One Night Special

One Night Special
Gara-Gara Bunga



Amy dan Jeje terdiam dengan sorot matanya yang terlihat begitu terkejut karena untuk pertama kalinya dia minat begitu banyak bunga yang dikirimkan seseorang padanya.


Gila!


Banyak sekali sampai bahkan mereka bisa membuka toko bunga hati itu.


"Ibu, orag gila mana yang Sudi mengirim banyak bunga seperti ini?, dia pasti adalah orang yang tidak bijak karena dengan mudahnya mengirim bunga sebanyak ini." Gerutu Jeje yang memang benar-benar bingung dengan bunga-bunga yang bermacam rupa.


Amy benar-benar tidak bisa berbicara untuk beberapa saat sehingga tidak bisa langsung menjawab pertanyaan dari anaknya.


Hathcih! hathcih!


Jeje menutupi hidungnya karena serbuk bunga mulai membuat hidungnya tidak bisa menahan lagi.


Segera Amy membawa masuk Jeje kedalam rumah dan menjauhkan Jeje dari bunga, yah maklum saja Jeje memilki alergi bunga.


"Pakai masker dulu ya sayang?" Amy segera mengambil masker penutup di kamarnya, lalu bergegas kembali dan memakaikan kepada Jeje.


"Ibu, apa aku tidak akan bisa keluar rumah hari ini? Aku kan ingin bermain di halaman rumah!" Protes Jeje begitu gejala alerginya mulai mereda.


Jhon membelikannya sepeda lagi tadi, dan tentu saja dia sudah ingin mencoba sepeda barunya tapi gara-gara orang jahat yang tidak bertanggung jawab mengirimkan banyak bunga sehingga dia tidak bisa melakukan apa yang ingin dia lakukan.


Amy menghela nafasnya, siapa lagi yang akan melakukannya kecuali, Heinry?


Kartu ucapan itu jelas mengatakan untuk Jeceline si putriku tersayang, dan Amy.


"Sayang, masuklah duku ke kamar baru Ibu akan membereskan semua bunga itu oke?"


Jeje mengangguk paham, dengan patuh dia segera masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Amy sebentar membuang nafas dan memikirkan Heinry dengan tatapan kesal.


Amy segera menghubungi Jhon, tentu saja tujuannya adalah untuk bicara dengan Heinry.


Di kantor.


Jhon mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa yang menghubunginya, dan begitu melihat itu adalah Amy, Jhon meminta izin sebentar untuk menerima panggilan telepon karena takut jika ada sesuatu yang terjadi kepada keluarganya.


Heinry benar-benar bisa melihat itu, jadi begitu Jhon kembali dia segera bertanya apa yang terjadi dan siapa yang menghubunginya karena Heinry curiga kalau orang itu adalah Amy ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Heinry karena mengirimkan begitu banyak bunga, Heinry juga memesan bunga dengan kualitas terbaik.


"Ada apa?" Tanya Heinry berbisik karena saat ini mereka sedang menghadiri rapat bulanan.


Jhon mendekatkan dirinya untuk berbisik kepada Heinry.


"Adikku marah besar, dia bilang kalau bunga yang ada di halaman, teras tidak segera kau bereskan, dia tidak akan pernah memberikan kompensasi untuk hubungan Ayah dan anak di antara kau dan Jeje."


Heinry menelan salivanya.


Bagiamana bisa Amy tidak tersentuh sama sekali dengan begitu banyak bunga begitu? Untuk bunga saja dia menghabiskan ratusan juta!


Ah, sialan! Ide itu adalah Ayahnya yang memberikan masukan.


Heinry segera bangkit membuat semua yang hadir dalam rapat itu terkejut juga menatap Heinry dengan penuh tanya.


"Silahkan lanjutkan rapatnya, Jhon akan tetap disini mewakili ku juga."


Heinry bergegas mengendarai mobilnya tapi tetap dia masih begitu ingat bahwa dia tidak boleh mengendarai dengan kecepatan tinggi, dia juga harus fokus benar agar kejadian di masa lampau tidak terulang lagi.


Beberapa saat kemudian.


