One Night Special

One Night Special
Jeje Di Culik!



Amy berjalan kesana kemari, menghubungi Edith beberapa kali tapi juga tidak bisa karena kebiasaan Edith adalah tidak mengaktifkan ponsel saat sedang bekerja. Ah...... Sial sekali! Kemana sebenarnya Jeje?


"Nyonya, maafkan saya karena saya telah melakukan kesalahan, saya akan menerima konsekuensi dari apa yang sudah saya lakukan. Jeje sudah mengatakan jika pria itu adalah pamannya, saya juga salah karena tidak bisa mencegahnya."


Amy membuang nafas kasarnya, matanya sudah sejak tadi menangis, namun karena panik yang masih bisa dia kontrol dia mengesampingkan untuk tidak banyak membuang waktu dan mencoba untuk menghubungi siapapun yang bisa dia hubungi. Pihak kantor polisi terdekat juga tidak bisa membantu dan hanya meminta Amy untuk tenang mengingat Jeje juga baru saja menghilang dan siapa tahu pria yang bersama Jeje memang adalah pamannya.


Tapi, paman apanya?! Siapa yang punya paman? Walaupun memang ada, jelas saja di negara dia tinggal Jeje tidak memiliki paman kan? Dia juga sudah memastikan tidak meningkatkan jejak agar Heinry tidak menemukan mereka, jadi kemana perginya Jeje, dan siapa pria yang mengaku pamannya Jeje.


"Nyonya, tunggu sebentar lagi ya? Pengawas kamera CCTV akan segera datang dan menunjukan rekaman saat putri anda dengan pria itu."


Amy menyeka air matanya, lalu mengangguk. Setidaknya setelah memastikan siapa pria yang membawa anaknya, dia bisa segera kembali ke kantor polisi dan dengan begitu dia bisa mendapatkan bantuan dari pihak polisi.


Beberapa saat kemudian.


"Dasar bajingan tengik sialan! Berani-beraninya curut sawah ini menculik anak ku?!" Kesal Amy begitu mendapati rekaman kamera pengawas dan terbatas kakak laki-lakinya yang telah menculik anaknya.


Menyeka terdiam sebentar merasakan bagiamana dadanya naik turun karena tarikan nafasnya yang begitu kuat, emosinya benar-benar sulit untuk di kontrol saat itu.


"Lihat saja kau ya! Kalau kau bekerja sama dengan Heinry si tampan tapi sialan itu, aku benar-benar akan mencongkel telur mu, menggorengnya dan aku berikan kepada anjing betina!" Kesal Amy membuat penjaga sekolah menelan salivanya sendiri, dia benar-benar di buat menciut nyalinya karena ekspresi marah Amy benar-benar sangat menakutkan. Entah apa sih yang di katakan Amy karena saat marah tadi Amy mengunakan bahasa asalnya lahir. Tapi tentu sajaoe.jaga itu bisa melihat dan merasakan dengan jelas bagaimana Amy yang begitu marah.


Amy sudah akan bangkit, berbekal rekaman video dan gambar dari kakaknya, Jhon Amy benar-benar akan nekad datang ke kantor polisi. Tapi baru saja dia berada dalam posisi berdiri, suara ponsel Amy terdengar menandakan adanya panggilan masuk ke ponselnya.


Ibu, aku ada di rumah!


Amy terdiam dengan wajah terkejut, dia melihat layar ponselnya, dan ternyata benar itu adalah telepon rumahnya, suara yang barusan juga adalah suara putrinya, putri yang paling dia sayangi, satu-satunya, belahan jiwanya, putri yang paling cantik sedunia, paling baik, paling pintar, paling cerewet, paling bahenol, pkoknya paling segalanya!


Segera Amy berlari meninggalkan sekolah, mengabaikan penjaga sekolah yang kebingungan.


Beberapa saya kemudian.


Brak!


Amy terengah-engah memegangi lututnya setelah dia sampai di rumah, dan di hadapannya sudah ada Amy yang duduk santai menikmati milkshake kesukaannya.


