
Beberapa saat Kemudian, mereka sedang menunggu koper mereka dan di sanalah pula mereka kembali bertemu dengan wanita bohai itu lagi.
"Sayang, kepalaku gatal!" Ucap Amy sengaja ingin pamer agar si bohai itu tahu rasanya harus melihat orang lain memamerkan sesuatu yang tidak di miliki.
"Gatal? Kenapa bilang padaku? Kau tidak sedang menganggapku kuman yang membuat kepalamu gatal kan?" Tanya Heinry bingung.
Amy menoleh, melotot kesal kepada Heinry sembari berbisik.
"Garuk kepalaku, belai juga!"
Hah?
Heinry tak ingin protes, dia menggaruk pelan kepala Amy dan mengusapnya. Melihat wanita bohai tadi melihat kearah mereka, Heinry jadi paham sekarang.
Amy menjilat si bibirnya hingga sedikit basah.
"Sayang, bibirku!"
Heinry tersenyum lebar, lalu mengarahkan wajah Amy dan langsung saja mengecup bibir Amy.
"Dasar bodoh! Bukan di cium, tapi seka sisi bibirku yang basah!" Sebal Amy kepada Heinry.
Bukanya merasa ingin merendahkan, wanita bohai itu jutsru semakin terdiam tak ingin lagi melihat betapa mesranya Amy dan juga Heinry. Andai saja ada lagi pria yang seperti Heinry, rasanya dia ingin menggunakan sejuta keberuntungan untuk memiliki pria semacam itu.
"Aku kan juga sudah menyeka, dengan bibirku!" Heinry tersenyum lebar, membuat Amy benar-benar kehabisan kata-kata sampai lupa kalau dia sedang memanasi si bohai yang sekarang sudah pergi entah kemana.
Sesampainya di hotel.
Heinry meletakkan koper mereka berdua lebih dulu, dan membukanya karena Amy dan juga dirinya memerlukan pakaian untuk ganti mereka nanti.
Sedangkan Amy, dia benar-benar langsung merebahkan tubuhnya di atas tepat tidur tak perduli larangan dari Heinry.
"Bangkitlah dulu, kita harus memeriksa seprei dan tempat tidurnya dulu kan? Kau harus tahu bahwa, hotel yang terlihat bersih, belum tentu benar-benar seperti yang terlihat."
Amy mengabaikan ucapan Heinry, maka itulah setelah mengeluarkan pakaian yang akan mereka gunakan, Heinry langsung mendekati Amy dan lengkung mendekati Amy untuk mengangkat tubuhnya.
"Aw! Heinry, jangan langsung begtu dong! Seharusnya kita kan mandi dulu! Aneh sekali kalau kita ehem ehem tapi bau bacem terasi!" Ucap Amy menatap Heinry yang kini tengah mengangkat tubuhnya, dan menatapnya dengan dahinya yang mengeryit.
"Kau, sudah memikirkan tentang itu? Padahal aku cuma mau mengangkat mu dan memindahkan mu ke sofa loh! Tapi, kalau kau mau langsung saja sih, aku yes!" Ucap Heinry membuat satu sisi bibir Amy naik dengan tatapan matanya yang terlihat sebal.
"Yes biji matamu! Turunkan aku!" Pinta Amy.
Heinry terkekeh geli melihat ekspresi Amy yang benar-benar tidak biasa. Ah, entahlah! Apapun dan bagaimana ekspresi Amy, dia benar-benar terlihat sangat imut dan menggemaskan bagi Heinry.
Amy menghela nafasnya saat Heinry meletakkan tubuhnya di atas sofa dengan begtu lembut. Sial! Cara Heinry memperlakukan dirinya benar-benar sangat baik dan lembut membuat hatinya semakin gonjang ganjing saja!
Amy terus memperhatikan Heinry yang tengah memeriksa tempat tidur. Amy dengan jelas memperhatikan bentuk tubuh Heinry yang sangat bagus. Pinggang, punggung, bahu yang bidang, bokong yang berisi dan terlihat kokoh. Belum lagi wajahnya Heinry, memang siapa yang tidak akan suka? Yah, tidak usah di pikirkan lagi sudah jelas Amy dinikahi Heinry sudah seperti kejatuhan bongkahan berlian kan?
