One Night Special

One Night Special
Kabur!



Amy tak sengaja menoleh, dan dia melihat seorang gadis tengah menatap Heinry dan terus tersenyum lembut padanya. Amy menghela nafasnya, menggelengkan kepala. Sungguh, Amy kasihan sekali dengan gadis cantik itu.


"Percayalah, kakak cantik. Wajah cantikmu itu tidak akan berguna bagi Heinry." Gumam Amy.


"Nyonya, anda mau coba yang ini?" Ucap pelayan toko yang adalah seorang pria muda.


"Ini bagus! Aku suka yang simple seperti ini, plos, kalaupun ada motif, usahakan motifnya yang lembut saja." Ujar Amy.


"Eh, itu suami anda sedang bersama siapa? Anda tidak datang kesana? Apa anda tidak cemburu?" Tanya pelayan itu.


Amy menghela nafasnya,"Aku akan memberikan jempolku kalau dia bisa merayunya!"


Pelayan pria itu mengangguk paham.


"Ngomong-ngomong, kenapa ini ada nodanya?" Tanya Amy.


Pelayan pria itu mendekat kepada Amy membuat Heinry terkejut dan langsung bangkit dari posisinya.


"Istriku sayang, apa ada yang perlu aku bantu?!" Heinry bergegas berjalan mendekat, lalu menggeser tubuh pelayan itu agar menjauh dari Amy.


Duh! Kasar sekali, tapi pria itu benar-benar sangat keren, batin pelayan pria yang sebenarnya agak belok.


Amy menghela nafasnya, sungguh di keheranan karena adanya wanita yang super cantik disebelahnya tadi masih tidak dapat membuat Heinry teralihkan. Amy tersenyum tipis, reaksi Heinry saat ini benar-benar sangat lucu sekali, apalagi sekarang dia benar-benar memegangi pinggang Amy. Takut yang berlebihan dari Heinry itu membuat Amy mulai yakin bahwa, Heinry tidak akan menjadi seperti Ayahnya.


Gadis yang sejak tadi duduk disebelah Heinry juga hanya bisa bengong melihat kecemburuan Heinry yang begtu berlebihan, padahal wanitanya biasa saja.


"Duh, anda makan apa sih setiap hari, kenapa anda tampan sekali, kakak?" Tanya pelayan toko itu dengan sorot matanya sangat menakutkan bagi pria normal.


Heinry segera menggeser tubuh Amy agar menjadi pembatas antara dia dan


Amy mengernyit bingung, sialan! Baru saja dia membatin karena terharu dengan sikap Heinry, kenapa tiba-tiba saja dia merasa Heinry lebih mencintai dirinya di banding cinta kepada orang lain?


"Kita sudahi saja belanjanya, oke? Kita juga harus beli camilan kesukaan Jeje kan?" Ucap Heinry seraya mengambil semua baju yang ada di tangan Amy, dan membawanya untuk menuju kasir.


"Tunggu dulu! Aku tidak mau beli itu semua, kenapa kau membawanya kesini?" Protes Amy yang merasa ada beberapa lembar baju yang tidak ingin dia beli.


Heinry menghela nafasnya lalu berkata,"Kau mau aku menjadi sasaran empuk pria belok itu? Kalaupun kau tidak mencintai ku, setidaknya ingatlah bahwa aku adalah suamimu yang harus kau lindungi!"


Amy menoleh menatap pelayan pria yang tadi, ah! Dia terus tersenyum menatap Heinry membuat Amy tersadar ada yang tidak beres dengan pelayan itu.


Setelah keluar dari tepat belanja itu, Heinry dan Amy menuju tempat parkiran. Semua belanjaan mereka, Heinry lah yang membawanya sampai ke mobil.


"Aduh! Heinry, kenapa kau berjalan cepat sekali?" Protes Amy yang tidak bisa mengimbangi kecepatan Heinry dalam melangkahkan kaki.


Heinry mengabaikan ucapan Amy, segera memasukkan semua barang kedalam mobil, lalu membukakan pintu untuk Amy sembari berkata,"Demi Tuhan, aku tidak akan datang ketempat yang tadi lagi!"


