One Night Special

One Night Special
Cara Bicara Seperti Heinry



Jeje menjauhkan piring yang beberapa saat lalu dia gunakan untuk menikmati sarapannya, karena sudah habis maka artinya dia harus segera bangkit dan bersiap untuk pergi ke sekolah seperti biasanya.


"Sayang, siang nanti Ibu mungkin akan terlambat, bisa tolong tunggu Ibu sekitar lima belas menitan?" Tanya Amy yang kini sedang buru-buru menyusun apa saja yang harus dia bawa dan segera memasukkan ke dalam tasnya. Amy juga akan bekerja, tapi karena dia bangun agak terlambat pagi tadi, dia benar-benar jadi buru-buru sekali. Yah untungnya Jeje sudah bisa menggunakan sepatunya sendiri, juga sudah bisa menggunakan sendiri seragam sekolah dan menyiapkan segala sesuatu sendiri terutama tentang menyiapkan buku pelajaran.


Jeje menghela nafasnya.


"Ibu, tumbulah lebih dewasa lagi."


Ucap Jeje barusan membuat Edith yang berada di meja makan menahan tawa. Amy benar-benar hanyalah seorang Ibu tapi dia tidak dapat mengelak kalau anaknya sendiri memperlakukannya seperti adik perempuan yang ceroboh.


Setelah semuanya beres, Amy mengantarkan Jeje hingga ke gerbang sekolah, barulah setelah itu dia kembali berjalan cepat untuk menuju halte bus yang tidak jauh dari sekolah anaknya. Strategis sekali memang, Amy menemukan tempat tinggal yang tidak jauh dari sekolah, juga ada halte bus di sana, semuanya menjadi benar-benar mudah untuknya sehingga dia dapat melakukan apapun tanpa banyak membuang waktu.


Siang harinya.


Jeje menghela nafas, dia kini tengah duduk di kursi tunggu yang biasa di gunakan para murid untu menunggu jemputan orang tuanya, di sana juga ada pengawas yang di tugaskan untuk memperhatikan para murid dan jangan sampai ada hal bahaya, juga jangan sampai di jemput oleh orang yang tidak bersangkutan.


Jhon tersenyum lebar begitu sampai di sekolah Jeje, yah dia baru saja sampai dan di sinilah tujuan utamanya. Jhon mendekati gerbang besi dan sebentar mengedarkan pandangan mencari keberadaan Jeje.


Eh!


Jhon tersenyum dengan semangat begitu melihat Jeje tengah duduk bersama empat orang murid lainnya yang tengah menunggu jemputan. Jhon melambaikan tangan kepada Jeje membuat Jeje menoleh ke kanan dan ke kiri. Melihat arah tatapan orang itu jelas sekali Jeje yakin kalau dia sedang melambaikan tangan kepadanya.


"Paman gila ini siapa? Bahkan dia tersenyum sangat lebar sampai giginya terlihat semua, apa dia tidak tahu kalau terik matahari membuat giginya mengerling menyilaukan mata?"


"Dia Ayahmu?" Tanya salah satu teman Jeje yang duduk di sebelahnya.


Jeje mendengus kesal.


"Mungkinkah wajah pas-pasan seperti itu cocok menjadi Ayah ku?" Jeje menatap temanya dengan tatapan sebal membuat teman Jeje mengangguk setuju. Iya, mereka memang tidak mirip sama sekali.


"Jeceline Heinamy Gozel! Lihat sini, sayang! Ini adalah paman tersayang mu!"


Jeje menaikkan sisi bibirnya dengan tatapan heran, di tempat dia tinggal tidak ada orang yang begitu ramah dan aneh seperti itu. Orang yang tiba-tiba tersenyum lebar, melambaikan tangan kepada anak kecil, sudah pasti orag itu adalah pedofil!


Jeje masih duduk di tempatnya, seperti yang Ibunya pesankan bahwa, Jeje tidak boleh mendekati kepada orang yang tidak di kenal, apalagi orang yang sembarangan tersenyum, menyapa dengan sangat ramah. Beruntung lah di sana ada penjaga sehingga penjaga itu langsung mendekati Jhon dengan batasan gerbang yang masih tertutup di antara mereka berdua.