Duh! Apa ini yang disebut keajaiban untuk Amy, dan kesialan untuk Heinry? Ah, semoga saja istilah sialan itu tidak ada hubungannya dengan mereka berdua. Bagaimanapun, Amy juga cukup percaya diri dengan dirinya sendiri. Entah warna kulit yang gelap sedangkan Heinry cenderung putih, atau apapun perbedaan itu nyatanya tidak jadi penghalang bukan?
"Rasa? Rasa apa? Memang kau rasa apa? rasa permen karet, rasa mangga, jeruk? Strawberry? Atau, rasa yang pernah ada?" Ledek Amy.
"Lebih tepatnya, rasa yang pernah kau coba!" Heinry tersenyum lebar membuat Amy berdecih kesal membatin dengan sebal.
Apa katanya tadi? Rasa yang pernah dicoba? Aduh! Bagaimana ya? Rasa yang pernah di coba, waktu itu kan buru-buru jadi, sudah lupa bagaimana rasanya.
"Sudah selesai, kita istirahat dulu sebentar ya? Malam nanti kita bangun pukul tujuh, turun untuk makan malam. Aku sudah aktifkan alarm nya." Ucap Heinry seraya mendekati Amy dan meraih tangannya dengan senyum aneh membuat Amy bingung tapi juga kesal karena tidak bisa mengartikan apa maksud Heinry.
"Kenapa menarik tanganku? Kau, jangan bilang kau sudah kegagalan sejak tadi!" Ucap Amy dengan tatapan menyelidik.
"Kegatalan? Kok tahu? Itu makanya aku ingin mengajak mu mandi bersama," Ujar Heinry lalu kembali tersenyum.
Hah? Sungguh sangat membagongkan sekali? Ternyata rutinitas mandi bersama memang bukan hanya ada di dunia drama, pernovelan, perkomikan, dan dunia perhaluan saja ya?
"Apa kita akan melakukan sesuatu yang luar biasa di dalam kamar mandi?" Tanya Amy.
Heinry menahan senyumnya, duh! Bagaimana ya? Padahal, dia tahu dak memilki niat seperti itu, tapi kalau Amy mau ya mana mungkin menolak? Apakah mungkin kucing menolak ikan asin? Ah, ini waktunya menjadi sok keren, jadi pantang bagi Heinry untuk menunjukkan senyum sumringah.
"Kenapa? Apa kau takut? Tenang saja, aku tipe pria yang pengertian. Jadi, aku tidak akan membuatmu merintih kesakitan, melainkan merintih keenakan! Ayolah istriku, jangan takut!"
Amy menaikkan satu sis bibirnya, menatap Amy dengan tatapan kesal.
"Kau melihatku dengan mata kaki mu? Bagian mana dari diri ku yang terlibat takut? Kau pikir aku tidak berani! Heinry, kau benar-benar meremehkan seorang Amy ya?"
Heinry menelan ludahnya sendiri, jadi Amy tidak merasa takut sama sekali ya? Kenapa, sekarang Heinry lah yang merasa ngeri?
Amy menyipitkan matanya, tersenyum penuh arti lalu bangkit dari duduknya.
"Ayo, mari kita lihat, apa yang bisa kita lakukan!" Ucap Amy seraya menarik lengan Heinry untuk ikut masuk kedalam kamar mandi.
"Amy, apa yang kau lakukan?!" Tanya Heinry didalam kamar mandi.
"Mengukur panjangnya, kenapa? Bukankah katanya kita suami istri? Milikmu berarti milikku kan?" Ucap Amy.
"Ja jangan! Jangan asal menyentuh! Kalau kau bilang seperti itu, bagaimana kalau aku yang menyentuh milik mu? Kau tidak akan mengizinkan kan?!" Tanya Heinry gugup dan kesal.
"Bicara apa sih kau ini?!" Kesal Amy.
"Tuh kan! Kau tidak kasih izin!" Protes Heinry.
"CK! Siapa bilang aku tidak kasih izin? Aku kan sudah jadi milikmu, kenapa harus pakai izin segala?!"
"Da dasar tidak tahu malu!"
"Bukanya kau sudah tahu sejak lama? Kenapa baru sadar sekarang? Sini! Ayo cepat kesini, sayang! Biarkan aku lihat punyamu dengan teliti!"