
"Aku tidak berniat seperti itu, sungguh!, Walaupun memang benar kenyataannya kalian tinggal berdua dan Ibumu kesulitan, tapi aku yakin Ibumu tetap bahagia karena ada kau di sisinya. Aku, memiliki masalah pada ingatanku, dan akhirnya tanpa sengaja melupakanmu dan Ibumu." Ucap Heinry kepada Jeje.
Rasanya dia ingin mengatakan jika yang terjadi adalah sesuai dengan apa yang diinginkan Amy, dan juga Tuhan yang melancarkan rencana Amy dengan mendatangkan sebuah musibah yang membuatnya harus melupakan anaknya dan juga Amy. Tapi bagaimana bisa dia mengatakan kepada anak kecil seperti Jeje? Walaupun bisa saja Heinry membela diri dan menyalahkan Amy sepenuhnya, tetap saja dia juga memiliki kesalahan kan?
"Kalau begitu, apakah kau berniat terus menjadi Ayahku atau biarkan Ibuku menemukan seseorang untuk menggantikanmu?" Jeje bertanya dengan sorot matanya yang judes tapi wajah seorang anak kecil yang jelas diwajahnya benar-benar membuat Jeje terlihat sangat imut sesadis apapun yang dia katakan.
Heinry tersenyum menatap Jeje, dia mengusap kepala Jeje lembut.
"Memangnya kenapa aku harus berhenti menjadi Ayahmu? lagi pula mana mungkin itu terjadi? Memangnya kau pikir mudah memiliki wajah seperti yang kita miliki ini? Wajah kita ini limited edition. Ibumu benar-benar hebat dalam mencari partner membuat anak!" Heinry tersenyum sendiri, sungguh dia bangga sekali karena nyatanya dia adalah Ayah kandung dari Jeceline.
Bukan hanya wajah mereka yang delapan puluh persen mirip, tapi alergi mereka juga sama.
Heinry benar-benar tidak menyangka kalau memiliki anak ternyata sebahagia itu!
"Sepertinya Ibuku tidak menyukai mu, artinya wajah ini bukanlah hal yang membanggakan sampai Ibuku tidak suka."
Ugh!
Heinry benar-benar tidak tahu bagaimana dia akan menjawab ucapan Jeje barusan.
Kenapa Amy tidak menyukainya mana Heinry tahu? Padahal hampir semua gadis menyukainya, tapi kenapa tidak dengan Amy? Sorot matanya saat berbicara dengannya juga sama sekali tidak terlihat memiliki perasaan sedikitpun.
Amy memang biasa saja, tapi kenapa tidak disukai oleh Amy seperti aib yang memalukan bagi Heinry?
"Mungkin Ibumu menyukai pria yang seperti paman Jhonmu.'' Ujar Heinry pasrah tak tahu harus mengatakan apa lagi.
Jeje membuang nafasnya.
"Tidak mungkin!" Ucap Jeje membuat Heinry tersentak kaget.
"Ibuku bilang syarat untuk menjadi Ayahku alias pasangan Ibuku adalah, pintar, tampan, memiliki tubuh yang bagus, kulitnya tidak boleh terlalu putih, Ibuku juga bilang kalau dia tidak menyukai orang dengan bokong yang besar!"
Heh?
Heinry menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Apakah pamanmu seburuk itu dimatamu?" Tanya Heinry yang awaknya ragu karena takut Jeje akan kesal dan tersinggung.
"Apakah paman Jhon jauh lebih buruk dari pada itu?" Tanya Jeje dengan mimik wajahnya yang terlihat polos.
Heinry tersenyum bahagia.
Bagus!, Begini baru titisan Heinry si paling tampan dan paling keren!
Amy terdiam, dia tak jadi mendekat kepada Heinry dan Jeje setelah mendengar mereka berdua mengobrol. Amy tersadar jika selama ini dia telah merampas hak Jeje sebagai seorang anak, perasaan takutnya yang berlebihan telah membuat putrinya memendam perasaan rindu kepada Ayahnya.
Beberapa saat kemudian.
"Maaf Amy, aku janji ini adalah yang pertama dan terakhir aku mengirimkan bunga kepada kalian berdua," Ucap Heinry kepada Amy.
Mereka berdua kini duduk di teras rumah sementara Jeje tengah menemani nenek buyutnya di dalam kamar.
