirnya Amy akan memperlihatkan sisi sebenarnya kepada Greta.
Amy tersenyum, sepertinya Greta terlalu merendahkan dirinya bukan?
"Tidak, dia yang memaksaku ikut untuk sarapan," Ujar Amy yang langsung saja membuat Greta seperti cukup tergoyahkan karena ucapan Amy barusan.
Greta menatap Heinry yang masih sibuk menikmati sarapannya, lalu kembali menatap Amy sembari terus mencoba untuk tetap berpikir positif bahwa seorang Heinry tidak akan mungkin akan mau dengan wanita yang tampangnya biasa saja.
"Ngomong-ngomong kita belum berkenalan loh, Nona. Siapa nama anda?" Tanya Greta. Dia mencoba untuk tersenyum semanis mungkin, membuat Amy justru ingin meninju wajah Greta sampai ke ujung Sumatra sana!
Amy tersenyum dengan mimik wajahnya yang kesal, bukankah kalau ingin mengajak berkenalan seharusnya dia mengulurkan tangan dan berjabat tangan nantinya?
Heh! Jadi dia merasa jijik denganku?
Entah mengapa Amy jadi berpikir kalau dia tidak akan membiarkan wanita seperti itu berada di dekat Heinry. Kenapa? Karena dia tidak akan setuju jika Heinry menikahi wanita seperti itu dan menjadikannya Ibu tiri untuk Jeje.
"Kenapa kau penasaran dengan namaku?" Tanya Amy yang tak lagi menutupi perasaannya yang kesal dengan memperjelas mimik wajahnya seperti yang sedang di rasakan oleh hatinya.
Greta mengepalkan tangannya, sungguh dia kesal dengan cara Amy menanggapinya.
"Bukankah kalau kita tahu masing-masing nama akan lebih mudah untuk menyapa?" Ujar Greta.
Amy tersenyum sinis, "Panggil saja aku Amy,"
Greta mengangguk, "Namamu Velipe Greta Jors. Biasanya orang disekitar akan memanggil dengan sebutan Greta."
Sungguh bodoh amat!, aku tidak perduli! Batin Amy.
"Ngomong-ngomong karena kau cukup dengan Heinry kau pasti tahu Ibunya Heinry kan? Dia adalah orang yang baik, kau pasti senang bertemu dengannya,"
Apanya yang senang? Biji matamu!
Sudah cukup! Amy sudah tidak tahan lagi dengan Greta yang sejak tadi terus bertanya seolah dia adalah wartawan saja.
"Tentu saja aku kenal, dia memang adakah orang yang baik! Dia juga nenek yang baik untuk anakku, walaupun ada sisi yang kurang pas bagiku, tapi anakku cukup menyukai neneknya," Ucap Amy.
Greta langsung kehilangan senyumnya.
"Kenapa anakmu menjadi cucu Ibunya Heinry?"
Amy membuang nafasnya,"Karena anakku ya anaknya Heinry. Aku kan sudah bilang kalau kami ini partner kan? Partner yang aku maksud adalah, partner untuk menciptakan anak!"
Bersambung.