One Night Special

One Night Special
Heinry Yang Romantis



"Maksudnya, Ibuku tidak bisa dibandingkan dengan para wanita itu? Apakah, Nenek juga akan mengatakan jika selera ayahku buruk?" Tanya Jeje yang juga berada disana. Dia benar-benar selalu di paksa ikut Ibunya Heinry kemanapun dan akan dikenalkan kepada semua orang dengan perasaan bangga.


Wanita itu langsung kehilangan kata-kata, dia tidak tahu kalau anak sekecil itu akan begitu tajam dalam berucap.


Ibunya Heinry menghela nafasnya, sungguh dia tidak suka dan tidak nyaman dengan ucapan sahabatnya itu.


"Sepertinya, aku tidak akan datang ketempat ini lagi apapun acaranya yang akan di gelar. Satu lagi, menantuku adalah orang yang baik, dia tidak seperti wanita kebanyakan. Heinry menolak semua wanita cantik itu, lalu memilih menantuku, tentu saja ada alasannya. Pertama, putraku pasti sudah menilai dengan sangat baik setiap wanita yang di jodohkan padanya. Kedua, menantuku juga cantik, dia percaya diri dan tidak pernah menyalahkan Tuhan karena dia tidak terlihat cantik menurut versi anda. Dia bangga dengan dirinya sendiri, dia mengurus cucuku selama bertahun-tahun sendiri, kalau itu wanita lain, mereka pasti sudah menuntut banyak sekali dari kami."


Wanita itu terdiam, dia bingung harus mengatakan apa! kalau sampai ibunya Heinry benar-benar tidak datang lagi ke setiap undangan yang diedarkan untuk ibunya Heinry, Tentu saja itu adalah hal yang buruk!


Ibunya Heinry adalah, orang yang paling banyak mengeluarkan dana sosial dalam setiap kegiatan. jadi dia benar-benar tidak boleh membuat ibunya Heinry tidak senang, karena teman-temannya yang lain pasti akan menyalahkan dirinya.


"Nyonya, aku tidak bermaksud seperti itu, tolong jangan salah paham! aku benar-benar hanya asal bicara saja, Tolong jangan diambil hati ya, Nyonya?" Ucap wanita itu dengan tatapan memohon, dia sungguh berharap agar ibunya Heinry tidak marah dan membatalkan ucapannya.


Ibunya Henry menatap Jeje, ia seolah ingin bertanya apa yang harus dia lakukan terhadap wanita yang baru saja menghina menantu, serta ibu kandung dari Jeje.


Jeje mahalan nafasnya dengan tatapan sebal, tentu saja dia tidak akan memaafkan orang yang telah menghina ibunya. Bagi Jeje, penghinaan yang tidak termaafkan adalah penghinaan yang ditujukan kepada orang yang telah melahirkan dirinya dengan susah payah. Siapa lagi, kalau bukan ibunya!


Ibunya Heinry memahami hal itu, dia tahu bahwa cucunya tidak akan mentolerir ucapan wanita itu yang telah mencoreng harga diri ibunya. Ibunya Heinry menghela nafasnya, dia menatap sahabat yang telah mengatakan hal buruk tentang menantunya dan berkata,"Aku tidak akan marah, aku juga tidak akan memasukkan ke hati ucapan yang telah kau katakan tentang menantuku. Tetapi, demi cucuku yang paling aku sayangi aku hanya bisa menurut apa yang dia katakan saja."


Wanita itu menelan salivanya, bagaimana ini? sepertinya apapun yang dia katakan tidak akan membuahkan hasil dan tidak akan mengembalikan situasi seperti sebelumnya. Sekarang, benar-benar hanya bisa berharap dan membujuk Jeje agar bisa membuat neneknya luluh dan membatalkan niatnya.


"Anu, Jeje nenek benar-benar minta maaf untuk apa yang nenek katakan barusan ya? Sebenarnya Nenek tidak bermaksud buruk dan menilai Ibumu seperti itu. Hanya saja, Nenek benar-benar agak terkejut karena Ayahmu akhirnya menikah setelah begitu banyak menolak wanita yang dijodohkan kepadanya. Tolong minta nenekmu untuk tidak melakukan apa yang dia katakan barusan ya?" Bujuk wanita itu sembari menatap Jeje dengan tatapan memohon.


