
"Jeje, apa kau tahu? Anak dari kenalan Ayah kemarin sana sedih sampai dia sakit loh. Ayah benar-benar ikut sedih, tapi Ayah tidak kuasa karena apa yang dialami oleh anak itu sangatlah kasihan sekali, Ayah jadi tidak tega untuk mengatakan sabar," Ucap Heinry yang kini mencoba sebaik mungkin agar terlihat sedih di hadapan Jeje.
Jeje terdiam, sorot matanya yang menyelidik itu benar-benar membuat Heinry sedikit tertekan tapi karena tekadnya sudah bulat dia putuskan untuk tidak menyerah dan maju terus!
"Anak itu hampir saja di buang oleh Ayah tirinya, untung saja ada tetangganya yang tidak sengaja melihat makanya dia beruntung dia bisa selamat. Kau tahu kan betapa jahatnya Ayah tiri? Ayah benar-benar sangat takut kau akan bertemu dengan Ayah macam itu, Ayah jadi berpikir, bagaimana caranya agar kau tidak memiliki Ayah tiri dan selalu hidup dengan bahagia?" Heinry masih terlihat sedih dan khawatir membuat Jeje menghela nafasnya.
Jeje memang tidak langsung menjawab, butuh beberapa detik untuknya mengatakan apa yang ingin dia katakan, tapi ucapan Jeje benar-benar membuat Heinry mati kutu.
"Itulah kenapa Ibu tidak ingin memiliki Ayah untukku, Ibu bilang mencari Ayah memang mudah, tapi mencari orang yang tidak memilki niat jahat sangat sulit. Ayah tidak perlu khawatir berlebihan seperti itu, Ibuku tidak akan mungkin menikahi sampah semacam itu," Jeje kembali melanjutkan kegiatannya yang sejak tadi tengah mewarnai pemandangan alam.
Ugh!
Aduh, duh!
Kenapa sih Jeje susah sekali ditipu? Ternyata memiliki anak yang sangat pintar juga ada sulitnya, batin Heinry di dalam hati.
Heinry membuang matanya perlahan, kalau kembali berbicara kepada Jeje dengan hati-hati karena dia tidak ingin anaknya menyadari kepura-puraannya.
"Ngomong-ngomong, Ibumu kan adalah wanita, tentu saja ada pria yang harus berada di dekatnya supaya ada yang bisa menjaga kalian berdua kan?" Heinry menatap Jeje, dia tersenyum meski berusaha untuk meyakinkan Jeje adalah hal yang sangat sulit.
"Ibu bilang, walaupun dia adalah seorang wanita, Ibu adalah orang yang tangguh. Tidak mudah mengandung dan melahirkan serta membesarkan anak, dan Ibu bisa melewati itu semua artinya Ibu tidak terlalu membutuhkan pria," Ujar Jeje yang juga fokus mewarnai membuat Heinry benar-benar harus memutar otak bagiamana caranya membodohi anaknya itu.
"Ibumu benar-benar mengajari banyak hal ya? Padahal yang seperti itu harusnya kau tahu saat dewasa saja kan?," Tanya Heinry yang sungguh tidak tahu harus bagaimana menangani ucapan putrinya barusan.
"Kalau aku sudah paham sejak dini, maka tidak perlu menunggu dewasa kan?"
Ugh!
Ampun, ampun, ampun!
Heinry menyerah! Dia benar-benar tidak bisa lagi mencari alasan hanya untuk membodohi anaknya sendiri. Ini sudah cukup, dia tidak akan lagi.
Lebih baik mengerjakan proyek rumit dibanding harus membodohi anaknya sendiri, batin Heinry.
Jeje melirik, melihat bagiamana ekspresi Ayahnya kau menghela nafas.
"Ayah mengatakan itu apa karena ingin menjadi Ayahku?" Tanya Jeje.
Eh?
Ya ampun!
Bukanya ingin, tapi masalahnya adalah, aku memang Ayah mu!, kesal Heinry di dalam hati.
"Apa karena Ayah ingin menikahi Ibu?"
Heinry terdiam tak berani menatap ke arah putrinya. Ternyata Jeje benar-benar anak yang tanggap sekali.
"Apa itu terlalu terlihat?" Tanya Heinry kepada putrinya.
