
Amy benar-benar tidak menyangka, kenapa Heinry jadi mirip dengan Jeje saat ngambek?
"Jadi, kau ingin aku bagaimana? Mau ku panggilkan Ibu mu? Atau, Ayah mu?" Tanya Amy yang sedang kacau otaknya tidak tahu harus melakukan apa, dan mengatakan apa.
Heinry membuang nafasnya,"Kenapa kau mau panggil mereka? Kenapa tidak kau saja yang disini?"
Matamu! Aku malas melihat tingkah mu yang persis seperti Jeje! Sungguh, kau terlalu tua kalau ingin bertingkah seperti anakku!
"Pokoknya, kau adalah orang yang wajib menemaniku di sini." Ucap Heinry.
Amy mendengus kesal, terus, dia mau tidur dimana? Sofa? Ugh! Tidak mau! Tapi, tidak mungkin tidur di brankar yang sama dengan Heinry kan? Cih! Walaupun memang ada yang seperti itu, tentu saja adanya hanya di drama, novel, dan komik dewasa.
"Anu, aku tiba-tiba saja merasa lapar. Bagaimana kalau aku pergi sebentar untuk makan?" Tanya Amy.
Heinry menatap Amy dengan tatapan kesal.
"Aku bahkan sudah hampir mati karena kelaparan!"
Amy menelan salivanya, entah kutukan apa yang dia dapatkan, kenapa dia harus selalu saja lebih banyak mengadakan nasib sial ketimbang bahagia.
"Ya sudah, aku panggilkan perawat untuk menyiapkan makanan mu, atau kalau tidak, aku akan keluar sebentar membeli makan untuk kita." Ucap Amy dengan segera.
Heinry kembali menghela nafasnya, kalau begitu, bukankah artinya sama saja dengan meninggalkan Heinry di sana?
"Tidak boleh! Minta saja Ibuku mengirimkan makanan, biar sopir yang antar nanti. Lagi pula, masa iya kau mau meninggalkan ku disini? Kau kan tahu, semua orang sudah pulang dan hanya tinggal kita berdua saja. Bukannya aku takut setan, atau apapun, hanya saja tubuhku yang sedang lemah ini sangat butuh bantuan dua puluh empat jam tanpa jeda."
Amy terdiam, sungguh dia ingin memakai Heinry dengan sebutan para penghuni kebun binatang tapi, dia terlalu malas banyak bicara kepada Heinry. Pria yang bicaranya tidak masuk akal itu sedang butuh kemakluman. Jadi, biarkan saja dia menggonggong sesukanya.
"Baiklah, lakukan saja apa yang ingin kau lakukan. Toh yang paling penting sekarang ini adalah makan?" Amy mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Ibunya Heinry dan mengatakan apa yang sudah di bicarakan oleh Amy dan Heinry tadi.
Setelah menunggu sekitar hampir satu jam, akhirnya datang juga makanan yang dipesankan oleh Ibunya Heinry.
Amy membukakan makanan yang ada dalam boks, lalu mendekatkan kepada Heinry agar dia bisa makan sesegera mungkin.
"Ini sendoknya, aku ambil air mineralnya dulu," Ucap Amy sembari menyerahkan sendok untuk Heinry.
Heinry terdiam, dia sama sekali tidak mau menerima sendok dari tangan Amy dan justru dia terlihat dingin dan kesal.
Amy menghela nafasnya, sebenarnya apa lagi yang sedang dipikirkan oleh Heinry? Kenapa sih dia selalu bertingkah sepertu gadis kecil yang sedang merajuk?
"Amy?" Panggil Heinry.
"Iya!" Jawab Amy sedikit kesal.
"Kau tahu kan kalau aku ini, sekarang adalah seorang pasien?" Tanya Heinry dengan mimik wajahnya yang tidak terbaca, atau mungkin lebih tepatnya adalah, Amy sama sekali tidak bisa membaca apa arti mimik wajah Heinry kala itu.
"Iya, lalu?"
"Sudah begitu, kita baru saja sehari ini menjadi pasangan suami istri yang biasanya akan menjadi pasangan yang sedang penuh cinta dan mesra," Ucap lagi Heinry tapi masih belum bisa di pahami oleh Amy.
Heinry membuang nafasnya, menatap Amy yang masih saja tidak mengerti apa maksud dari ucapannya dengan tatapan kesal.
"Suapi aku, Amy! Kau ini, kenapa tidak berperasaan sekali sih?!"
