
Dengan wajah merengut sebal Jeje meraih tangan Ibunya yang terulur meminta Jeje untuk menggenggamnya dan mereka bisa berjalan bersamaan.
"Ibu pasti sengaja kan?" Tanya Jeje yang sebenarnya dia sendiri juga sudah tahu bagaimana jawabannya.
Bingo!
Amy tersenyum lebar, yah tentu saja siapapun yang melihat penampilannya malam ini pasti akan menggeleng keheranan kan? Bagaimanapun untuk bisa berdandan seperti itu membutuhkan waktu yang cukup lama dan dia juga harus serius sekali.
"Bagiamana ya? Ibu merasa kalau penampilan Ibu malam ini sangat fantastis sekali loh...."
Fantastis? Iya, sungguh sangat fantastis kalau di lihat pakai mata kaki, batin Jeje kesal.
Malam itu Jeje berangkat bersama Amy dengan taksi online karena Amy benar-benar menolak keras Heinry yang akan menjemputnya.
Beberapa saat kemudian.
Amy berjalan keluar dari taksi dengan percaya diri, sementara Jeje menunduk tak berani menatap kearah depan karena semua pengunjung restauran akan melihat kearah Ibunya.
"Wah, lihat tuh! Banyak orang yang melihat ke arah Ibu loh....." Amy menahan tawanya melihat Jeje tak berani menatap ke arahnya dan menunduk terus menerus melihat sepasang sepatunya sembari terus berjalan.
Brep.......
Ayahnya Heinry menyemburkan air minum yang baru saja masuk ke dalam mulutnya saat melihat cucunya datang bersama wanita aneh yang berpenampilan tidak manusiawi, dan mirip seperti tokoh siluman pada film jaman dulu.
Ibunya Heinry juga hanya bisa menelan salivanya menahan malu melihat Amy berpakaian sangat ketat dan terbuka. Dia tentu memikirkan benar bagaimana perasaan cucunya yang pasti sedang merasa sangat malu tapi dia juga tidak berdaya.
Heinry, pria itu benar-benar hanya bisa terdiam dan tak bisa berkata-kata. Tentu saja dia paham benar kalau Amy pasti sengaja berpenampilan seperti itu agar orang tuanya memiliki kesan buruk terhadap Amy. Yah, penampilan Amy memang seperti siluman malam ini, tapi jangan lupakan bentuk badannya yang begitu jelas lekuknya sehingga Heinry harus bisa bertahan melihat itu.
"Good Night, everybody?" Amy tersenyum lebar, mengangkat telapak tangannya dan menggerakkan jemarinya untuk menyapa.
Heinry dan kedua orang tuanya hanya bisa menelan salivanya dan tak lama mereka kompak memaksakan senyumnya.
"Selamat malam juga," Ibunya Heinry semakin melebarkan senyumnya. Yah, dia harus bisa menerima bagaimanapun bentuknya orang yang akan dinikahi Heinry, toh wanita yang mirip seperti siluman Gareng itu juga sudah lahirkan anak yang sangat cantik, super mirip dengan Heinry.
Ah, tiba-tiba saja Ibunya Heinry membatin di dalam hati apakah benar wanita itu yang melahirkan cucunya?
"Aku ingin duduk!"
He?
Ketiga orang itu menatap Amy dengan penuh tanya.
Tapi begitu melihat mata Amy yang menatap kursi, lalu menatap Heinry dengan senyum mengancam membuat Heinry segera meraih kursi kosong dan memundurkan kursinya.
"Sungguh terimakasih, tapi jadikan ini pelajaran jika nanti mengundang orang lain ya?"
Heinry benar-benar tidak bisa berkata-kata, orang tua Heinry juga hanya bisa terdiam menahan segala yang mereka pikirkan.
Ahahahaha.......
Amy benar-benar tertawa puas di dalam hati, dia sampai tidak melihat bagaimana putrinya sejak tadi menatapnya dengan tatapan kesal.
"Ah, ngomong-ngomong kita belum sempat berkenalan, Aku Ibunya Heinry, dan ini Ayahnya Heinry. Kau bisa juga memanggil kami dengan sebutan Ayah, Ibu, seperti panggilan Heinry kepada kami," Ucap Ibunya Heinry mencoba untuk memulai pembicaraan mencoba sebaik mungkin mengusir perasaan yang tidak nyaman.
