
Halo kesayangan?
Sebelumnya, mohon maaf sekali karena othor tidak pernah balas komentar kalian semua ya? Othor baca komentar dari kalian Sebenarnya, tapi waktu hampir tidak ada untuk balas komentar 🙏🙏🙏🥲🥲
Terimakasih sudah tetap memberikan like dan komentarnya, terimakasih masih setia menunggu cerita ini up setiap hari.
Maaf juga untuk typo yang sedang perlahan untuk diperbaiki, mohon jangan sungkan untuk mengingatkan bagian yang typo ya kesayangan.....
Terimakasih, enjoy, dan semoga ceritanya tidak membosankan ya 😘😁
Amy tersenyum, hinaan seperti itu sungguh tidak membuat Amy merasa gentar sama sekali.
"Dulu, kau selalu saja menuntut atas uang sampai Ayahku tidak ada waktu untuk menyisihkan uang padaku. Tetapi, bukankah yang paling penting adalah hasil akhirnya? Walaupun memang kau cantik dan penampilanmu cukup baik, siapa yang akan menjamin kau memiliki nasib yang baik?, iyakan suamiku sayang?" Amy menoleh menatap Heinry dengan bibirnya yang tersenyum, namun matanya melotot mengancam agar Heinry membantunya dalam membungkam mulut sialan saudari tirinya.
Heinry menahan tawanya, lalu mengangguk.
"Nona, semua yang menempel di tubuhmu itu, bahkan masih belum cukup untuk membeli baju yang di gunakan oleh istriku. Tolong jangan asal bicara kalau kau sendiri tidak tahu apapun," Ucapan Heinry barusan benar-benar membuat kedua bola mata wanita itu melotot terkejut, tak percaya jika pria tampan, pemilik mobil mewah yang sejak tadi berdiri di sana adalah suaminya Amy.
Amy tersenyum, menatap adik tirinya dengan tatapan menghina yang begitu sukses membuat adik tiri Amy tidak bisa berkata-kata.
"Tidak mungkin...." Ucapnya pelan dengan tatapan tidak percaya.
Heinry menghela nafasnya, sudah waktunya semua diakhiri. Penderitaan, rasa sakit, penghinaan, trauma dan Kekecewaan serta ketakutan yang di rasakan oleh Amy.
"Nona, kau sepertinya memiliki Kebiasaan untuk merendahkan istriku. Tapi, kalau aku boleh memberikan saran, cobalah untuk melihat dirimu sendiri, sebenarnya kau memiliki jutaan kekurangan. Kau tidak bisa melihat kekurangan mu, karena kau fokus dengan kekurangan Amy. Itu, adalah salah satu alasan kenapa hati ku memilih Amy sebagai istri dan Ibu dari anak kami. Aku benar-benar bersyukur karena tidak memiliki minat dengan wanita sepertimu, entah akan bagaiman caramu mendidik anakmu nanti."
Adik tiri Amy terdiam tak bisa berkata-kata, dia jelas tidak bisa sembarangan bicara karena suami Amy pasti bukan orang biasa yang bisa di rendahkan seperti dia merendahkan Amy.
"Cobalah untuk menjaga caramu bicara dengan istriku, aku harap kau memenuhi apa yang aku katakan, karena kalau tidak, aku tidak janji apakah masih bisa membiarkanmu bisa makan nasi dengan baik atau tidak," Heinry berucap dengan mimik serta suaranya yang terdengar dingin dan begitu mengancam membuat adik tiri Amy memilih untuk segera pergi dari sana.
Amy menghela nafasnya, mungkin di lain hari dia masih bisa bertemu dengan saudari saudara tirinya yang lain, tapi dengan ini Amy akan siap kapan saja. bertemu mereka tanpa rasa canggung apalagi merasa tertekan.
"Sepertinya, kita harus mengumumkan hubungan kita secara jelas agar hal seperti ini tidak akan terjadi lagi," Ujar Heinry setelah ikut menghela nafas dan sejenak memikirkan segala kemungkinan kalau saja nanti Amy akan bertemu dengan para saudara yang tidak tahu seberapa banyak jumlah yang sebenarnya.
Amy mengangkat kedua bahunya lalu berkata,"Tidak tahu, lebih baik jangan. Kau bisa malu kalau memiliki istri sepertiku!"
Heinry menatap Amy dengan mimik wajahnya yang jelas menjelaskan kalau dia tidak menyukai apa yang di ucapkan Amy barusan.