"Kenapa masih disana? ayo cepat! Cepat datang kemari, singkirkan bunga-bunga ini!" Kesal Amy yang sudah sejak tadi dia tahan.


Sebenarnya bisa saja dia menjauhkan bungan itu dari teras rumah neneknya, tapi dia bingung kemana dia akan membuang Bungan itu mengingat pengangkut sampah sudah datang pukul tujuh pagi tadi, dan kalau bunga itu masih di dekat rumah bukan tidak mungkin kalau nanti Jeje akan bersin terus menerus kan?


Heinry menelan salivanya sendiri, bagaimana ini?


"Kenapa masih diam? ayo cepat!"


Heinry menelan salivanya, dengan langkah ragu-ragu dia berjalan mendekat.


Tidak, aku harus bisa!, ujar Heinry di dalam hati.


Heinry mengulurkan tangannya untuk mengambil satu pot bunga yang sedang mekar dengan indahnya. Tapi begitu tangannya menyentuh bunga,


Hathcih hathcih


Heinry langsung menjauhkan tangannya, menyeka tangannya kepada jas yang melekat di tubuhnya lalu melepaskan jas itu dan membuangnya kesembarang arah.


Amy menghela nafas kesalnya.


"Jadi kau juga alergi serbuk bunga?"


Heinry mengangguk pasrah.


"Tuhan, lelucon macam apa ini?!"


Beberapa saat kemudian.


Semua bunga-bunga itu telah di singkirkan oleh beberapa orang yang datang setelah Heinry menghubungi mereka, sekarang di depan rumah hanya tinggal di pel saja akan serbuk bunga tidak tertinggal di sana.


Di dalam kamar.


Jeje dan Heinry duduk bersama memegangi hidung mereka yang terasa sangat gatal karena serbuk bunga tadi.


"Benar-benar aneh! Bagaimana bisa orang yang alergi bunga justru mengirimkan bunga kepada anaknya yang juga alergi bunga? Apakah aku ini benar anakmu?" Ucap Jeje yang benar-benar terlihat kesal membuat Heinry merasa bersalah tapi dia kan juga tidak sengaja melakukan itu.


"Dengar nak, kita bahkan tidak pernah bicara dengan santai jadi aku mana tahu kau kalau alergiku juga sama denganmu." Ucap Heinry masih tak ingin sepenuhnya di salahkan.


Jeje mendengus kesal.


Heinry menatap putrinya yang masih juga menatap dirinya dengan tatapan kesal. Sungguh kedua bola mata itu begitu tak kuasa untuk Heinry terus bersikap dingin dan ketua seperti biasanya. Entah mengapa, tapi Jeje seperti memilki sihir yang dengan mudah bisa membuat Heinry tak bisa berkata-kata selain hanya ingin memeluknya.


Heinry dengan segera berjalan mendekati Jeje, dia bersimpuh di hadapan putrinya, dan lengkung memeluknya erat.


Awalnya Jeje merasa aneh, dia ingin meronta dan meminta untuk dilepaskan, tapi saat dia ingat bawa Heinry adalah Ayahnya, Jeje jadi diam saja tak melakukan apapun.


"Maaf, Ayah yang salah karena telah gegabah dan dengan bodohnya mengirimkan bunga padahal Ayah sendiri tidak berani mendekati bunga."


Jeje tak mengatakan apapun.


"Kita memiliki banyak kesamaan, dan juga menjadi salahku karena tidak menyadari akan hal itu."


Heinry tersenyum bahagia karena pada akhirnya dia bisa memeluk putrinya sendiri. Tubuh kecil itu membuat jiwa seorang Ayah bangkit dari dalam diri Heinry untuk melindunginya Jeje dengan sepenuh hati.


"Kenapa kau membiarkan Ibuku menderita sendirian? Walaupun aku benci mengakuinya, tapi aku anak yang suka protes dan membuat Ibu pusing. Kau seharusnya membantu Ibuku, kenapa kau membiarkan kami diluar negeri selama ini?" Tanya Jeje tiba-tiba saja membuat Heinry terdiam untuk beberapa saat.