
Amy perlahan menggerakkan kedua kakinya, berjalan mendekati kamar mandi untuk memuntahkan makanan yang masuk ke dalam perutnya. Sungguh sangat menyiksa sekali, rasanya dia begitu sayang untuk memuntahkan makanan itu, tapi kalau tidak di muntahkan juga hanya akan membuat dadanya sesak dan perutnya terus merasa tidak nyaman.
Dia sudah tidak bisa memanggil Edith lagi untuk membantunya, Edith sudah pergi untuk bekerja dan tinggal Amy seorang diri sekarang.
"Aduh......!" Ay mengeluh memegangi perutnya, tak lama dia benar-benar memuntahkan semua yang dia makan pagi tadi. Sebenarnya kalau boleh jujur apa yang terjadi sekarang benar-benar memuat Amy merasa kesal kepada Heinry. Kenapa? Itu karena Amy menuduh kalau Heinry pasti tidak rela kalau sper** nya di curi jadi setelah tumbuh menjadi janin, janin itu pasti bekerja sama dengan Ayahnya membuat dia merasa kesulitan kan?
"Heinry, kau seharusnya rela saja kan? Memang apa ruginya menyumbangkan sper** kepada wanita yang kasihan sepertiku? Aku ini sudah hanya hidup dengan nenek ku saja, di tinggal meninggal dan harus hidup sendiri, sekarang pun aku harus tersiksa sendiri." Amy terduduk di lantai kamar mandi, merasai tubuhnya yang lemas tak berdaya.
"Amy, kau benar-benar gadis cantik yang malang....." Amy mengusap kepalanya sendiri, mengasihani dirinya sendiri karena itu lebih baik di banding melihat orang lain mengasihani dirinya.
Amy memegang perutnya dengan lembut, mengusapnya dan berucap sesuai dengan apa yang dia inginkan.
"Sayangku, tolong lah jangan begini oke? Bagiamana kalau biarkan saja si Heinry yang pelit itu saja menderita? Asal kau tahu sayang, gara-gara sifat pelitnya itu kau hampir saja tidak jadi tumbuh loh di rahim Ibu."
Di sisi lain.
"Kak, bagaimana kalau setelah ini selesai kita pergi untuk menonton film? Sahabat ku mengatakan jika ada film horor terbaru, dan katanya juga adalah film horor terbaik sepanjang sejarah." Ajak Cheren dengan tatapan manjanya, menggenggam erat tangan Heinry sejak tadi padahal kalau boleh jujur Heinry benar-benar ingin sebentar saja melepaskan tangannya agar bisa menyeka keringat di telapak tangannya. Saat itu mereka sedang memesan cincin yang akan mereka gunakan untuk bertunangan, jadi Cheren pikir ada baiknya mereka pergi menonton bioskop seperti kebanyakan pasangan lainnya sekaligus membuat jarak mereka semakin dekat dan bisa mengetahui sifat mereka masing-masing.
Tidak mau!
Seperti itulah yang sebenarnya ingin Heinry katakan, tapi dia tidak bisa mengatakan apa yang ingin dia katakan karena dia ingat benar bagaimana Ibunya menitip pesan untuk jangan membuat Cheren kecewa, dan dia harus lebih mendekatkan diri dengan Cheren agar saat menikah nanti mereka sudah tidak kaget dengan sifat dan sikap masing-masing.
"Iya."
Cheren tersenyum dengan senang, mengubah tangannya yang tadi terus menggenggam menjadi memeluk lengan Heinry erat, sangking eratnya sampai lengan Heinry menyadari jika bagian benda kembar milik Cheren mengenai kulit lengannya, segera Heinry mengalihkan pandangan dengan mimik wajah yang tidak biasa. Bukan dia merasakan sesuatu terhadap Cheren, tapi dia justru mengingat Amy dan segala bentuk tubuhnya. Ah.......! Sial sekali, padahal Heinry juga beberapa kali melihat film por** tapi dia masih bisa menahan itu, tapi kenapa sekarang sedikit sedikit dia jadi teringat dengan Amy?
