One Night Special

One Night Special
Terharu Lagi



Ayahnya Amy menghela nafas, tentu saja dia tahu! Waktu dia datang untuk meminjam uang usaha kan dia bertemu dengan Amy dan Heinry.


"Terus mau apa? Amy bisa menikah dengan Heinry Phoulo itu adalah keberuntungan saja. Toh, Amy juga tidak berguna sama sekali! Dia selalu saja banyak alasan untuk membantu, dia bertingkah seolah anaknya akan kesulitan hidup kalau meminjamkan uang kepada Ayah. Lupakan saja!" Ucapnya.


Adik tiri Amy ternganga tak percaya lagi," Heinry Phoulo? Punya anak? Hah! Padahal dia orang yang banyak di idolakan, tapi karena aslinya jauh lebih tampan aku tidak menyangka kalau dia itu, Heinry Phoulo! Ayah, aku juga ingin menikah dengan pria seperti itu! Aku tidak mau menikah dengan pria yang Ayah kenalkan padaku! Dia terlalu kurus dan genit, aku tidak suka!" Rengek adik tiri membuat Ayahnya Amy kesal.


"Diam! Menikah saja dengan dia, Ayah butuh uang mahar itu untuk modal usaha! Percuma wajahmu cantik kalau tidak ada gunanya!"


Gadis itu terdiam, bagiamana dia tidak kesal? Ternyata selama ini dia di besarkan dengan baik, tidak pernah dimarahi saat ingin membeli baju, alat makeup dan perlengkapan kecantikan lainnya, tujuannya adalah karena dia ingin di jual kepada orang kaya?


"Ayah! Kenapa Ayah keterlaluan sekali!" Protesnya.


Ayahnya Amy menghela nafas kesal, rasanya ingin sekali memukul wajah anak gadisnya itu, tapi dia juga tidak boleh membuat wajah anaknya cacat karena dia butuh uang mahar dari pria yang akan dinikahkan kepada anaknya nanti.


"Cih! Beruntung sekali kau cantik, kalau kau jelek, aku pasi sudah memukul wajahnya sampai hancur." Ucapnya kesal.


Adik tirinya Amy menggigit bibir bawahnya menahan tangis kesedihan.


Beberapa hari kemudian.


"Heinry masih belum bisa dihubungi?" Tanya Ibunya Heinry yang terlihat begitu khawatir sekali.


Amy menghela nafasnya, sebenarnya dia juga khawatir. Entah mengapa, dia jadi terus mengingat hari dimana dia menikah dan Heinry datang memenuhi kewajibannya dengan mengabaikan luka di kepalanya.


"Tidak tahu, Bu. Kakak bilang, Heinry sudah meninggalkan kantor sekitar dua jam yang lalu." Ucap Amy yang kini tengah menahan kedua tangannya yang gemetar.


Di dalam kamar sana, sudah ada dua koper berukuran besar yang akan mereka bawa pergi berbulan madu. Rencananya, mereka akan berangkat ke bandara pukul empat sore nanti. Tapi sudah dua jam setelah Heinry meninggalkan kantor, Heinry masih belum kembali juga padahal, sekarang sudah akan pukul setengah empat.


"Duh! Heinry ini kenapa sih hobi sekali menghilang begitu saja?!" Kesal Ibunya yang juga tak bisa menahan rasa khawatirnya.


Ayahnya Heinry yang sedang bekerja saja sampai meninggalkan kantor dan sedang mencari keberadaan Heinry.


Amy dan Ibunya Heinry benar-benar tidak bisa tenang. Mereka jadi kompak mondar mandir kesana kemari membuat sepasang mata indah milik Jeje bergerak kompak ke kanan dan ke kiri.


Jeje menghela nafas, dia benar-benar duduk dengan tenang menikmati camilan rasa keju yang menjadi favoritnya semenjak di pindah ke negara asalnya.


"Duduklah, Nenek, Ibu! Mataku pusing!" Protes Jeje.


Amy membuang nafas kesalnya sembari menatap Jeje dan berkata,"Letakkan dulu bola matamu, sungguh ini gawat! Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Ayah mu?!"


Jeje kembali menghela nafas.


"Ibu khawatir?" Tabah Jeje.


