One Night Special

One Night Special
Sudah Berakhir



"Kenapa seperti itu? Kau bengek hanya karena ucapan ku barusan? Aku tidak pernah memiliki minat untuk merayu wanita, tapi sepertinya kau muda terpesona ya?"


"Dasar sinting! Terpesona mata mu! Mana ada pria yang merayu wanita dengan menyelipkan kata anjing di barisan kalimatnya?!"


"Tapi kau merespon kok." Ujar Heinry dengan santai.


"Aku merespon?" Amy membuang nafasnya, sebentar memperbaiki tarikan nafasnya, lalu tersenyum menatap Heinry.


"Benar! aku benar-benar sangat terpesona oleh rayuan mu, aku senang kau menyebut kata anjing di depan ku, jadi aku tiba-tiba saja tergugah, bagaimana kalau aku beri hadiah?" Amy mengangkat perlahan kain dress nya hingga batas paha membuat Heinry membulatkan matanya, segera dia merapatkan kedua kakinya menutup bagian resletingnya dan menutupinya dengan bantal sofa.


"Ja Jangan macam-macam!" Heinry memundurkan tubuhnya hingga pungungnya membentur senderan pada sofa yang dia duduki. Tentu saja itu karena Amy benar-benar menunjukkan dengan jelas bagaimana dia seperti ingin menerkam Heinry. Padahal Heinry kan hanya berani bicara tidak memiliki keberanian kalau untuk bertindak seperti yang di lakukan Amy.


Tentu saja Amy tidak akan mendengarkan apa yang di katakan oleh Heinry. Dia sudah cukup sabar menghadapi Heinry yang membuatnya begitu kepusingan sejak dia datang kemarin. Amy berjalan mendekat dan semakin dekat dia dengan Heinry, pria itu semakin bingung harus melindungi bagian tubuhnya yang mana. Yah, sekian di kemoceng seluruh tubuhnya memang sangat berharga kan?


"Hah! Apa, apaan kau ini?" Protes Heinry karena begitu Amy dekat dengan Heinry, Amy langsung saja duduk di pangkuan Heinry, kedua lengannya memeluk tengkuk Heinry membuat pria itu merinding atas bawah, tengah juga.


Amy tersenyum miring, tatapannya benar-benar aneh membuat Heinry tidak bisa banyak menerka apa maksud dari tatapan itu. Amy sebenarnya juga merasa malu dan malas melakukan tindakan itu, tapi dia juga tidak ingin membiarkan Heinry memang darinya.


"Le lebih baik, kau cepat bangun! Aku tidak bisa kasar dengan tubuh mu karena kau kan serang hamil!" Ucap Heinry yang saat itu benar-benar tengah menahan diri, juga menahan sesuatu yang mulai bereaksi di bawah sana.


"Benarkah? Kalau begitu biarkan aku bergerak sedikit." Amy menggerakkan pinggulnya maju, lalu mundur lagi membuat Heinry benar-benar tidak bisa menahan suaranya.


"Em!" Sial! Padahal bibirnya tertutup rapat, tapi dia benar-benar tidak bisa menahan suaranya yang keluar begitu saja karena tak tahan dengan bagian bawahnya.


"Eh, hanya seperti itu memang enak?" Tanya Amy lalu terkekeh melihat bagaimana ekspresi Heinry yang terlihat aneh sekali.


"E enak apanya?! Aku kesal sampai tidak bisa bicara tahu! Cepat bangun, atau kalau kau seperti ini terus, aku akan menunjukkan padamu berapa lama durasi ku!"


Kini giliran Amy yang gugup, dengan wajah sok tidak kenal takut dia mulai bangkit dari sana, dan dengan segera Heinry bangkit menuju kamar Amy dan berakhir ke kamar mandi.


"Dasar sialan! Cuma bisa membuat kemoceng upacara saja, sekarang aku yang repot sendiri kan?" Heinry membuang nafasnya, segera membuka resleting dan celananya untuk mengeluarkan si kemoceng, dan terpaksa pula dia menggunakan tangan untuk memijat kemocengnya sendiri sembari membayangkan sesuatu yang jelas sudah ke arah mana.