"Tidak tahu! yang dihina kan bukan aku, Aku bukan Ibuku! Kalau Nenek ingin meminta maaf, lalu meminta nenekku untuk tidak melakukan apa yang dia katakan, tentu saja harus minta maaf secara langsung dengan Ibuku!"


Ibunya Heinry menahan tawanya, ah! gadis kecil itu benar-benar memang adalah cucunya? ketusnya memang sangat mirip dengan Heinry, tapi banyak bicaranya mirip seperti Ibunya.


Di sisi lain.


Amy tersenyum bahagia menatap Heinry membawakan seikat bunga mawar merah yang masih segar untuknya. Walaupun menerima bunga adalah hal yang biasa saja, kesannya juga sangat lebay, tetapi Amy benar-benar menyukai itu!


"Kapan kau memiliki waktu untuk membeli bunga ini? Bukankah sedari tadi kita memang selalu bersama?" Tanya Amy dengan tatapan bingung menatap Heinry yang hingga sekarang terus tersenyum ke arahnya.


"Aku sudah mencari di internet tempat penjual bunga semalam, makanya aku mengajakmu untuk jalan-jalan di dekat sini."


"Baiklah, ayo kita pergi makan malam romantis!" Ajak Heinry seraya merangkul Amy menuju salah satu tempat makan yang cukup terkenal di daerah sana.


Heinry benar-benar berlaku romantis sekali, dia yang menarik kursi agar Amy leluasa mengambil tempat untuk duduk. Heinry yang memesankan makanan, dia benar-benar sudah tahu makanan apa yang Amy sukai dan apa yang tidak Amy sukai.


Sikap Heinry barusan benar-benar membuat Amy tersentuh. Cara Heinry memperlakukan Amy, benar-benar sangat jauh berbeda dengan cara Ayahnya memperlakukan Ibunya di saat mereka sedang bersama dulu atau lebih tepatnya saat masih kecil. Walaupun mungkin, bang Heinry lakukan sekarang hanyalah untuk mendapatkan hati Amy saja, nyatanya Amy benar-benar merasa luluh dan tidak bisa menampik bahwa dia juga merasakan ketertarikan yang tidak biasa.


Tidak hanya sampai di situ saja, Heinry bahkan tidak menatap satupun wanita yang terus menatapnya dengan tatapan kagum. Yah, dia memang pria yang tidak biasa, juga bukan pria yang terlalu membanggakan ketampanan, juga uang yang dia punya sehingga dia bisa menyeleksi atau mempermainkan wanita sesuka hatinya seperti kebanyakan yang ada di luaran sana.


Setelah makan malam itu selesai, Heinry dan juga Amy pergi ke sebuah taman hiburan di mana tengah mengadakan sebuah perayaan hari besar mereka.


"Mereka benar-benar kreatif!" Ucap Amy yang merasa begitu kagum.


Heinry tersenyum dan mengangguk.


"Aku beli minuman untukmu dulu ya?" Tanya Heinry karena dia takut Amy merasa haus nantinya.


Amy mengangguk setuju dan kembali fokus dengan apa yang sedang dia lihat.


"Wah! Sialan! kenapa aku harus bertemu lagi denganmu sih?!"


Suara makian itu membuat Amy menoleh ke arah sumber suara, dan ternyata dia adalah, Lorita!


"wah sialan juga! kemarin bertemu denganmu aku tidak selera makan, jangan-jangan hari ini aku tidak selera menggunakan mataku hanya untuk melihat!" ucap Amy kesal.


Lorita berdecih sebal, Tapi saat mengingat bahwa kami adalah adiknya Jhon, Lorita jadi harus banyak mengalah.


"Lihat tuh! Suamimu tersayang sedang digoda oleh gadis-gadis cantik!" Ucap Lorita yang sempat melihat ke arah Heinry yang kini sedang dikelilingi oleh beberapa gadis cantik.


Amy menghela nafasnya lalu berkata,"Tidak takut tuh! Melihat wanita cantik sama artinya melihat tampang babi yang sedang mabuk, suamiku tidak akan tergoda!"


Lorita berdecih tak percaya,"Dasar pasangan aneh!"