One Night Special

One Night Special
Jangan Salah Sangka!



Pft!


Heinry benar-benar tidak bisa menahan tawanya mengingat ucapan Amy yang mengatakan tentang partner untuk menciptakan anak!


Bagaimanapun dia sudah menahan diri jadi kalaupun pada akhirnya dia tetap tertawa, itu artinya dia memang sudah tidak bisa menahan lagi kan?


Amy menatap Heinry yang sejak tadi terus menahan tawanya sembari mengemudi. Memang apanya yang lucu? Amy jelas ingat setiap kata yang keluar dari mulutnya tidak ada yang lucu.


"Apa kau sedang teringat dengan wanita cantik tadi? Perasaan dia adalah gadis yang cantik dan elegan meskipun mulutnya sangat menyebalkan," Ujar Amy yang justru ditanggapi dengan kekehan oleh Heinry.


Duh! Ampun!


Sebenarnya apa yang membuat Heinry tertawa seperti itu?


Amy tersenyum miring,"Apa kau teringat saat kau sedang mandi dan membiarkan kemoceng berbulu mu? Apa pernah membatin seperti ini, kok bentuknya begini ya? Kok benda mungil itu bisa membuat wanita hamil ya? Begitu?"


Heinry langsung kehilangan senyum di wajahnya, apa katanya tadi? Benda mungil? mungil? Kenapa Amy yang beberapa saat lalu begitu manis tiba-tiba menjadi Amy yang begitu menyebalkan?


Heinry menghela nafasnya, tidak! Dia tidak boleh menunjukkan emosi apapun karena saat ini dia tengah dalam tahap untuk mendapatkan hati Amy.


"Yah, maafkan lah milikku yang mungil itu. Tapi seandainya dia bangun ukuranya bisa menjadi dua kali lipat loh, kalau kau penasaran kau boleh melihat dan membuktikannya sendiri. Kau pasti ingat benar seberapa besar ukurannya karena dulu kau juga yang memasukkan kemoceng ku ke lubangnya kan?" Ucap Heinry yang terlihat santai lalu tersenyum lebar seolah dia tidak perlu membuktikan apapun karena Amy bukan hanya bukti, tapi saksinya.


Ugh!


Sialan!


Amy tersenyum dengan tatapan kesal, sebenarnya Amy tidak tahu apakah milik pria lain lebih besar atau lebih kecil dibanding milik Heinry, mau bagaimanapun sejak awal dia kan tidak memilki minat untuk menikah dan memiliki hubungan khusus jadi dia tidak sempat menyeleksi ukuran kemoceng pria.


Beberapa saat kemudian.


"Kenapa kita harus ke pusat belanja? Kau senggang sekali sampai membuang waktu seperti?" Tanya Amy sebal.


Heinry menatap Amy,"Tidak senggang sih, aku cuma ingin membelikan pakaian untuk putriku tersayang! Kau pasti tahu kan kalau pakaian musim panas yang kau bawa untuk putri kita cuma sedikit?"


Aduh duh!


Kenapa sih harus terus menggunakan kata putri kita, saat mengatakannya seperti ditekan membuat Amy bising dan sebal.


"Tolong bekerja samalah dengan baik ya? Pilihkan pakaian untuk putri kita, dan pastikan kalau putri kita juga akan nyaman menggunakannya."


Alamak......


Amy benar-benar tidak tahan lagi mendengarkan kata putri kita sampai berkali-kali dari mulut Heinry. Entah mengapa itu seperti membuat Amy terus mengingat bahwa dia membuat Jeje dengan Heinry seorang.


"Terserah kau saja, yang mulai Heinry. Tapi tolong jangan salahkan aku yang adalah seorang Ibu, wanita yang sudah memilki anak rata-rata akan menutup mata dan tidak perduli berapa banyak uang yang akan dibayarkan oleh suami!" Ucap Amy menggebu-gebu tanpa dia sadari apa yang dia katakan barusan.


"Jadi kau sudah menganggap aku suami ya?"


Eh!


Amy membulatkan matanya karena terkejut dengan apa yang dia katakan, duh ya ampun! Bagaimana ini, bukan itu maksudnya!


"Matamu yang sebelah mana yang melihatku menganggapmu sebagai suami? Mimpi saja!"


Setelah mereka sampai di dalam pusat belanja, Amy sibuk memilih semua pakaian yang akan dia berikan kepada Jeje.


