One Night Special

One Night Special
Mereka Akur!



Amy menghela nafasnya karena tak bisa tidur padahal ini sudah lewat tengah malam hampir subuh. Malam itu dia tidur bersama dengan Edith karena kamarnya di gunakan oleh Heinry, walupun tidak rela dia juga tidak bisa banyak protes kan?


Sekarang dia sudah harus memikirkan benar bagaimana dia akan menjalani hidup yang mungkin akan berbanding terbalik dari sebelumnya, yah semoga saja iman yang setipis tisu di dalam dirinya mampu membuatnya tenang dan tidak melakukan hal di luar nalar karena bagaimanapun dia juga perlu memikirkan benar bagaimana pendapat anaknya nanti kan?


Di sisi lain.


Heinry juga sama sekali tak bisa tidur, alasannya adalah karena semua ucapan Amy benar-benar mempengaruhinya. Dia terus memikirkan apakah benar kemocengnya kecil? Sialnya dia bahkan sampai membuka celana dan memperhatikan miliknya padahal dia tidak pernah sampai sebegitunya. Ah, tidak! Sama sekali tidak sekecil itu!


Heinry memiringkan tubuhnya, matanya masih tak bisa terpejam mengingat betapa besar penolakan Amy kepada dirinya hingga tanpa sadar Heinry seperti sedang mendorong dirinya untuk memiliki ketertarikan kepada Amy. Tentu saja itu bukanlah hal yang dia inginkan mengingat perempuan yang begitu banyak mengejarnya, tapi aneh sekali karena dia seperti tidak bisa menerima penolakan dari Amy, dia tidak pernah di tolak jadi hal ini sangat asing bagi Heinry.


Sudah cukup lama dia tidak bisa tidur, akhirnya Heinry memutuskan untuk keluar dari kamar dan mencari udara segar. Begitu dia sampai di depan, Heinry benar-benar di buat terpaku melihat Amy yang duduk menatap langit seorang diri di sana.


"Perempuan ini tidak memiliki kewaspadaan ya?" Gumam Heinry sembari berjalan mendekati Amy.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Heinry, lalu segera mengambil posisi duduk di sebelah Amy. Melihat bagaimana Heinry duduk di sebelahnya Amy hanya bisa sedikit membatin heran, sebelumnya Heinry begitu menolak untuk dekat dengan Amy, bahkan jika masih ada tempat lain Heinry pasti akan memilih untuk menyingkir.


"Merenungi nasib."


Jawaban Amy dengan ekspresi datar itu benar-benar membuat Heinry membuang nafas sebalnya karena menyesal telah menanyakan pertanyaan itu.


"Bagaimanapun kabur ke luar negeri adalah hal yang sangat sulit bagiku, aku ingin kabur dari sana terutama kabur dari mu. Eh, tidak tahunya kau malah dengan mudahnya datang kesini. Padahal sebelumnya kau kan sangat cuek, sok tampan dan sok laris, kenapa juga tiba-tiba menghampiri ku?"


Heinry membuang nafasnya, menatap ke depan dan terdiam sebentar. Bagaimana dia akan menanggapi ucapan Amy? Heinry bahkan tidak tahu kenapa dia juga rela datang ke luar negeri hanya untuk bertemu dengan Amy. Padahal pembicaraan yang terjadi tentang anak Amy berujung dengan Heinry yang begitu di untungkan bahkan bisa menjalani hidup dengan bahagia bersama wanita yang akan dia nikahi nanti, tapi kenapa dia seperti tidak rela dan tidak terima dengan penolakan Amy? Heinry benar-benar bingung dan tidak mengerti sejak kapan dia begitu memperdulikan pendapat orang lain dengan berlebihan seperti ini?


"Mau bagiamana lagi? Aku memiliki wajah yang berada di atas rata-rata, orang tuaku juga sangat posesif dalam memilih wanita untuk ku. Aku tidak bisa sembarangan menjalin hubungan, di tambah aku juga bukan tipe pria yang akan memanfaatkan apa yang aku punya dan dengan mudahnya main celup celup lobang sembarangan. Aku juga mengutamakan kebersihan, jadi pantang bagiku membiarkan perempuan semacam dirimu menikmati kemoceng ku sesuka hati."


Amy menatap Heinry, satu sisi bibirnya naik untuk menunjukkan kepada Heinry betapa sebalnya dia mendengar apa yang di katakan Heinry.


Heinry mengalihkan wajahnya, sialan! Apa-apaan sih Amy? Lubang limited edition? Cuma Heinry yang akan tahu rasanya? Hah......Ucapan sedalam dan memalukan seperti itu bagaimana bisa keluar dari mulut gadis muda, tidak! Tidak! Bukan gadis ya, dia sudah tidak gadis lagi kan?


"Lebih baik kau mulai berhati-hati dalam bicara, bagi mu mungkin biasa saja, tapi bagi orang yang mendengarnya akan membuat orang itu jadi tidak bisa berkata-kata."


Amy berdecih sebal, bagian mana sebenarnya ucapannya yang harus dan perlu berhati-hati? Amy pikir jelas tidak perlu lagi menjaga kalimat yang akan keluar dari mulutnya karena apapun itu memang benar adanya, di tambah apa yang terjadi di antara mereka seperti sudah cukup menjelaskan untuk tidak menjaga ucapan. Toh wanita yang anggun dalam tutur kata jelas bukan gaya Amy kan? Dia di besarkan oleh seorang nenek yang cerewet, suka sekali memaki meski memang neneknya adalah orang yang baik hati jadi jangan heran dengan mulut Amy yang seperti itu.


Mereka kembali mengobrol kesana kemari, saling menyindir dan memaki, tapi mereka juga saling mendukung pada akhirnya.


Pagi harinya.


Edit benar-benar di buat menggelengkan kepala saat dia akan mengeluarkan sampah dari dalam rumah sewa menuju tempatnya sebelum truk pengangkut sampah datang nanti. Saat bangun tadi Edith sempat bingung mencari keberadaan Amy yang tidak ada di kamarnya, dia sempat mencurigai kalau Amy dan Heinry pasti berada di satu kamar sedang melakukan ewidwod tapi setelah menunggu cukup lama sembari menguping, nyatanya tak ada suara. Perlahan Edith meraih handle pintu dan membukanya dengan hati-hati. Ah, ternyata mereka tidak ada!


"Baguslah, bagus sekali kalau Amy di culik oleh Heinry, aku benar-benar bisa bernafas lega dan hidup dengan baik! Tidak perlu lagi mengurusi Amy si betina iblis, juga tidak perlu melihat yang namanya Heinry si mulut terkutuk sama saja dengan Amy. Ini benar-benar awal yang membahagiakan!" Edit tersenyum lebar, berjalan menuju dapur setelah menutup kembali pintu kamar Amy. Melihat sampah yang masih di sana, dengan segera Edith meraihnya untuk dia keluarkan dari dapur. Edith berjalan sembari bernyanyi kecil, ruang dan senang sekali karena sekarang dia bebas dari dua orang aneh itu.


"Ah, kalau begini aku bisa tenang, mencari pemuda tampan untuk di ajak pulang ke rumah, dengan begitu bisa dapat vitamin supaya awet-"


Hah?


Heinry dan Amy ternyata ada di taman rumah sewa, duduk menyenderkan punggung mereka dengan nyaman. Amy menyenderkan kepalanya di pindah heinry, sedangkan Heinry menyenderkan kepalanya di atas kepala Amy.


"Se sepertinya aku hanya akan awet tua." Edith benar-benar kehilangan wajah bahagianya.


Bersambung.