
Amy tersenyum lebar dengan tatapan matanya yang terlihat kagum. Sungguh, dia benar-benar tidak pernah melihat keindahan Aurora secara langsung seperti yang sedang dia lakukan hingga tanpa sadar, bibirnya terus tertarik dan tersenyum tanpa henti.
Heinry juga sama terpesonanya, hanya saja dia tahu dak terpesona oleh indahnya Aurora yang muncul melainkan, wajah indah Amy yang terdapat senyum super manis yang indahnya melebihi Aurora itu.
"Heinry, aku benar-benar tidak menyangka loh kalau Auroranya akan seindah ini!"
Heinry mengangguk, dia masih terus memperhatikan wajah Amy, terpesona tiada henti.
"Benar, memang sangat indah, apalagi saat kau tersenyum."
Amy langsung saja kehilangan senyumnya, segera dia menatap Heinry dengan tatapan bertanya yang langsung membuat Heinry tersadar dan tersenyum lebar.
"Kau tidak melihat Auroranya?" Tanya Amy.
Heinry menggelengkan kepalanya dan berkata,"Maaf, tapi aku sibuk melihatmu!"
Amy menelan salivanya, duh aduh! bagaimana bisa Heinry terus bicara manis sejak kemarin?
Amy dan Heinry kini saling menatap satu sama lain, entah mengapa mereka benar-benar tidak bisa mengalihkan pandangan satu sama lain.
"Amy, apa kau tahu saat kau tersenyum, kau benar-benar sangat cantik?" Ucap Heinry dengan sorot matanya yang terlihat begitu jujur membuat Amy benar-benar tidak habis pikir.
Bagaimana bisa seorang pria yang tampan sekali, menganggap wanita seperti dirinya cantik? Tetapi, melihat sorot mata Heinry yang jelas dia sedang tidak berbohong, Amy benar-benar tersentuh hatinya.
"Apa kau tahu, Amy? Tidak ada wanita yang bisa membuat fokus ku begitu tertuju padamu. Aku juga, tidak pernah menganggap pernikahan akan menjadi seindah ini, semua berkat dirimu, aku benar-benar bersyukur karena akhirnya kita bisa menjadi pasangan suami dan istri," Ucapan Heinry kali ini benar-benar keluar dari dalam hatinya, tidak ada campur tangan Ayahnya dalam membuatkan dialog untuknya.
Amy mengalihkan pandangan, sialan! Dia benar-benar gugup sekali, batinnya mengeluh.
Heinry meraih dagu Amy, menjadikan tatapan mereka kembali bertemu, dan langsung mencium bibir Amy.
Amy terkejut memang, tapi sungguh dia tersihir oleh betapa lembutnya sentuhan bibir Heinry. Amy memejamkan matanya, tangannya bergerak memeluk tengkuk Heinry dan membalas ciuman itu dengan lembut.
Tidak ada Jeje yang dia ingat, padahal niatnya adalah menghubungi Jeje untuk menunjukkan bagaimana Aurora muncul. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan, ciuman yang hangat seolah perasaan Heinry tersampaikan dengan jelas kepada Amy.
Tanpa sadar, ada seorang pengambil photo yang biasa menjual jasanya disana. Dia memotret Amy dan Heinry yang saling berciuman di tengah Aurora yang sedang muncul dengan begitu indahnya.
Amy dan Heinry mengakhiri ciuman bibir mereka, mata mereka masih saling menatap satu sama lain. Heinry tersenyum, dan entah menatap juga Amy membalas senyuman itu.
"Aku, tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya," Ucap Heinry seraya menempelkan dahinya dengan dahi Amy.
Amy tak menjawab apapun, dia hanya bisa tersenyum dan menahan debaran jantungnya yang begitu menderu.
"Halo, permisi?" Sapa pengambil photo seraya menyerahkan beberapa lembar Photo kepada Amy dan Heinry. Photo saat Amy dan Heinry tengah berciuman, saling menatap dan tersenyum, lalu photo mereka saat saling menempelkan dahi.
"Aku kagum melihat kalian berdua, karena momennya sedang sangat bagus, aku ambil photo ini. Ambil saja, aku tidak sedang meminta upah. Ini hadiah untuk kalian berdua!" Ucapnya dengan senyum yang terlihat begtu tulus.