Entah sudah berapa lembar baju yang dia pilih, begitu seriusnya Amy hingga tidak memperdulikan Heinry yang sedang berjuang melawan wanita genit yang tengah menggodanya.


"Ngomong-ngomong anda hanya berdiri disana apakah tidak membutuhkan bantuan?" Wanita itu bertanya dengan mimik wajahnya yang terlihat menggoda Heinry.


Heinry hanya menghela nafasnya, dia benar-benar tidak merespon ucapan wanita itu dan menatap Amy yang sedang memilih baju. Tapi saat mata Amy tidak sengaja melihat kearahnya, Heinry dengan segera menatap wanita yang sejak tadi terus. bertanya. Heinry tersenyum manis mencoba untuk membuat Amy melihat kearahnya dan berharap Amy memliki sedikit saja perasaan cemburu.


"Cih! Apa-apaan itu? kenapa dia tersenyum seperi maniak gila?" Gumam Amy yang justru merasa kesal melihat senyum Heinry yang begitu aneh dan terkesan di paksakan.


"Seharusnya dia tersenyum lebih ramah dan hangat lagi, kalau seperti itu mana mungkin ada wanita yang akan tertarik?" Gumam Amy lagi yang rasanya ingin sekali mengajari Heinry cara tersenyum dengan benar agar wanita di hadapannya tidak kabur.


"Anda berada ditempat ini apa sedang memilihkan baju untuk hadiah keponakan?" Tanya wanita itu mencoba untuk lebih ramah lagi karena harunya benar-benar bahagia saat Heinry tersenyum kepadanya.


"Tidak, aku sedang membelikan baju untuk putriku,"Ujar Heinry masih saja mencoba untuk tersenyum.


Wanita itu terlihat agak terkejut, tapi dia mencoba kembali untuk lebih ramah lagi.


"Putri anda? Kok tidak di ajak? Oh, apa anda datang dengan istri anda?" Tanyanya lagi.


"Aku belum menikah!" Ucap Heinry dengan suara yang cukup jelas sehingga Amy bisa mendengar dan menatapnya.


Kenapa dia bicara dengan nada yang kuat begitu? Dia sedang ingin menggoda perempuan apa mengusir perempuan? Batin Amy bingung.


Wanita itu kembali tersenyum, dia benar-benar terlihat lega membuat Amy membatin di dalam hati, Apakah dia segitu butanya hanya karena tampang Heinry yang super tampan? Kalaupun iya apakah dia tidak sadar bahwa para pria tampan adalah racun mematikan? Kalau pria yang biasa saja cenderung jelek suka sekali bermain wanita, apa kabar pria tampan?


"Jadi, anda datang dengan siapa?" Tanya wanita itu lagi.


Heinry kembali tersenyum, lalu menunjuk Amy dan menatapnya,"Datang bersama dia!"


Wanita itu melihat ke arah Heinry menunjuk dan tersenyum, "Anda termasuk orang yang tidak membedakan status ya? Anda sampai meminta pembantu rumah tangga anda dan menunggunya seperti ini, anda pasti adalah orang yang baik!"


Hah?


Bajingan!


Amy menggigit bibir bawahnya, sungguh dia kesal sekali!


Kenapa? Kenapa lagi-lagi orang yang mendekati Heinry selalu saja minta untuk ditendang sampai ke Uranus?


Amy meletakkan baju yang sejak tadi dia pegang, menatap wanita itu dengan tatapan kesal lalu segera berjalan kearahnya.


"Matamu tertutup bulu mata palsu ya sampai menganggapku pembantu rumah tangga? Dari pada menilai penampilanku seperti itu, bagaimana kalau kau lihat wajahmu yang seperti topeng monyet!"


Wanita itu mengkerut takut, dia mencoba untuk berlindung di belakang tubuh Heinry tapi secepat itu pula Amy menyingkirkan Heinry dan mereka kembali berhadapan muka.


"Kau mungkin mengira aku mudah ditindas sampai tidak menjaga volume bicaramu, tapi kau sungguh salah!," Kesal Amy.


"Bagian dada mu yang jelas sudah melorot, besarnya juga tidak sama! kulit tubuh dan wajah yang berbeda warna, rambut yang ditambah rambut palsu, bulu mata palsu, lipstik tebal, bokong mu yang menggunakan tambalan agar terlihat montok, gigimu yang masih tertinggal sisa cabai, kau pikir kau lebih baik dari pada aku?!"


Bersambung.