
"Diantara cucu Nenek yang lain, hanya kalian berdua yang memiliki tempat spesial di hati Nenek. Maka dari itu, Nenek janji akan berusaha untuk menjadi lebih sehat agar bisa melihat kalian lebih lama, oke?" Ucap Nenek lalu tersenyum begitu manis.
Amy menghela nafasnya, "Nenek sebaik ini, bagaimana bisa Nenek melahirkan putra yang dungu?"
Jhon mengangguk setuju dengan ucapan Amy.
"Mau bagaimana lagi? Nyatanya dia memang anak kandung Nenek, tentang sifatnya Nenek juga tidak bisa berkata apa-apa. Kakek kalian adalah orang yang sangat penyayang istri dan anak, selama puluhan tahun kami menikah, Kakek kalian sama sekali tidak pernah mengkhianati Nenek."
Jhon berdecih kesal mengingat bahwa memang benat sikap Kakek dan Ayahnya berbanding terbalik.
"Nenek sih, melahirkan anak tapi lupa melahirkan otak untuknya!" Gerutu Jhon membuat Amy terkekeh geli.
Di sudut yang tak terlihat, Heinry tersenyum hati mendengar percakapan mereka bertiga.
Mungkin orang lain tidak akan percaya jika Heinry bahkan sekalipun belum pernah menjalin hubungan pacaran, tapi memang begitulah nyatanya. Jangankan orang lain, Heinry sendiri saja pernah bertanya pada dirinya sendiri, apakah ada zat LGBT di dalam dirinya?
Sejak awal, Heinry menganggap kalau memiliki hubungan dengan wanita adalah hal yang rumit. Entah apa lagi alasannya, yang jelas Heinry bahkan tidak merasakan ketertarikan apapun dengan wanita sebelum mengenal Amy setelah hilang ingatan.
Dia pikir, dia akan membujang seumur hidup. Tapi, karena dia memiliki minat untuk menikah dengan Amy, dia juga tidak bisa mengabaikan perasaan yang tidak biasa. Belum lagi mereka kan memiliki anak, jadi Heinry semakin ingin menikah dengan Amy untuk memberikan sebuah keluarga bagi anaknya, juga karena perasaan yang terus menerus tertuju kepada Amy.
Sat Minggu kemudian!
"Bagaimana dengan ini? Kalau yang ini? Mau yang putih? Atau broken white? Apa kau ingin memakai warna agak krim? Bagaimana dengan yang agak Salem? Untuk mahkotanya, kau ingin yang sepeti apa? Perak? Emas? atau mau yang mengunakan berlian? Oh, bagaimana dengan Swarovski? Eh, sepertinya menggunakan ketiga campuran itu bagus deh!"
Amy ternganga tak tahu harus mengatakan apa.
Sejak pagi dia di culik oleh Ibunya Heinry, langsung di bawa ke butik pengantin untuk mencoba pilihan baju pengantin yang beratnya seperti satu gunung raksasa!
Tidak, bukan hanya sampai di sana masalahnya!
Amy di bangunkan oleh Neneknya, dia baru saja bangun dari posisi tidur tapi sudah di tarik keluar dari kamar, di bawa dengan buru-buru untuk masuk kedalam mobil, lalu tiba-tiba sudah sampai butik!
Rambutnya yang berantakan, masih ada sisa kotoran mata, air liur yang kering di pinggiran sisi bibir, dia bahkan tidak menggunakan bra!
Tuhan, adalah yang lebih memalukan dari pada ini?!
"Ini adalah calon menantuku! Dia sudah memberikan satu cucu yang super cantik, pintar dan baik, jadi layani dia sebaik mungkin! Apa yang dia sentuh kalian harus bungkus!" Seperti itulah yang di ucapkan oleh Ibunya Heinry begitu mereka masuk ke butik.
Itulah kenapa, hingga detik ini Amy tidak mau menyentuh apapun!
"Wah, Nona anda sangat cantik! Ya, bulu mata anda sangat panjang! Kulit anda sawo matang, ini benar-benar kulit eksotis yang sangat menawan! Rambut anda yang agak kecoklatan, dan warna gaun yang andai sangat cocok! Calon suami anda pasti sangat suka deh," Ucap pelayan butik itu.
Heh! Menjilat juga ada batasnya tahu!
Sudah, dia benar-benar tidak sanggup lagi.