"Kenapa aku harus malu? Memang kau kenapa? Kau manis, kau juga cantik, kau," Heinry tidak lagi melanjutkan ucapannya saat matanya minat sorot mata Amy yang berbinar bahagia karena mendapat pujian dari Heinry.
"Tapi, tetap saja kau mengembalikan!" Heinry mengakhiri ucapannya.
"Hei, suamiku! Kau tidak mau membukakan pintu untukku?" Tanya Amy.
Heinry berdecih sebal lalu berkata,"Kau buka jompo, kenapa aku harus membukakan pintu?"
Amy menaikkan satu sisi bibirnya, dia yang tidak sengaja melihat seorang pria lewat segera menghentikan pria itu.
"Aduh! Kakak tampan, maafkan aku menganggumu, tapi boleh tidak bantu aku bukakan pintu mobil? Tanganku sedang kram!" Ucap Amy dengan mimik wajahnya yang terlihat begitu manja.
Pria itu dengan segera mengangguk, dia juga sudah bersiap-siap untuk megambil posisi membukakan pintu mobil tapi, Heinry sudah lebih dulu keluar dari mobil, lalu sengaja menyenggol tubuh pria itu untuk menjauh dari istrinya sehingga dia bisa dengan leluasa membukakan pintu untuk Amy.
Pria itu benar-benar bingung sekali, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari berpikir, apa salahnya sih? Kalau pun bertengkar, kenapa dia harus terseret dan mendapatkan tatapan tajam dari Heinry yang sama sekali tidak dia kenal? Hah! Ternyata terlalu baik juga bukanlah hal yang baik! Ujarnya di dalam hati seraya melangkahkan kaki pergi menjauh dari sana sebelum nantinya dia kena sleding dari Heinry.
Amy mengigit bibir bawahnya menahan dirinya untuk tidak tertawa. Yah, Heinry ternyata benar-benar seperti anak kecil yang mudah sekali merasa cemburu.
"Kalau sampai aku melihat wajahmu yang imut seperti tadi ditunjukan kepada orang lain, aku benar-benar akan membunuh,"
"Membunuh siapa?" Tanya Amy sebelum Heinry melanjutkan ucapannya itu.
Heinry membuang nafasnya lalu berkata,"Tentu saja membunuh orang itu, siapa lagi?!"
Amy memaksakan senyumnya. Oke, baiklah! Sudah cukup, dia tidak ingin banyak tingkah lagi karena melihat Heinry yang seperti anak kecil terus menerus seperti ini ternyata cukup muak juga.
Di sisi lain.
"Ayah!" Panggil adik tirinya Amy yang beberapa waktu lalu bertemu dengan Amy.
Ayahnya Amy menghela nafasnya, mengusap wajahnya dengan kasar setelah meletakkan tumpukan nota di mejanya.
"Kenapa kau datang-datang langsung memasang ekspresi seperti itu? Kenapa juga kau memanggil Ayah dengan nada yang membentak?" Tanya Ayahnya Amy yang juga tak kalah kesal kepada adik tirinya Amy.
"Barusan, aku bertemu dengan Amy! Ayah tahu yang paling mengagetkan? Amy sudah menikah dengan pria tampan dan juga memiliki mobil mewah!" Ucapnya dengan mimik wajahnya yang terlihat menggebu-gebu.
Ayahnya Amy menghela nafas, tentu saja dia tahu! Waktu dia datang untuk meminjam uang usaha kan dia bertemu dengan Amy dan Heinry.
"Terus mau apa? Amy bisa menikah dengan Heinry Phoulo itu adalah keberuntungan saja. Toh, Amy juga tidak berguna sama sekali! Dia selalu saja banyak alasan untuk membantu, dia bertingkah seolah anaknya akan kesulitan hidup kalau meminjamkan uang kepada Ayah. Lupakan saja!" Ucapnya.
Adik tiri Amy ternganga tak percaya lagi," Heinry Phoulo? Punya anak? Hah! Padahal dia orang yang banyak di idolakan, tapi karena aslinya jauh lebih tampan aku tidak menyangka kalau dia itu, Heinry Phoulo! Ayah, aku juga ingin menikah dengan pria seperti itu! Aku tidak mau menikah dengan pria yang Ayah kenalkan padaku! Dia terlalu kurus dan genit, aku tidak suka!" Rengek adik tiri membuat Ayahnya Amy kesal.
"Diam! Menikah saja dengan dia, Ayah butuh uang mahar itu untuk modal usaha! Percuma wajahmu cantik kalau tidak ada gunanya!"