"Ibuku tidak akan mungkin mau menikah dalam waktu dekat, Ibuku tidak pernah dekat dengan pria manapun, tapi bukan berati tidak bisa di dekati."
Heinry menganggukkan kepala seolah dia begitu memahami apa yang di katakan Jeje.
"Jadi Jeje, mau tidak bantu Ayah untuk bisa menikah dengan Ibumu?" Tanya Heinry, tapi tatapan matanya yang terlihat begitu memohon membuat Jeje hanya bisa membuang nafas sebalnya. Tentu saja dia tahu bagaimana nanti Ibunya akan membuat begitu banyak alasan, juga mencoba untuk menghindari pembicaraan tentang pasangan.
"Wajah Ibu memang biasa saja, tapi harus aku akui bahwa, Ibuku adalah wanita yang sangat sulit untuk didapatkan. Tapi karena kau adalah Ayahku, aku tentu saja akan membantu."
Heinry benar-benar terlihat bahagia.
Heinry menjelaskan caranya untuk mendapatkan persetujuan dari Gozel, dan Jeje mengangguk saja.
Sebenarnya dia hujan hanya ingin membatu Ayahnya, tapi dia juga ingi membantu ibunya agar bisa sedikit lebih bersantai dalam hidup.
Jeje mulai mengerti lelahnya menjadi Ibunya beberapa bulan setelah dia masuk kedalam sekolah. Dia mulai memperhatikan satu persatu teman-temannya yang dijemput sekolah oleh Ibunya. Suatu hari dia bertanya kepada temanya apakah Ibunya bekerja untuk kebutuhan rumah, tapi Jeje di buat terdiam saat temanya mengatakan bahwa dia memiliki Ayah yang bekerja untuk menghasilkan uang sementara Ibu berada dirumah untuk mengurus rumah dan mengurus anaknya.
Jeje menyadari jika dia tidak memiliki sosok seperti yang dimiliki oleh teman-teman sekolahnya, lalu sejak itu dia mulai detail memperhatikan bagaimana Ibunya bekerja, mengambil jam istirahat kerja hanya untuk menjemputnya, lalu harus mengurus dirinya dan membersihkan rumah.
Dia mulai membenci itu, dia benci melihat Ibunya yang terlihat lelah dan kurang istirahat namun masih saja berusaha untuk tetap bahagia dan semangat dihadapan Jeje.
"Aku akan berusaha melakukan itu," Ujar Jeje setelah Heinry selesai menyembutkan apa yang harus dia lakukan kepada Gozel.
"Tolong bantu Ayah ya sayang? Bagaimanapun kalau kita tinggal bersama tentu akan menjadi begitu mudah bukan?"
Di sisi lain.
"Jadi kau masih akan pergi untuk kencan buta nanti malam?" Tanya Jhon kepada Amy yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya entah apa yang sedang dia lakukan.
Amy menatap Jhon sebentar, lalu kembali fokus dengan ponselnya.
"kalau boleh memberikan saran, bagaimana kalau kau jalani saja hubungan kalian? Yang namanya manusia pasti memilki banyak kekurangan tapi jangan lupa kalau pasti ada kelebihannya. Namanya pasnagan itu adalah saling melengkapi, dengan begitu hubungan kalian akan selalu stabil kan?"
Amy berdecih sebal.
"Hebat sekali ceramahnya, kau sendiri kenapa masih belum laku sampai sekarang? Cepat sana cari betina sebelum kemoceng berbulu mu karatan. Kau masih boleh santai sekarang, tapi kau harus ingat bahwa semakin tua kemoceng berbulu mu akan mengecil kisut dan loyo. Tidak lucu kan kalau nanti kisut nya semakin parah dan panjangnya hanya sebatas sumbu lilin saja?"
Jhon terdiam tak bisa berkata-kata.
Apa-apaan sih! Teori dari mana itu? Kisut apa lagi?
"Di jaman sekarang usia tiga puluh tahun masih muda tahu!"
Amy berdecih sebal.
"Yah, kau jangan lupa kalau teman mu saja sudah memilki anak usia enam tahun, kau punya apa di usia segitu? Kencing mu saja belum lurus." Ucap Amy.
Bersambung.