Amy tak mengatakan apapun dan membiarkan saja pelayan butik yang memilihkan semua yang dibutuhkan untuk pernikahan.
Yah!
Pada akhirnya Amy memutuskan untuk menerima pernikahan ini, sungguh dengan hati yang seberat-beratnya!
Setelah semuanya selesai, Amy kini kembali duduk dan hanya bisa melihat saja Ibunya Heinry yang masih sibuk memilih beberapa pernik entah untuk siapa lagi.
Amy menghela nafasnya, dia sampai menguap karena kelelahan. Namun karena dia tak sengaja melihat ada potongan tisu pada sepatu mewah yang terpajang di sana, Amy mencoba menyingkirkan potongan tisu itu. Tapi, sesuatu yang diluar dugaan pun terjadi.
Amy membulatkan matanya, dia segera menjauhkan tangannya dan menggelengkan kepala kepada Ibunya Heinry.
Tidak! Tidak mau! Sepatu dengan heels kecil nan tinggi, dia tidak mau mencelakai diri sendiri!
"Tidak, tidak kok, Nyonya! Aku, aku cuma menyingkirkan ini!" Ucap Amy kepada Ibunya Heinry yang diam tanpa ekspresi apapun. Tapi, berada detik kemudian wajah Ibunya Heinry menjadi begitu bersemangat.
"Bagus! Selera yang bagus, Amy! Bungkus itu! Jangan lupa sesuaikan ukurannya, ambil semua seri warnanya!" Ucap Ibunya Heinry.
Amy kembali diam dengan perasaan tertekan dan pasrah.
Memutuskan untuk menikah saja hatinya begitu berat dan tidak rela, kalau tahu akan sesulit ini mempersiapkan pernikahan, memang keputusan untuk tidak menikah adalah hal yang paling benar!
Sesi belanja selesai!
"Amy, kita makan siang dulu yuk?" Ajak Ibunya Heinry yang langsung mendapatkan gelengan kepala dari Amy.
"Tidak Amy! Eh, maksudnya aku tidak bisa, Nyonya. Aku masih pakai baju tidur, belum mandi, tidak pakai bra, CD belum ganti, belum pipis, belum pup, belum segalanya!"
Ibunya Heinry terdiam, matanya berkedip beberapa kali tanpa ekspresi.
Sungguh kalau Ibunya Heinry diam seperti itu, sepertinya dunia akan terasa nyaman.
Tapi, begitu senyum kembali terbit di bibir Ibunya Heinry, Amy benar-benar mengutuk ucapannya tadi.
Wanita yang licik seperti siluman rubah ini mana mungkin akan membiarkan hidup ku aman?! Batin Amy kesal.
Beberapa saat kemudian.
"Bagaimana? Sudah lebih bak kan?" Tanya Ibunya Heinry lalu tersenyum begitu lebar membuat Amy tak tahu harus melakukan apa.
Mereka baru saja menghabiskan waktu untuk perawatan, juga spa yang begitu nyaman.
Yah, dari sekian kegiatan menyebalkan yang mereka lakukan, bagi Amy spa adalah kegiatan yang lumayan.
Setelah selesai, mereka berniat untuk makan siang bersama, tapi tiba-tiba saja Heinry menghubungi dan meminta untuk bertemu karena dia baru saja menjemput Jeje.
Sekitar empat puluh menit menunggu kedatangan Heinry dan Jeje, akhirnya mereka datang juga di restauran yang sudah menjadi tempat janjian.
"Wah! Tumben Ibu rapih dan cantik sekali!" Ucap Jeje yang kagum melihat Ibunya menggunakan pakaian rapih dan dengan tatanan rambut yang rapih.
Cih! Belum tahu saja bagaimana bentuknya Ibumu ini beberapa saat lalu, batin Amy sebal.
Heinry juga kagum, terbayar kalau berpenampilan rapih, Amy memang lebih manis dari biasanya.
"Tentu saja! Style Ibumu sangat bagus hari ini kan? Tenang saja cucuku tersayang, nanti setelah Ibu dan Ayah mu menikah, Nenek janji akan bawa Ibumu ke butik setiap hari supaya bisa membeli pakaian baru!"
Hah?
Amy ternganga dengan wajah tidak rela.
Aku benar-benar menyesal sudah menyetujui pernikahan ini!
Bersambung.