"Tentu saja!" Jawabnya tegas.


"Oh, berarti Ibu cinta Ayah ya?" Ujar Jeje menganggukkan kepalanya sendiri.


"Ibu baru satu Minggu menikah dengan Ayahmu, cinta diantara kami sedang membara seperti kobaran api, Ibu bisa mati kalau Ayah mati loh."


Jeje menaikkan satu sisi bibirnya, lalu membuang nafasnya lagi.


"Drama apa lagi yang mau Ayah buat ya? Sungguh aku heran, kenapa mereka tidak tahu bagiamana Ayah yang sangat licik itu berulah," Gumam Jeje dan tak ada yang mendengar sama sekali.


Beberapa saat kemudian.


"Heinry?" Amy dan Ibunya berjalan cepat mendekati Heinry yang terlihat agak berantakan tapi untungnya tidak ada luka sama sekali.


"Heinry, kau kenapa seperti ini?" Tanya Amy sembari menatap Heinry dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Heinry membuang nafasnya, lalu mengeluarkan kotak perhiasan berukuran kecil lalu tersenyum lebar seolah dia bangga sekali saat kotak perhiasan masih ada di tangannya.


"Tadi, aku benar-benar bertarung dengan perampok yang ingin mencuri barang-barang ku! Yah, hanya ponsel yang bisa dia rebut, yang lainnya masih utuh, terutama ini! Ini aku berjuang keras menjaganya karena, aku ingin memberikan ini untukmu, Amy."


Amy menggigit bibir bawahnya, lagi? Kenapa Heinry begitu baik, kenapa dia begitu mengutamakan dirinya dibandingkan dirinya sendiri? Amy menatap Heinry dengan tatapan matanya yang terlihat sayu dan haru, membuat Heinry benar-benar seperti mendapatkan jackpot!


"Kau benar-benar pria sejati!" Ucap Ibunya Heinry yang merasa begitu bangga kepada putranya dalam membuktikan perasaan cinta.


"Terimakasih banyak, Heinry. Tapi, lain kali jangan seperti itu ya? Barang itu tidak akan bisa di bandingkan dengan nyawamu kan?"


Heinry mengangguk bahagia, dia langsung menyodorkan itu kepada Amy.


"Ini, terimalah!" Ucap Heinry.


Amy tersenyum, lalu menerima kotak itu.


"Anting?" Ucap Amy yang agak tidak cocok juga karena selama ini dia tidak menggunakan anting karena memang anting adalah benda yang paling tidak dia sukai. Ah, tidak tahu bagaimana dengan wanita lain, tapi Amy sering risih saat akan tidur, atau menyisir rambut, anting adalah benda yang menganggu!


"Aku tahu kau tidak terlalu suka anting, tapi anting itu sudah didesain dengan spesial kok supaya kau tidak terganggu saat menggunakannya," Ucap Heinry yang langsung saja membuat Amy tambah terbaru.


"Sudahlah! Ayo cepat bersiap sana, sebentar lagi kalian kan akan pergi ke bandara!" Ucap Ibunya Heinry.


Jeje membuang nafasnya, menggelengkan kepala karena dia heran dengan Nenek dan Ibunya yang tidak dapat melihat bagiamana Ayahnya begtu banyak melakukan kebohongan.


"Ayah, akting Ayah masih saja payah. Kalau aku jadi Ayah, aku pasti tidak akan berani melakukan akting payah seperti itu!" Ucap Jeje saat Ibunya Heinry dan Amy buru-buru masuk kedalam kamar untuk mempersiapkan segalanya.


Heinry menelan salivanya sendiri.


"Ayah tidak mungkin mengatakan kalau sebenarnya, ponsel Ayah di copet kan? Itu terlalu memalukan, memang kenapa kalau Ayah membuat drama yang dramatis? Kau tidak mau Ayah dan Ibu gagal bulan madu dan gagal melahirkan adik untukmu kan?" Ancam Heinry tapi, dia tidak menatap putrinya dengan dingin sama sekali.


Jeje mengangkat kedua bahunya.


"Yah, tidak tahu deh bagaimana kecewanya Ibu kalau tahu Ayah bohong hanya karena gengsi. padahal, Ibuku sudah terharu seperti itu,"