"Anda siapa?" Tanya penjaga itu dengan bahasa asing, bahasa di mana negara itu tinggal.


Jhon tersenyum ramah, untunglah dia memiliki kemapuan untuk berbicara asing, ini benar-benar sangat mendukung!


"Namaku Jhon Melther. Aku adalah kakak dari Ibunya Jeceline, kalau anda tidak percaya maka anda bisa melihat photo kami berdua yang di ambil sekitar sembilan tahun yang lalu." Jhon mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan photonya bersama Amy dan keluarga dalam upacara pernikahan Ayah mereka saat itu. Tentu saja penjaga itu tidak mudah percaya, photo itu bisa di edit kan? Di jaman canggih seperti ini sudah bukan hal yang aneh dan tidak mungkin menyatukan photo menjadi satu.


"Akan saya tanyakan secara langsung, namum jika Jeceline tidak mengenal anda, maka tolong pergilah dari sini."


Jhon tak bisa bicara, sungguh dia tidak mengerti kenapa orang di sana benar-benar sangat serius dan tidak suka tersenyum. Padahal banyak tersenyum itu membuat awet muda kan?


"Jeceline, kau kenal paman itu? Dia bilang dia adalah paman mu, dia juga menunjukan photonya dengan Ibumu tapi photo itu di ambil sembilan tahun yang lalu, dan tidak tahu asli atau tidak."


"Kau sungguh kenal?" Tanya lagi penjaga itu. Jeje kembai mengangguk.


"Jeceline, Ibu mu pernah menitipkan pesan bahwa hanya dia yang bisa menjemput mu."


Jeje menatap penjaga sekolah itu dengan tatapan memohon, matanya yang indah itu benar-benar membuat penjaga luluh dengan begitu mudah.


"Aduh! Si cantik Jeceline, tidak bisakah jangan menatap ku dengan tatapan seperti itu?"


Jeje tersenyum, dan penjaga meraih tangan Jeje untuk dia ajak ke gerbang sekolah. Jhon benar-benar girang sekali, dia dengan wajah semangat menyambut Jeje yang berjalan mendekatinya.


"Apa artinya mengunyah buah persik tapi menelan kerikil?"


Heh?


Jhon yang sejak tadi tersenyum kini benar-benar menatap Jeje dengan bingung. Duh! Apakah anak jaman sekarang memang suka berbicara aneh? Ah, sepertinya anak yang besar di luar negeri memang aneh. Tapi, kenapa itu menjadi pertanyaan? Tunggu, jadi apa itu mungkin adalah sapaan? Padahal dia ingin langsung memeluk Jeje dan mencium pipinya, rasanya untung sekali memiliki keponakan yang sangat cantik kan?


"Bodoh seperti Ibuku, berarti kau benar adalah paman ku."


Ugh!


Jhon benar-benar kehabisan kata-kata, kenapa anak kecil di hadapannya benar-benar sangat suka menghina Amy dan juga dirinya? Sungguh titisan si bajingan yang bernama Heinry. Bukankah sudah cukup memiliki wajah seperti Heinry? Kenapa mulutnya harus sama seperti mulut Heinry juga?


"Ha halo, keponakan ku tersayang? Sepertinya kau tumbuh besar dengan sangat baik, paman senang bertemu dengan mu."


Jeje menaikkan satu sisi bibirnya dengan tatapan mencemooh.


"Percayalah, orang yang mulutnya semanis madu, hatinya pasti sangat busuk."


Ugh!


Lagi-lagi kenapa ucapannya benar-benar mengingatkan Jhon kepada Heinry?


"Begini, Jeceline. Paman benar-benar sedih sekali, cukup wajah mu saja yang mirip dengan Heinry bajingan itu, tolong jangan cara bicara mu juga." Ucap Jhon dengan wajah sedihnya.


Jeje tersentak.


"Heinry itu Ayahku? Dia tidak mati?" Tanya Jeje.


"Rencananya aku yang akan membuat dia mati." Jawab Jhon.


Jeje menyipitkan matanya.


"Ayo ajak aku! Mari kita lakukan bersama!" Ucap Jeje dengan wajah yang terlihat begitu serius.


Bersambung.