Heinry dengan semangat menerima photo itu, dia merasa berhutang banyak kepada pengambil photo karena photonya benar-benar sangat bagus sekali.
Pengambil photo mengangguk, dan itu membuat Heinry menjadi semakin bersemangat. Setelah memindahkan photo ke ponsel Heinry, juga menerima tiga lembar Photo lainnya, Heinry menyerahkan beberapa lebar uang dalam bentuk uang asing juga. Pengambil photo itu benar-benar terkejut, harga dari tiga photo itu ternyata sangat di hargai banyak sekali. Dia mencoba untuk menolak, tapi Heinry memaksa dan memasukkan uang itu ke kantung bajunya.
"Ambilah! Kalau bukan karena anda, saya dan istri saja juga tidak akan memiliki photo sebagus ini. Kami terlalu fokus menikmati momen liburan kami sampai tidak ingat kalau harus mengambil photo," Ucap Heinry seraya menepuk pundak pengambil photo itu.
"Terimakasih. Berkat anda, saya bisa membelikan stok susu anak saya selama tiga bulan penuh, dan makanan untuk musim dingin," Ucapnya sembari menahan tangis haru.
Heinry tersenyum, sementara Amy benar-benar merasa bersyukur karena Heinry bisa sedikit membantu orang itu. Dia pernah juga merasakan bagaimana sulitnya membiayai hidup seorang anak di negeri asing yang serba mahal.
Beberapa saat kemudian.
Heinry dan Amy kembali ke hotel.
"Aku mandi duluan ya?" Ucap Amy yang langsung di angguki oleh Heinry.
Yah, boleh saja kepalanya mengangguk patuh, tapi niat di dalam hatinya mana ada yang tahu?
Hehe......
Bagiamana ya kalau dia mandi bersama dengan Amy seperti kebanyakan pasangan suami istri lain?
Begitu Amy masuk kedalam kamar mandi, Heinry menunggu sebentar sampai sekiranya Amy sudah tidak menggunakan sehelai benangpun. Heinry menyusul masuk kedalam kamar mandi setelah waktu yang tepat.
"Heinry, apa yang kau lakukan?!" Tanya Amy kesal bukan main. Padahal, kondisinya benar-benar sangat tidak mendukung kalau dia menggunakan jubah mandi karena, dia sudah telanjur menuangkan sampo ke kepalanya, dah rambutnya juga sudah penuh dengan bisa setelah dia menggosok tadi.
Heinry tersenyum, bagaimana ya dia mendeskripsikan perasaannya saat ini? Ternyata melihat rambut Amy yang penuh dengan bisa, tubuhnya tekena busa dan air, Amy benar-benar terlihat sangat seksi. Jadi, apa boleh dia menyerang istrinya sekarang?
Heinry tak menjawab, dia justru ikut melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya dan bergegas menghampiri Amy.
"Heinry!" Kesal Amy.
Heinry masih tidak ingin menjawab, dia segera membantu Amy mencuci rambutnya. Yah, itu hanyalah modus saja!
Amy benar-benar kesal, tapi dia juga tidak bisa banyak berkata-kata karena Heinry terus membantunya mandi. Mulai dari mencuci rambut, dan juga menggosok punggungnya.
Oke, sekarang masalah yang sebenarnya adalah, Heinry terus dengan sengaja menempelkan miliknya kebokong Amy membuat Amy bisa dengan jelas merasakan kalau benda keras itu adalah kemoceng sialan yang tidak kenal ampun kalau sudah bekerja.
"Sayang,....." Heinry mengecup tengkuk Amy, mengedarkan kedua tangannya mengusap dan memijat bagian benda kembar kenyal milik Amy.
Kali ini, kau harus menikmatinya seperti aku menikmati, batin Heinry di dalam hati.
"Heinry, kita ada di kamar mandi!" Ucap Amy mengingatkan.
"Iya, aku tahu. Bagaimana kalau ke kamar sekarang? Kita sudah mandi kan?"
Amy menghela nafasnya,"Tidak! Kalau kau mau, maka ayo kita lakukan di atas genteng!