Amy menahan tawanya, ah! Jadi karena itu ya Heinry berjalan sangat cepat? Benar-benar pria yang langka sekali! Wanita cantik tidak mau, pria tampan juga tidak mau! Yah, syukurlah kalau begitu! Jadi, wanita yang menurut kebanyakan orang tidak cantik, setidaknya akan menjadi pasangan pria tampan seperti Heinry.


"Amy? Kau, Amy ya?" Amy menoleh, menatap wanita yang menyebutkan namanya. Amy mengeryitkan dahinya karena dia bingung sekali, siapa wanita itu? Seperti pernah melihatnya, tapi tidak tahu siapa.


"Kau siapa?" Tanya Amy.


Wanita itu tersenyum dengan tatapan yang tidak biasa membuat Amy memiliki sedikit dugaan, wanita itu pasti salah satu anak dari Ayah atau Ibunya, atau mungkin juga saudari tirinya.


"Aku siapa? Kita memiliki Ayah yang sama, kenapa kau tidak mengenaliku?" Ucap wanita itu.


Amy menghela nafasnya, sialan! Kemarin bertemu Ibunya, sekarang bertemu anak Ayahnya yang lain juga.


Heinry terdiam sebentar, melihat ekspresi Amy saat itu, Heinry jadi memutuskan untuk menutup pintu mobilnya.


"Aku bahkan tidak ingat wajah Ayahku, jadi bagaimana aku akan mengingat wajah anaknya yang lain? Apalagi, anak pria itu sangat banyak, aku sendiri juga tidak ingin mengusahakan otakku hanya untuk mengingat hal yang tidak penting." Ucap Amy lalu tersenyum dengan berani. Amy ingat sekali sekarang, wanita yang lebih muda dua tahun darinya itu sangatlah suka menggunjing dan menghina. Dia memang memiliki wajah yang cantik, maka itulah dia bisa menyombongkan diri.


Wanita itu menghela nafas, dia masih belum sadar kalau sebenarnya Heinry adalah suami dari Amy. Dia pikir, Heinry adalah orang yang tidak sengaja keluar dari mobil untuk berbelanja, dan karena dia melihat dua wanita seperti ingin cek Cok, dia bertahan disana dan berjaga karena takut akan terjadi sesuatu.


"Sejak kecil kau selalu saja ketus, apa kau tidak pernah mencoba untuk memperbaiki cara bicaramu dan caramu menatap orang lain seolah orang lain begitu berdosa padamu? Ah, kau juga nampak berbeda, kau sedikit lebih baik dalam penampilan, aku jadi hampir tidak mengenalimu yang dulu selalu berpenampilan seperti pemulung," Ujar wanita itu.


Heinry mengeraskan rahangnya, jika saja dia bukan wanita, Heinry pasti sudah akan meninjunya sampai ke angkasa.


Amy tersenyum, hinaan seperti itu sungguh tidak membuat Amy merasa gentar sama sekali.


"Dulu, kau selalu saja menuntut atas uang sampai Ayahku tidak ada waktu untuk menyisihkan uang padaku. Tetapi, bukankah yang paling penting adalah hasil akhirnya? Walaupun memang kau cantik dan penampilanmu cukup baik, siapa yang akan menjamin kau memiliki nasib yang baik?, iyakan suamiku sayang?" Amy menoleh menatap Heinry dengan bibirnya yang tersenyum, namun matanya melotot mengancam agar Heinry membantunya dalam membungkam mulut sialan saudari tirinya.


Heinry menahan tawanya, lalu mengangguk.


"Nona, semua yang menempel di tubuhmu itu, bahkan masih belum cukup untuk membeli baju yang di gunakan oleh istriku. Tolong jangan asal bicara kalau kau sendiri tidak tahu apapun," Ucapan Heinry barusan benar-benar membuat kedua bola mata wanita itu melotot terkejut, tak percaya jika pria tampan, pemilik mobil mewah yang sejak tadi berdiri di sana adalah suaminya Amy.