Amy tersenyum, dia benar-benar gugup sebenarnya, tapi karena dia ingin memberikan kesan buruk kepada kedua orang tua Heinry, dia tentu saja harus bersiap sok berani, tidak tahu malu, tidak tahu aturan, juga murahan.
"Ah, baik Nyonya. Perkenalkan, nama saya adalah, Gozeline Amy. Anda bisa memanggil saya Amy seperti kebanyakan orang pada umumnya. Mengenai panggilan, saya hampir memiliki Ibu di setiap daerah saya tinggal sebelumnya jadi maaf biarkan saya memanggil anda seperti ini agar tidak keliru ya?" Ucapan Amy benar-benar membuat Ibunya Heinry bingung bagaimana harus dia menanggapinya.
Ah, tapi mengingat kalau Heinry hanya pernah mengatakan sekali dalam urusan menikah, dan wanita yang akan dia nikahi itu adalah wanita aneh di hadapannya, tentu saja dia tidak boleh merasa keberatan. meskipun penampilannya seperti siluman Gareng, asalkan dia adalah betina tentu saja itu tidak masalah! Apalagi dia sudah melahirkan Jeje yang memiliki wajah serta kecerdasan luar biasa, tentu saja anak kedua, ketiga, ke empat, laku keselanjutnya pasti akan seperti itu kan?
Jangan pikir aku akan menolakmu calon menantu, kau sudah ditandai sebagai mantuku! Kalau kau sudah menjadi menantuku nanti, biar aku yang akan merias wajahmu dan memberikan pakaian yang bagus tapi tidak kurang bahan seperti ini!, Batin Ibunya Heinry.
"Ah, ngomong-ngomong restauran ini panas sekali ya? Sepertinya aku menggunakan baju yang terlalu tebal," Ujar Amy membuat semua mata membulat terkejut mendengarnya.
Sungguh, Jeje benar-benar tidak tahan mendengar ucapan Ibunya dan pada akhirnya dia ikut bicara agar Ibunya berhenti bicara sembarangan.
"Ibu, jangan mengatakan yang tidak-tidak! Ibu biasanya akan menggunakan pakaian tebal meski saat musim, Em! Em!" Jeje tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Ibunya memasukkan beberapa potong kentang ke mulutnya agar Jeje tidak melanjutkan ucapannya.
Jeje menatap Ibunya dengan tatapan kesal, dia juga mengancam di dalam hati tidak akan menegur atau bicara dengan Ibunya lagi!
Kedua orang tua Heinry hanya bisa menatap bingung Jeje dan juga Amy, sedangkan Heinry sejak tadi hanya menghela nafas setiap kali Amy bicara.
"Kalau kau tidak keberatan disekitar sini ada butik kok, biarkan aku pesankan pakaian yang lebih pendek, lebih tipis juga bahannya, bagaimana?" Ibunya Heinry tersenyum begitu dia selesai berbicara kepada Amy.
Apa?
Amy menelan salivanya, sialan! Jadi ini yang di namakan senjata makan tuan?
Duh! Baju yang dia gunakan sekarang saja sudah hampir membuat nya mati kedinginan, pakaian yang lebih tipis apakah maksudnya bahan pakaian itu terbuat dari tisu?
"Bagaimana, Amy?" Tanya lagi ibunya Heinry.
Heinry memalingkan wajahnya, dia tersenyum menahan tawa melihat ekspresi Amy yang benar-benar tidak baik.
Jeje juga sama, dia cukup puas dengan cara Neneknya membuat Ibunya tidak bisa berkata-kata.
"Ah, bagaimana kalau pendingin ruangannya kita minta untuk lebih dingin lagi?" Ibunya Heinry menatap Heinry dan berkata, "Heinry, coba katakan kepada pelayan supaya membuat suhu ruangan menjadi lebih dingin!"
"Tidak!" Ucap Amy seketika dengan reflek.
"Maksudnya, tidak perlu repot-repot, aku akan mencoba santai dengan suhu di ruangan ini." Ucap Amy lalu tersenyum menyembunyikan maksud yang sebenarnya.
Bersambung.