Setelah hari itu, Amy dan juga Heinry semakin tak bisa akur tidak perduli siang maupun malam, dan lagi-lagi Edith harus menjadi orang yang seperti sedang sewa di dunia ini. Entah itu hanya bertengkar karena makanan, bertengkar karena tempat duduk atau tepat tidur, bahkan pagi tadi Heinry dan Amy bertengkar hanya karena CD. Heinry menuduh Amy menyembunyikan CD nya, membuat Amy kesal bukan main dan terjadilah cekcok yang bagikan cek Cok rumah tangga.


Tak ingin berada di dalam rumah dan negara bahwa dia adalah orang asing di antara mereka, Edith berangkat bekerja pagi-pagi sekali, dan dia akan pulang terlambat juga nantinya. Tapi ternyata semua sudah berakhir, Heinry akan kembali ke negara asal untuk melanjutkan kuliahnya sehingga Edith bisa menjalani hidup seperti biasanya.


"Pakai ini untuk keperluan kehamilan." Heinry menyodorkan kartu pembayaran miliknya. Bukan sejenis kartu pembayaran tanpa batas, tapi sudah pasti lah kartu itu hanya bisa di miliki kalangan mampu.


Amy menatap kartu itu, sungguh dia tidak mengharapkan apapun apa lagi uang. Dari awal dia hanya menginginkan anak dan siap bertanggung jawab penuh dengan anaknya nanti baik secara mental maupun secara materi. Tapi entah mengapa Heinry membuat Amy merasa berterima kasih karena setidaknya ada yang memperdulikannya, meski niat untuk menerima kartu itu masih tidak ada.


"Itu tidak perlu, anak ini kan belum lahir. Nanti saja kalau anak sudah lahir kau bisa memberikan uang untuk kebutuhannya, toh kau juga masih anak Mami yang setiap harinya meminta uang kan? Simpan saja, aku masih ada uang, juga besok sudah akan bekerja, aku mampu menjaga diri dan menghidupi diri sendiri."


Heinry membuang nafas kesalnya, meraih tangan Amy dan memaksanya untuk menerima kartu pembayaran itu.


"Jangan meremehkan ku, di usia ku sekarang aku sudah produktif tahu tidak?! aku membayar biaya kuliah ku sendiri dengan uang hasil kerja di perusahaan Ayah ku, jadi jangan meremehkan ku! Terima saja dan gunakan untuk kebutuhan kehamilan." Ujar Heinry yang dengan jelas menunjukkan lewat ekspresi wajahnya jika ucapannya tak bisa di tolak.


Tentu saja Amy dengan cepat menunjukkan barusan giginya yang rapih, dia menepuk pundak Heinry dan menatapnya dengan mata berbinar-binar berbanding terbalik dari sebelumnya.


"Bagus! Aku benar-benar berterimakasih padamu, kalau semua pria seperti mu, sepertinya hamil terus dengan beberapa pria aku akan cepat kaya ya?" Ucapan Amy barusan tentu saja hanya candaan semata, tapi Heinry benar-benar tidak menganggap nya begitu. Selama ini tingkah laku Amy memang di luar akal sehat, jadi ucapannya bisa jadi akan di wujudkan olehnya bukan?


"Kau pikir mudah memiliki anak yang berbeda-beda Ayah? Jangan gila, aku tidak akan membiarkan anak ku di asuh oleh Ibu sepertimu!"


Amy berdecih sebal.


"Kalau tidak boleh punya anak lagi dari pria lain, ya sudah nanti kalau anak kita sudah lahir dan aku menginginkan anak lagi, kau harus membuatku hamil tanpa paksaan."


Heinry tercengang, sudah lah, ini benar-benar tidak perlu di lanjutkan lagi. Lebih baik dia segera berangkat ke bandara sebelum otaknya benar-benar konslet karena terlalu lama dekat dengan Amy. Heinry meraih kopernya, dan berjalan keluar rumah.


"Selama jalan, Heinry yang tampan! Jangan datang lagi, cukup kirimkan banyak yang untuk kami!"


Bersambung.