One Night Special

One Night Special
Kami Bahagia!



Amy tersenyum menatap Heinry yang juga tengah menatapnya. Pagi hari ini, rasanya terasa sangat cerah dan membahagiakan sampai-sampai Amy tidak ingin kembali ke negara asalnya kalau saja Jeje ikut dengannya.


Untuk pertama kalinya, Amy benar-benar ingin hidup lebih lama dengan alasan selain Jeje. Mungkin, hatinya benar-benar sudah jatuh cinta kepada Heinry tanpa dia sadari. Sekarang, sudah timbul keinginan untuk memiliki Heinry seorang diri, dan dia tidak akan membiarkan siapapun masuk ke dalam hubungan pernikahan mereka berdua. Apapun yang terjadi, Amy akan sama-sama berjuang dengan Heinry mempertahankan pernikahan mereka tidak peduli sesulit apapun jalan yang akan mereka tempuh.


"Ini adalah hari terakhir kita di sini, loh. Apa ada hal yang penting atau sesuatu yang kau inginkan? Kalaupun ingin pergi ke suatu tempat, aku juga akan menemanimu!" Ucap Heinry lalu tersenyum kepada Amy.


"Tidak mau! Aku tidak akan pergi kemanapun, hari ini aku benar-benar akan berada di dalam kamar saja! Tentunya, aku akan menghabiskan waktu dengan sangat baik dan bersemangat!" Ucap Amy dengan tatapan menggebu-gebu, namun karena terdengar sangat menggoda, ya mau tidak mau Heinry jadi salah paham.


"Kalau begitu, aku juga akan melakukan hal yang sama! Aku akan menemanimu seharian, tidak usah keluar sama sekali, melakukan apa yang bisa kita lakukan bersama! Terutama, sesuatu yang panas!" Heinry segera mendekati Amy, meraih pinggulnya dan membuat tubuh mereka saling menempel sehingga Heinry bisa langsung menyambar bibir Amy.


Seharian itu, Henry dan juga Amy benar-benar menghabiskan hari dengan perasaan bahagia satu sama lain. Mereka sudah tidak kenal lagi yang namanya saling adu tenaga dan kehebatan, mereka juga mengakui bahwa kenyataannya pengalaman mereka dalam sebuah hubungan bisa dibilang nol besar.


Waktu untuk kembali ke negara asal tiba, Heinry dan Amy kembali dengan kebahagiaan yang mereka rasakan.


"Selamat datang!" ucap kedua orang tua Henry, dan juga Jeje yang sudah menyambut mereka begitu mereka sampai dirumah.


Amy ini langsung saja bergegas berjalan setengah berlari menghampiri putrinya, memeluk putrinya erat-erat karena perasaan rindu yang sudah dia tahan selama 2 minggu penuh.


Heinry, pria itu langsung memeluk ayahnya dan berbisik,"Aku benar-benar berhutang kepada ayah, jadi sebagai gantinya Aku tidak akan mengatakan kepada Ibu bahwa, ayah memiliki hobi membaca novel romantis yang erotis."


Ayahnya Heinry terdiam menahan kesal, bisa tidak sih jangan begitu terus terang seperti itu saat berbicara? Kalau sampai ucapan Heinry barusan didengar oleh ibunya, bisa-bisa hancur dunia perumah tanggaan yang hangat.


"Sialan! tutup mulutmu rapat-rapat, aku pun bisa mengatakan kepada istrimu bahwa selama ini yang kau ucapkan, kata-kata romantis itu adalah aku yang merangkainya."


Heinry kehilangan kata-kata, Padahal dia tidak ingin kalau Ayahnya terus menyombongkan diri di hadapannya karena semua kelancaran yang terjadi untuk urusan bulan madu bisa dibilang juga karena Ayahnya.


Ayahnya Heinry memukul punggung putranya beberapa kali dan tersenyum dengan bangga.


Hari itu menjadi hari yang membahagiakan untuk Heinry sekeluarga. Mereka melihat foto-foto Heinry dan juga Amy bersama, dan mereka semua benar-benar ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh sepasang manusia itu.


Setelah hari itu, hari demi hari semua berjalan seperti yang Heinry dan Amy inginkan. Henry yang tidak pernah lupa memberikan kabar setiap Apa yang dia lakukan ketika berada di kantor, Amy yang menyibukkan diri dengan monor-mandir menjemput dan mengantar putrinya bersekolah. Ibunya Heinry beberapa kali datang ke pertemuan para sosialita, Tapi tentu saja dia memilih-milih terlebih dahulu dan tidak akan mentolelir jika ada orang yang mengungkit kehidupan anak dan menantunya.


Seiring berjalannya waktu, orang-orang yang tadinya melihat Amy kini berubah meski tak semuanya cerita tentang Amy memang baik. Amy sangat terkenal dengan wajah natural, bahkan senyum Amy juga dinilai sangat manis oleh orang-orang yang melihat Amy secara langsung.


Mungkin, di dunia ini juga banyak orang yang seperti Heinry. Cara melihat wanita yang cantik, dengan penilaiannya sendiri. Bagi Heinry, cantik itu adalah tentang Amy, segalanya yang ada pada Amy dia menyukainya. Sungguh, seperti itu pun sudah lebih dari pada cukup kan?


Satu bulan kemudian.


"Ini sungguhan? Serius?" Tanya Heinry saat Amy menyerahkan alat uji kehamilan yang menunjukkan dua garis disana.


Heinry masih terhangat tak percaya, dia menatap istrinya lalu kembali menatap alat uji kehamilan dengan salat matanya yang masih bingung dan terkejut.


"Jadi, Kau sungguh sedang hamil lagi? ini tidak sedang bohongan kan?" Tanya Heinry menatap istrinya penuh tanya.


Amy memaksakan senyumnya, lalu mengangguk.


Tadinya Heinry ingin benar-benar bersorak bahagia, Tapi saat melihat ekspresi Amy yang seperti tidak bahagia, Heinry mengurungkan niatnya dan fokus kepada istrinya lebih dulu.


"Ada apa? Apa kau terbebani dengan kehamilan ini?" tanya Heinry yang merasa khawatir.


Amy membuang nafasnya, sebenarnya Kalau boleh jujur dia benar-benar merasa takut. Dia masih mengingat dengan jelas Bagaimana sakitnya saat dia akan melahirkan Jeje dulu. Dia juga masih merasa agak ngilu, saat pertama kali melihat putrinya yang masih bayi. Tubuhnya sangat kecil, merah bahkan hampir kebiruan.


Kehamilan adalah hal yang membahagiakan, tapi bagaimana jika apa yang terjadi kepada anak pertamanya akan terjadi juga kepada anak keduanya?


Heinry meraih tangan Amy, selalu menggenggamnya.


"Apa kau khawatirkan sesuatu?"


Amy terdiam sebentar,"Kenapa pakai ditanya segala? tentu saja iya! kau ini benar-benar suami yang tidak peka," Gerutu Amy.


Heinry menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bagaimana ya? Walaupun memang Amy adalah istrinya, dan dia juga mencintai Amy, tetap saja mereka adalah dua orang berbeda yang memiliki kepala masing-masing, pemikiran masing-masing, dan juga hati masing-masing. Tentu saja untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh istrinya Heinry perlu bertanya bukan?


"Jadi, kalau boleh tahu, apa yang membuatmu khawatir?"


Amy membuang nafas sebalnya lalu berkata,"Aku benar-benar iri pada pria! Bagaimana bisa pria hanya tahu membuat, tapi menyerahkan kehamilan, dan melahirkan kepada wanita?"