Beberapa saat kemudian.
Cheren dan juga Heinry kini sudah ada di dalam, ada dua gelas soda dan juga popcorn yang mereka bawa seperti kebanyakan para pengunjung lain.
Film di mulai, suasana hening kengerian juga mulai di rasakan oleh para penonton kecuali Heinry. Dia benar-benar hanya bisa menghela nafas melihat bagaimana hantu keluar dari kubur, berjalan merangkak bahkan bisa dengan cepat menuju tempat tujuan.
"Ah.....!" Cheren memeluk Heinry karena dia benar-benar merasa takut, tapi Heinry jutsru tidak tahu kalau di saat seperti itu seharusnya dia membalas pelukan Cheren dan mengatakan jika itu hanyalah film saja. Heinry jutsru membatin kesal dan bingung, kenapa harus pergi ke bioskop dan menonton jika yang di lakukan oleh Cheren adalah menyembunyikan wajahnya? Memeluk terlalu erat membuat Heinry tidak nyaman tapi dia juga harus menahan perasaan itu hingga jadi kesal sendiri.
"Kak, tadi film nya seru sekali ya?" Ucap Cheren masih saja tak melepaskan lengan Heinry.
Seru? Apanya, bagian mana yang seru kalau sedikit sedikit sudah menutup mata dan menyembunyikan wajahmu?
"Iya."
Heinry benar-benar tidak harus menjawab apa, semoga saja Cheren sudah cukup puas dengan jawaban singkat itu.
Cheren memaksakan senyumnya, bagiamana pun Heinry memang pria yang tidak banyak bicara, tidak di minta untuk menjauh seperti kebanyakan wanita lain yang coba mendekati Heinry saja Cheren merasa bahagia sekali. Meskipun memang Heinry terkesan tidak tertarik, Cheren benar-benar berharap pada akhirnya mereka bisa hidup bersama dan bahagia sebagai padangan suami dan istri juga memiliki anak bersama.
Selama di perjalanan pulang, Cheren begitu banyak bicara dan Heinry benar-benar banyak bergerundel di dalam hati. Baru saja rencana pertunangan akan di bahas, Cheren sudah menceritakan banyak hal yang akan terjadi di masa depan jika mereka hidup bersama. Memiliki rumah sendiri, melakukan apapun berdua, memiliki visi dan misi bersama, juga melahirkan banyak anak.
Cih!
Bibir Heinry benar-benar pegal karena harus terus menanggapi semua ucapan Cheren dengan senyumnya, juga kata iya. Sekarang kalau harus ikut membayangkan semua ucapan Cheren yang begitu indahnya menggambarkan kehidupan rumah tangga, sepertinya anak TK saja sudah memimpikan dan menjadikan menikah adalah sebuah cita-cita.
"Kak Heinry, bagiamana kalau besok kita liburan bersama? Aku ada daftar tempat bagus di luar negeri."
Heinry lagi-lagi harus memaksakan senyumnya.
"Bagaimana kalau lain kali saja? Ada banyak hal yang harus aku kerjakan sampai bulan depan."
Cheren tersenyum tapi tatapan matanya terlihat kecewa. Ah, sial! kenapa juga dia tiba-tiba mengingat Amy si wanita gila yang selalu mengejar-ngejar Heinry? Wanita itu pasti sering mendapatkan penolakan dari Heinry kan? Penolakan seperti ini sudah pasti adakah hal yang biasa untuk Amy kan?
"Oh iya kak, perempuan gila yang mengejar-ngejar kak Heinry itu kemana dia pergi ya? Aku sudah lama tidak melihat dia."
Heinry membulatkan matanya, reflek dia menginjak rem membuat mobilnya berhenti seketika.
"Ke kenapa kau bertanya padaku?"
Bersambung.