One Night Special

One Night Special
Kenapa Dia Datang?



Orang tua Heinry benar-benar terlihat begitu bahagia melihat wajah Heinry yang memerah saat mereka sedang membicarakan soal liburan. Mereka mengira jika Heinry akan pergi bersama dengan Cheren dan menghabiskan waktu bersama berduaan saja. Iya, ini bukan masa kuno jadi para anak muda memiliki kedekatan juga adalah hal yang lumrah saja. Apalagi mereka berdua akan bertunangan dan menikah, tentu saja liburan bersama bukan lah hal yang salah karena hanya dengan begitu mereka berdua bisa saling mendekatkan diri dan perlahan mulai terbiasa kan?


Heinry menatap kedua orang tuanya dengan tatapan bingung, dia ingin bertanya kenapa wajah Ibunya merona dan Ayahnya juga terlihat bahagia? Apakah karena kepergian Heinry begitu membahagiakan untuk mereka yang bisa berduaan saja di rumah?


Cih!


Sungguh mesum sekali bukan?


Benar-benar lain yang di pikirkan Heinry, lain lagi yang di pikirkan oleh orang tua Heinry.


Heinry berangkat seorang diri, dia meminta orang tuanya untuk tida perlu mengantarkan dia ke bandara. Ini benar-benar untuk pertama kalinya Heinry pergi tapi tidak harus mendengar nasehat panjang lebar dari Ayah dan Ibunya, juga tidak di antar sampa ke ke bandara dan di bekali banyak makanan karena orang tua Heinry adalah orang tua yang paling tidak bisa melepaskan anaknya pergi seorang diri.


"Bagus sekali, mereka memang harus memiliki banyak waktu bersama supaya makin dekat, tidak masalah juga kok kalau harus hamil lebih dulu." Ujar Ibunya Heinry yang begitu terngiang-ngiang di kepala Heinry hingga kini.


Entahlah, dia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya. Dia pikir akan lebih baik kalau dia tidak mengatakan apapun sampai semuanya benar-benar jelas.


Setelah perjalanan panjang, sebentar Heinry mengambil waktu untuk istirahat di salah satu hotel yang tidak jauh dari bandara. Berkat alamat yang di dapatkan dari sumber tepercaya, Heinry sudah mengetahui di mana Amy tinggal dan besok pagi barulah Heinry akan kesana.


Besok paginya.


"Amy, kau benar-benar akan tinggal di rumah lagi?" Tanya Edith yang sebenarnya sudah tahu sih bagaimana jawaban Amy karena Amy memang masih belum membaik dengan morning sick yang masih saja belum mereda.


"Aku juga ingin bepergian ke sana kemari, hinggap di sana sini, tapi tubuhku seperti mengajak ku untuk tidur terus. Edith ku tersayang, bagaimana kalau bantu aku untuk bertahan hidup dengan memberikan Ibu dan anak ini makan?" Ucap Amy dengan mimik wajahnya yang terlihat memelas sedih.


Edith membuang nafasnya, sebenarnya siapa sih yang tidak kasihan melihat Amy sekarang? Tubuhnya sangat kurus, sekarang juga jadi lebih terlihat tirus lagi.


"Amy, percayalah padaku, aku bukannya tidak mau membantumu tapi aku merasa amanat yakin kalau akan lebih baik bagimu menjalani kehamilan ini dengan Heinry. Yah, dia memang terlalu tampan dan keren kalau untukmu, tapi siapa tahu nantinya Heinry bahkan merasa kasihan dan merasa bersalah lalu kalian memilih untuk bersama dan merawat bayi ini. Yah, kalaupun Heinry tidak jatuh cinta denganmu, siapa tahu dia akan jatuh cinta dengan anak mu kan?"


Amy melemparkan bantal yang ada di dekatnya agar Edith berhenti bicara. Hidup bersama apanya? Dia tidak memiliki rencana untuk melahirkan setiap tahun jadi untuk apa juga dia hidup bersama dengan Heinry? Sudahlah, satu anak saja sepertinya akan cukup, kalaupun tidak cukup nanti baru pikirkan siapa yang akan menjadi target berikutnya untuk dia curi sper** nya. Tentu saja harus bisa lebih dari Heinry, kalau masih tidak menemukan pria seperti itu, yah terpaksa sudah kembali memperkosa Heinry saja.