Amy menghela nafasnya, sebenarnya dia masih tidak rela akan mengambil keputusan itu, tapi demi Jeje dia akan mencoba belajar untuk menerima dan membiarkan putrinya mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.
"Akhir pekan besok, Sabtu dan Minggu kau bisa membawa Jeje kerumahmu."
Kemasukan jin, atau apa?, Batin Heinry.
"Serius?" Tanya Heinry.
"Hem....."
Heinry benar-benar tersenyum lebar, bagaimanapun bisa membawa Jeje pulang ke rumah mengenakan kepada kedua orang tuanya juga adalah hal yang sangat besar.
"Kau mau ikut?"
Amy menaikkan satu sisi bibirnya, menatap Heinry dengan tatapan sebal.
"Kenapa aku harus ikut denganmu? Aku memang Ibunya Jeje, tapi aku kan tidak perlu sebegitu dekat dengan keluargamu. Toh aku juga harus datang pada kencan buta pertamaku."
Eh?
"Kencan buta?" Tanya Heinry yang tanpa sadar dia menunjukan ekspresi tidak setuju.
"Iya, kenapa? Apa kau sedang berpikir bahwa orang dengan tampang biasa saja sepertiku tidak boleh menjalin hubungan dengan pria?" Tanya Amy dengan mimik wajahnya yang terlihat kesal.
Bukan!
Sungguh Heinry tidak ingin mengatakan apapun tentang wajah Amy, dia hanya tidak suka kalau Amy pergi untuk kencan buta.
"Aku ikut!, maksudnya aku akan ikut bersama Jeje!"
Amy terperangah tidak percaya akan mendengar ucapan tidak masuk akal dari Heinry.
"Apa itu tidak aneh? Bagaimana bisa aku pergi kencan buta membawa anak dan Ayah dari anakku? Walaupun aku memang tidak ingin menikah, tapi setidaknya aku harus menjalin hubungan cinta sebelum mati dengan status jomblo!" Kesal Amy.
Heinry benar-benar tidak tenang setelah mendengar itu, entah kenapa dia jadi tidak karuan begini padahal dia belum lama bertemu dengan Amy, ditambah Amy juga tidak terlalu menarik tapi kenapa dia seolah tidak rela?
"Kalau begitu, setidaknya kau harus mencari lebih atau di atasku!, misalnya lebih tampan, lebih kaya, lebih tinggi, dan pkoknya lebih segalanya!"
Amy menggelengkan kepala keheranan.
"Yang ada di atasmu, tentu saja seleranya bukan aku!, tolonglah jangan banyak tingkah. Aku harus mati dengan bangga karena telah menjalin hubungan cinta beberapa kali, dan tahu rasanya kemoceng berbulu ukuran mini, ukuran sedang, ukuran jumbo, yang belok ke kanan, belok ke kiri, yang melengkung ke atas, aku harus mencobanya dulu!" Amy berucap dengan mimik wajahnya yang terlihat menggebu-gebu membuat Heinry menjadi semakin tidak tenang.
Ukuran besar, sedang, kecil, belok kanan, belok kiri, melengkung ke atas, apa tidak ingin melengkung ke bawah juga? Tidak! Pokoknya dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Dengar, aku mengatakan ini demi masa depan putriku!" Heinry menatap Amy dengan tatapan serius.
"Jangan lakukan semua itu karena anak kita pasti akan sangat malu memiliki Ibu dengan sifat aneh seperti itu. Kalaupun kau tidak laku juga, biarkan aku yang akan menjadi pasanganmu. Tidak usah pikirkan besar kecil atau sedang, belok kanan belok kiri melengkung kesemua penjuru arah. Aku, akan mengorbankan diri untuk menjadi pasanganmu."
Sialan!
Apanya yang tidak laku? Memangnya dia barang?! Mengorbankan diri apa lagi yang dia maksud? Apakah menjadi pasangan seorang Amy adalah hal yang begitu menyeramkan? Sial! dia benar-benar tidak bisa menerima apa yang di katakan Heinry.
"Maaf sekali, aku tidak perlu kau berkorban. Walaupun wajahku biasa saja, tapi lubangku rasanya luar biasa. Kau tahu kan wanita jaman sekarang menggoda pria bukan lagi dengan wajah, tapi cukup dengan tidak tahu malu dan lubang yang luar biasa." Amy tersenyum dengan ekspresi wajahnya yang menggoda membuat Heinry merinding.
"Dasar! Mana boleh kau seperti itu!"
Bersambung.