Eh?
Beberapa saat kemudian.
"Buka mulutmu!" Ucap Amy seraya menyodorkan sendok berisi makanan kepada Heinry. Sebenarnya, Amy benar-benar kesal setengah mampus karena tingkah Heinry yang justru semakin menyebalkan begitu dia mendapatkan ingatnya kembali. Padahal, Jeje saja sudah tidak disuapi lagi sejak usia tiga tahun, tapi kenapa Heinry jadi seperti ini sih?! Ahh..... Apa jangan-jangan, Amy dinikahi untuk dijadikan pengasuh ya?
Heinry menerima suapan itu, dia mengunyah makanan sembari tersenyum tipis seraya menatap Mata yang terlihat kesal tanpa menatap kearahnya.
Heinry tentu saja paham kalau dia kekanakan, dia sendiri juga geli dengan apa yang dia lakukan saat ini. Tapi, tekadnya masih sama sebelum atau sesudah hilang ingatan, wanita yang mempu memiliki kesan dan dapat Heinry ingat dalam jangka waktu yang lama hanyalah Amy seorang. Mereka sudah menikah sekarang, jadi, Heinry tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas, dia akan terus maju, melahirkan banyak anak dan akan dia tunjukkan bahwa tidak akan ada kesamaan antara dia dan juga Ayahnya Amy.
"Heinry, cepatlah makan dan jangan mengunyah terlalu lama. Biarkan saja lambung mu bekerja sesuai dengan tugasnya, kalau kau mengunyah lama begini, bisa-bisa aku mati kelaparan!" Protes Amy.
Heinry lagi-lagi harus menahan tawanya, entah bagaimana kehidupan rumah tangga yang akan dijalani bersama dengan Amy nanti. Tapi, Heinry akan memastikan bahwa, rumah tangga mereka pasti akan menjadi sangat seru!
Heinry menerima suapan makanan dari Amy, lalu tanpa mengunyah dia langsung meraih tengkuk Amy, menyatukan bibir mereka tanpa aba-aba, memindahkan makanan dari dalam mulutnya kedalam mulut Amy.
Amy membulatkan matanya, dia benar-benar bingung harus bagiamana.
Woi! Makanan sudah dari mulutmu, kenapa kau masukkan kedalam mulutku?! Ini namanya, Amy sedang menelan muntahannya Heinry kan?!
Sialan!
Rasanya ingin memukulkan makanan itu ke wajah Heinry. Tapi, makanan itu adalah makanan yang paling dia sukai, dan harganya mahal sekali. Nanti kalau makanan Heinry tumpah, dia harus ganti makanan Heinry dengan makannya, itu sangat rugi!
Dasar anjing gila, siluman babi, siluman lebah, kodok Bangkong! Siluman kera, lalat, cacing! Ah, pokoknya semua isian kebun binatang akan dia sematkan kepada Heinry sialan itu!
Duh! Sudahlah, makanan mahal itu tidak boleh di buang sia-sia kan? Telan saja sudah! Toh, siapa tahu menelan makanan bekas orang tampan akan membawa berkah!
Hah, hanya cacing yang hidup di udara yang akan mempercayai istilah itu!
"Bagaimana makanannya? Lebih enak kalau dari mulutku kan?" Tanya Heinry, lalu cekikikan dengan begitu percaya diri.
Kepalamu! Mata kakimu kah yang melihat aku sedang merasa keenakan? Bahkan Juliet saja belum tentu mau memakan makanan dari mulut Romeo!
Di sisi lain.
"Jadi Amy menikah dengan Heinry Phoulo? Dia anak keluarga Phoulo yang terkenal itu kan? Kenapa dia sama sekali tidak memberitahu padaku dulu? Aku harus menemui Amy, dan menyapa menantuku kab?" Ucap Ibunya Amy, Ibu kandung Amy yang selama ini bahkan tidak pernah mencari tahu bagiamana kabar Amy.
"Nyonya batu tahu ya? Katanya sih, Amy juga sudah memiliki anak perempuan bersama Heinry Phoulo. Kabarnya, anaknya itu sangat cantik, dan mirip sekali dengan Heinry Phoulo."
Ibunya Amy tersenyum senang, sorot matanya yang terlihat bahagia, penuh maksud begitu jelas terlihat.
"Aku benar-benar tidak tahu kalau anakku memiliki bakat yang sangat bagus! Dia pasti memiliki sifa yang sama dengan ku bukan?"