
Heinry keluar dari kamar mandi dengan mimik wajahnya yang kesal. Iya, kesal sekali sampai wajahnya memerah. Selama itu dia berada didalam kamar mandi, yang di lakukan oleh Amy hanyalah mengotak Atik miliknya, tapi begitu miliknya bereaksi, Amy justru seperti buta, tidak melihat apapun dan tidak perduli sama sekali.
Amy sudah keluar dari kamar mandi sejak tadi, bahkan dia juga sudah mulai tidur dengan nyaman. Sedangkan Heinry, dia baru saja keluar dari kamar mandi karena penting baginya mengeluarkan sesuatu yang harusnya dia keluarkan.
Heinry membuang nafas kasarnya, sudahlah! Memang Amy bukanlah wanita yang bisa dia paksa mengingat Amy memang wanita yang memiliki sikap tidak biasa. Heinry berjalan untuk mengambil pakaiannya, lalu segera dia menggunakan pakaian yang sudah dia siapkan dan bergegas untuk mengambil posisi tidur di sebelah Amy.
Heinry tersenyum menatap Amy yang tidur miring menghadap ke arahnya. Kini, mereka berdua bisa berhadapan wajah dengan jarak yang begitu dekat meski Amy tidak bisa melihat Heinry saat itu.
Perlahan, Heinry menjalankan jemarinya untuk mengusap wajah Amy dengan lembut. Entahlah, lagi-lagi Amy terlihat sangat manis, bahkan saat dia sedang tidur!
"Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta dengan wanita sepertimu? Disaat semua wanita lain menatapku dengan tatapan kagum dan ingin memiliki, kau justru mendelik dan meminta ku untuk menjauh darimu. Dari sekian banyak gadis, kau adalah orang yang paling berani dalam menyentuhku. Tapi, kau juga adalah satu-satunya yang memiliki arti untuk hidupku. Walaupun sekarang kau masih tidak menyukaiku, tapi aku akan membuktikan dan menunjukkan padamu bahwa, aku adalah Heinry yang akan tetap menjadi Heinry, aku bukan Ayahmu atau pria yang memiliki minat berselingkuh. Percayalah padaku, Amy. Aku tidak akan mengkhianati mu sebesar apa halangan dan rintangannya." Ucap Heinry pelan sekali.
Heinry perlahan menutup matanya karena rasa kantuk yang dia rasakan. Tapi begtu dia mulia tertidur lelap, Amy membuka matanya dan menatap Heinry dengan lekat. Yah, dia mendengar semua yang Heinry katakan.
Tentu saja dia tersentuh, dia merasa bahagia dan merasa beruntung karena semakin hari, Heinry semakin menunjukkan bahwa, dia bukanlah orang yang akan melakukan kesalahan sefatal itu.
Amy tersenyum, bohong! sungguh bohong sekali kalau dia tidak menyukai Heinry. Tapi, keraguan yang dia rasakan selama ini perlahan terkikis, dan dia semakin yakin dan bersyukur karena apapun yang terjadi, Heinry adalah Heinry yang tidak akan pernah berubah.
Amy mendekatkan kepala, menyusup masuk kedalam pelukan Heinry dan merasakan nyaman serta hangat di sana.
Pukul Tujuh!
Heinry membuka matanya perlahan saat alarm pada ponselnya berdering.
Heinry menguap sebentar, lalu mulai membangunkan Amy setelah sebentar dia terus memandangi Amy yang tidur di pelukannya. Ah, dia bahagia sekali! Tapi sayangnya, mereka sudah harus pergi makan.
"Amy, bangun! Ayo kita makan, ini sudah pukul tujuh!" Ucap Heinry mencoba untuk membangunkan Amy.
Beberapa saat kemudian.
"Hah? Apa benar-benar tidak ada makanan yang lain? Ati angsa, otak kura-kura, walaupun makanan ini makanan yang super mahal tapi, aku tidak menyukai menunya." Keluh Amy yang memang tidak sreg dengan makanan mahal, tapi benar-benar bukan seleranya.
"Baiklah, kita makan spaghetti saja ya? Hari ini seperti kita sudah cukup kelelahan jadi, makan yang tersedia disini saja ya?" Bujuk Heinry.
Mau menghela nafasnya, lalu mengangguk setuju. Lebih baik makan spaghetti dari pada makan hati angsa, padahal angsa adalah binatang yang paling dia sukai.