"Ibu berlari sangat cepat apakah ada pria yang menolak Ibu dan Ibu terus mengejarnya?"


Hah!


Amy dengan cepat berjalan mendekati Jeje, mencubit pipinya namun tidak kuat karena dia juga cukup sadar untu tidak membuat putrinya kesakitan.


"Dasar anak nakal! kenapa kau tidak menunggu Ibu saja?! Kenapa kau baru teringat Ibu setelah satu jam Ibu kebingungan mencari mu, Ibu juga sampai meminta izin tidak kembali ke kantor dengan alasan anak ku menghilang!"


Jeje menepis tangan Ibunya, dia menggosok pipi yang baru saja di cubit Ibunya, lalu menatap Ibunya dengan tatapan sebal.


Ugh!


Amy memaksakan senyumnya, ini Jeje sedang menyindir kalau selama ini hidupnya benar-benar tidak selayaknya anak kecil pada umumnya kan? Duh! Apakah lebih tepatnya ini adalah penjelasan dari Jeje bahwa Ibunya adalah orang yang tidak memperlakukan anaknya sesuai usianya?


"Wah, sudah pulang ya adik ku?"


Amy menoleh ke arah sumber suara, matanya membulat melihat Jhon tiba-tiba saja muncul dari dapur, membawa ayam yang jelas itu adalah ayam yang di pesan secara online.


"Kau, bajingan busuk yang menculik anak ku!" Amy bangkit dengan cepat, berlari dan langsung mengangkat tas miliknya memukuli Jhon.


"Hei, hentikan!" Kesal Jeje membuat Amy dan Jhon langsung segera menghentikan kegiatan mereka.


"Keponakan ku sayang, kau benar-benar menyayangi paman ya? Terimakasih banyak, paman akan melakukan yang terbaik supaya bisa menjadi paman yang baik untuk mu."


Jeje menghela nafasnya, menggelengkan kepala dengan tatapan yang persis seperti tatapan yang di miliki Heinry.


"Aku tidak ingin ayam goreng itu jatuh ke lantai, letakkan saja ayamnya di meja, kalau Ibu ingin memukulinya lagi, lakukan saja itu di belakang, aku ingin makan ayam goreng dengan tenang."


Hah....…


Jhon benar-benar hanya bisa menahan perasaan kecewanya, apakah benar dia memang tidak memiliki seseorang yang akan menyayanginya? Di negara asal dia di tindas oleh Heinry, di sini dia di tindas oleh titisannya Heinry.


"Selamat Amy, sepertinya sosok Heinry begitu mendarah daging pada putri mu. Kau pasti banyak menahan diri selama ini ya?" Gumam Jhon yang langsung membuat Amy mengangguk setuju. Yah, biar bagaimanapun dia tidak pernah tidak mencintai putri yang sudah dia lahirkan dengan susah payah dan penuh perjuangan.


Beberapa saat kemudian.


"Jadi Heinry kehilangan ingatan?" Tanya Amy.


Jhon mengangguk, sebenarnya menceritakan hal itu dia cukup merasa iba dan tidak tega, tapi dia juga cukup bersyukur karena pada akhirnya Heinry masih bisa tetap hidup dengan baik.


"Kau pasti sedih sekali, tapi aku yakin dia juga-"


"Benar! Bagus kalau dia hilang ingatan! Dengan begini dia tidak akan ingat kalau kami punya anak kan? Pokoknya aku benar-benar harus berdoa setiap hari, semoga saja ingatan Heinry tidak akan pernah kembali!"


Jhon ternganga keheranan.


Ya Tuhan,..... padahal Jhon pikir Amy pasti sedang sangat sedih dan kecewa mengetahui kemalangan yang menimpa Ayah dari anaknya, tapi kenapa dia malah seperti kejatuhan berlian?


"Amy, kenapa aku benar-benar merasa kau adalah orang yang sangat menakutkan?"


Bersambung.