"Baiklah, aku berangkat bekerja dulu. Kalau nanti kau membutuhkan sesuatu atau terjadi sesuatu, sebagai sahabat terburuk aku berharap benar dan meminta tolong untuk jangan menghubungiku."


Amy terperangah kesal tapi juga terlalu malas untuk membalas ucapan Edith yang pasti hanyalah guyonannya saja.


Sekitar sepuluh menit setelah kepergian Edith, suara pintu dari rumah sewa terdengar jadi mau tidak mau Amy bangkit setelah mencoba untuk mengabaikan nya. Dia pikir itu pasti Edith yang sengaja mengerjainya, tapi karena suara bel itu tak berhenti juga, Amy yang kesal jadi mau tidak mau bangkit dan bersiap akan menunju Edith yang begitu tidak berperasaan itu.


"Kau benar-benar menguji kesabaran yang setipis tisu toilet ini ya?!" Ucap Amy kesal seraya dia membukakan pintu. Tapi begitu melihat siapa yang datang dan berdiri di hadapannya, Amy benar-benar membulatkan mata. Sesegera mungkin dia mencoba untuk menutup pintu, tapi secepat itu pula pintu di tahan dan tak bisa untuk Amy tutup.


"Hen Heinry, kau, kau, kenapa kau datang kesini?" Tanya Amy yang benar-benar tidak bisa menyembunyikan tatapan serta mimiknya yang begitu terkejut.


Heinry tersenyum miring dengan tatapannya yang tajam dan begitu dingin. Padahal kalau boleh jujur, dia benar-benar sedang pusing kepala sendiri karena merasa bingung dan tidak tahu bagaimana dia akan memulai pembicaraan diantara mereka. Ya sudahlah, pkoknya yang paling penting adalah Heinry percaya diri dulu, toh memang sejak asal dia tidak bersalah kan?


"Kenapa aku datang? Kau lebih tahu apa yang membuatku datang kemari kan?"


Amy menelan salivanya sendiri, kenapa Heinry sampai di sana? Apa dia sebegitu tidak rela membuat Amy hamil anaknya? Tidak mungkin kan Heinry datang mengambil anaknya? Toh anaknya masih sebesar biji kacang hijau sekarang.


"Jangan bilang, kau mau-"


"Mau mengambil apa yang sudah kau ambil dariku!"


Amy menelan salivanya sendiri, mengambil sper** kah maksudnya? Jadi bagiamana ini? Sper** nya kak sudah jadi anak?


"Jangan memperlihatkan wajah seperti itu, sebelumnya kau kan sangat percaya diri sekali!" Heinry menjalankan matanya, dan itu benar-benar membuat Amy semakin ke inginkan. Ah, tidak! Ini tidak boleh terjadi, dia tidak boleh di tindas! Perjalanan hidup sudah menindasnya habis-habisan, sekarang tidak ada yang boleh melakukan itu lagi padanya!


Amy menghela nafasnya, menatap Heinry dengan tatapan kesal dan tajam membuat Heinry jadi kebingungan karena tiba-tiba saja Amy mengubah mimik wajahnya.


"Memang apa yang aku ambil? Sper** mu yang cuma seiprit itu? Kalau di bandingkan dengan selaput perawanku, apa kau bisa mengembalikannya? Sekarang kembalikan keperawanan ku, baru aku akan kembalikan sper** mu!"


Heinry terdiam sebentar, kenapa sekarang dia jadi kehabisan kata-kata? Kenapa juga tiba-tiba Amy membahas masalah perawan padahal awalnya Heinry juga tidak menginginkan keperawanan Amy kan?


"Sekarang lebih baik kau pergi saja! Jangan membicarakan masalah itu lagi, atau kalau masih saja tidak berhenti, aku akan datang ke pernikahan mu dengan kekasih mu. Aku akan mengatakan kepada semua orang bahwa perut besar ku ada anak kita, anak yang kita buat dengan sepenuh hati dan penuh cinta!"


Bersambung.