Heinry dan Amy kompak menatap wanita itu dengan tatapan bertanya.
"Iya, kau siapa?" Tanya Heinry.
Wanita itu tersenyum sumringah, dengan percaya diri dia menarik atau kursi si dekat Heinry dan duduk si sebelah Heinry.
"Kau lupa? Aku teman satu kelas denganmu saat sekolah menengah atas!"
Heinry tambah mengeryit bingung. Sekolah menengah atas? Bahkan sudah selama itu, kenapa wanita itu masihlah bisa mengingat wajah Heinry dengan benar?
"Ah, iya." Jawab Heinry yang tidak tahu harus mengatakan apa, ditambah dia juga tidak tertarik dengan wanita yang tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahnya.
Amy membuang nafasnya, aduh! Memang dia tidak terlhat disana ya? Bosa basi apakah tidak bisa menyapa Amy?
"Ngomong-ngomong, kebetulan sekali kita bertemu di sini. Kau sedang berlibur atau bagaimana?" Tanya wanita itu lebih lagi menjadi sok akrab membuat Amy menjadi semakin kesal saja.
Heinry menggaruk tengkuknya dengan mimik wajahnya yang terlihat tidak nyaman, dia juga sudah tidak bisa lagi kalau hanya untuk sekedar berpura-pura tersenyum. Amy menyadari hal itu, jadi dia memutuskan untuk meminta wanita itu berhenti sok kenal, pergi dari sana dan biarkan Heinry juga dirinya menikmati makan malam bersama dengan nyaman.
"Nona, tolong pergilah dari sini oke? Makan malam kami jadi tertunda karena anda terus mengajaknya untuk bicara." Ujar Amy dengan nada yang cukup sopan tapi, Wanita itu justru menoleh, menatap Amy sinis seolah mengancam Amy untuk tidak banyak bicara dan membiarkan dia juga Heinry mengobrol dengan nyaman.
Melihat hal itu, Amy benar-benar semakin kesal.
Dia suamiku! Mulai dari sekarang, tidak ada yang boleh mengincarnya lagi! Batin Amy.
"Hei Nona cantik yang Budiman, minggirlah selagi aku masih baik dalam mengeluarkan kata-kata, karena kalau mulut indah nan seksi ku ini menggonggong, kau pasi akan lari terbirit-birit," Ucap Amy dengan tatapan matanya yang terlihat begitu mengancam. Tapi sayangnya, wanita itu benar-benar hanya berdecih tak perduli membuat Heinry sudah akan beraksi kesal dan bersiap untuk membela istrinya. Ah, namun ekspresi Amy saat itu terlalu manis, dia terlihat cemburu jadi, Heinry akan mendiamkan saja dan menikmati betapa indahnya wajah Amy saat cemburu seperti itu.
"Kau, kau pasti hanyalah asistennya Heinry kan? Jangan bersikap sok paling kenal Heinry! Kami ini adalah teman lama, kenapa kau begitu repot? Kau pasti sudah menganggumu bosmu sejak lama kan? Yah, sayang sekali! Sejak dulu, Heinry memang orang yang sulit untuk di dekati. Iya kan, Heinry?" Wanita itu berbicara dengan ekspresi wajahnya yang terlihat merendahkan Amy, tapi begitu menatap Heinry, dia akan menunjukkan wajah bak hello Kitty yang dadanya ingin Amy Jambak bulu hidungnya, lalu melemparkan wanita tidak tahu malu itu sampai ke Uranus!
"Teman lama saja? Wah, sayang sekali ya? Berarti aku adalah orang pertama dan terakhir dong yang tahu bagaimana rasanya ewidwod bersama Heinry? Sampai kami memiliki anak yang super cantik, dan Heinry masih saja tidak mudah di dekati wanita lain. Ah, kalau begini, aku sih tidak perlu khawatir dong? Rasanya, kalaupun kau berdiri di hadapan Heinry yang adalah suamiku dengan keadaan tidak berbusana, Heinry ku pasti hanya akan berdecih dan mengatakan, ah punyamu jelek! terlalu rimbun! Atau, ah gundul seperti tuyul! Bagus juga punya Amyku tersayang......"
"Hah? Gi gila! Dia dasar, wanita tidak waras!"